Hujan sudah reda ketika Surudi memundurkan Hino ke bahu jalan yang tanahnya masih basah, tak jauh dari sebuah warung yang lampunya padam. Ia mematikan mesin. Getar itu mati perlahan, seperti napas yang enggan berhenti, dan tinggal bunyi solar menetes dari selang bocor yang belum sempat ia tambal. Bau minyak dan tanah lembab masuk lewat jendela yang setengah turun.
Topan duduk di sebelahnya, memandang keluar. Sejak sore anak itu diam. Bukan diam canggung yang dulu, ketika ia masih banyak tanya soal rem angin dan tanjakan. Ini diam yang lain — yang menekan, yang menahan sesuatu di dalam.
"Kamu belum makan," kata Surudi. Ia menyodorkan bungkus nasi yang tinggal separuh. "Ambil."
Topan menggeleng. "Nanti, Pak."
Surudi tak memaksa. Ia mengunyah pelan, matanya menyapu spion, kebiasaan yang tak pernah bisa ia matikan. Di jalan sepi ini pun ia mengawasi. Dua puluh lima tahun mengajarinya bahwa yang menyusul dari belakang tak selalu truk.
"Waktu di warung tadi," kata Surudi akhirnya, "kamu pucat waktu orang Codet lewat. Bukan takut biasa."
Topan tak menjawab. Jarinya menggaruk lutut celananya yang berlumpur.
"Aku bukan mau ngorek," lanjut Surudi. "Cuma, kalau aku bawa orang di kabin ini, aku mesti tahu isi kepalanya. Bukan buat curiga. Buat selamat. Yang aku tak paham, di jalan begini, bisa jadi yang nusuk aku dari samping."
Ia sengaja tak menyebut malam itu — malam ketika ia memergoki Topan bicara diam-diam dengan salah satu orang Codet, dan sejak itu ada retak tipis di antara mereka yang belum sempat ditambal siapa pun.
Topan menarik napas panjang. Dadanya naik, lalu turun berat.
"Aku punya kakak, Pak." Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh tetes solar. "Namanya Sopyan. Sopir juga, kayak Bapak. Dulu bawa fuso, angkut apa saja dari Menggala ke Kayuagung."
Surudi berhenti mengunyah.
"Dua tahun lalu dia lewat sini," kata Topan. "Trip biasa. Terus tak pulang. Ibu nunggu di depan pintu tiga hari. Aku yang telepon-telepon posko, bengkel, warung. Tak ada yang lihat. Atau... ada yang lihat, tapi tak mau ngomong." Ia menoleh, dan mata anak itu basah di tepinya, tapi tak jatuh. "Yang terakhir jumpa dia bilang, Sopyan nolak setor. Katanya jalan ini milik semua sopir, bukan milik orang bercodet. Habis itu hilang. Truknya, orangnya, semuanya. Kayak ditelan kabut."
Surudi meletakkan bungkus nasi ke dasbor. Ada sesuatu yang mengendap di ulu hatinya, dingin.
"Jadi kamu ke sini bukan cuma cari nafkah," katanya.
"Aku cari dia, Pak." Suara Topan retak sedikit, lalu ia menegakkan lehernya, memaksanya kokoh. "Aku pikir, kalau aku ada di jalan yang sama, aku dengar yang dia dengar, lihat yang dia lihat, mungkin aku ketemu jejaknya. Sopir tua kenal sopir tua. Orang yang tak mau ngomong sama polisi, kadang mau ngomong sama kenek muda yang bawain kopi."
"Dan orang Codet yang kamu ajak bicara diam-diam waktu itu—"
"Aku tanya soal kakak," potong Topan cepat. Ia menatap Surudi lurus, tak mengelak lagi seperti dulu. "Sumpah, Pak. Bukan jual Bapak. Aku tunjukin foto Sopyan. Aku bilang aku adiknya. Orang itu ketawa. Katanya, 'Banyak yang hilang di Tikungan Seribu. Jangan nyari, nanti kamu ikut hilang.' Habis itu dia pergi."
Kabin sunyi. Di luar, seekor jangkrik mulai berbunyi dari semak, satu-satunya suara yang tak takut malam.
Surudi menatap anak muda itu lama. Ia teringat wajah Topan di hari pertama naik kabin — canggung, banyak tanya, tangannya belum tahu ke mana kalau tak pegang apa-apa. Kini ia paham dari mana datangnya nekat itu. Bukan bodoh. Bukan cari uang semata. Anak ini menyeret dirinya ke rahang yang sama yang menelan kakaknya, dengan harapan tipis menemukan tulang.
"Kamu tahu," kata Surudi pelan, "kamu bisa mati, cari begitu."
"Aku tahu, Pak."
"Kakakmu barangkali—" Surudi menahan kalimat itu. Ia tak sanggup mengucap yang pahit ke anak yang masih menyimpan pintu terbuka di dalam dadanya.
"Aku tahu itu juga," kata Topan, lirih. "Tapi selama belum ada yang bilang di mana, di kepalaku dia masih di suatu tempat. Ibu masih nunggu di depan pintu. Aku tak bisa pulang bawa tangan kosong dan tak bisa jawab apa-apa."
Surudi mengangguk pelan. Ia memandang jalan di depan, yang menghilang di kegelapan menuju utara, menuju tikungan-tikungan yang menelan orang tanpa jejak. Selama ini ia mengira taruhannya cuma miliknya sendiri — truk, leasing, anak bungsunya yang mau masuk SMA, Tuminah yang menyembunyikan ketakutan di ujung telepon. Ternyata di sampingnya ada orang lain dengan bebannya sendiri, sama beratnya, digendong diam-diam sepanjang rute ini.
"Dengar," kata Surudi. Ia menaruh tangan di bahu Topan, tangan yang keras dan bau solar, tangan yang dua puluh lima tahun memegang kemudi. "Mulai malam ini, kalau kamu cari kakakmu, kamu tak cari sendirian. Aku kenal jalan ini lebih lama dari Codet mana pun. Aku tahu warung yang mana yang tuannya masih punya hati, sopir tua yang mana yang masih bisa dipercaya. Kita cari pelan-pelan, hati-hati. Tapi kamu jangan pernah lagi bicara sama orang mereka tanpa aku tahu. Sekali salah langkah, kamu bukan cuma hilang buat ibumu. Kamu hilang buat aku."
Topan menoleh cepat, seperti tak percaya pada telinganya. Bibirnya bergerak, tapi tak ada kata yang keluar. Ia mengangguk saja, keras-keras, dan mengusap wajahnya dengan lengan.
"Makan sekarang," kata Surudi, mendorong bungkus nasi itu kembali. "Sopir lapar bikin keputusan bodoh. Kita masih jauh dari tempat berhenti."
Kali ini Topan menerimanya. Ia makan dengan tangan gemetar, tapi ia makan. Surudi menyalakan kembali mesin, dan getar tua Hino mengisi kabin, menutup keheningan yang baru saja mereka bagi. Di kaca depan, kabut mulai turun tipis dari arah utara, seperti biasa, seperti tak peduli pada dua orang yang kini terikat oleh hal yang lebih kuat dari surat jalan mana pun.