Sore itu langit di atas Kayuagung berwarna tembaga, campuran debu jalan dan asap pembakaran ladang yang entah kenapa selalu naik menjelang senja. Surudi memarkir Hino-nya agak jauh dari gudang transit PO Bahari, di balik deretan kontainer bekas yang sudah berkarat, karena tempat parkir yang biasa penuh oleh dua truk fuso yang baru datang. Ia turun membawa map berisi surat jalan dan bon solar, hendak menyerahkannya langsung ke Herman sebelum jam kantor tutup — soal pembayaran sisa ongkos yang sudah ia tunggu tiga hari.
Ia belum sampai ke pintu kantor ketika suara Herman terdengar dari balik tumpukan drum kosong di samping gudang, agak jauh dari jangkauan lampu neon yang menyala di teras. Nada bicaranya berbeda dari yang biasa Surudi dengar — tidak ada basa-basi khas koordinator lapangan yang selalu menepuk bahu sopir dan menyebut mereka "juragan". Ini nada rendah, cepat, seperti orang yang sedang menghitung sesuatu yang tak ingin didengar orang lain.
Surudi berhenti. Naluri dua puluh lima tahun di jalan mengajarinya satu hal yang tak pernah meleset: kalau suara berubah pelan, ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Ia menggeser badan ke balik kontainer, bukan karena berniat mengintai, melainkan karena kaki lebih dulu bergerak sebelum kepalanya sempat memutuskan. Dari celah antara dua drum ia melihat Herman berdiri membelakangi gudang, menghadap seorang lelaki bertubuh tegap dengan tato memanjang di lengan kanan. Wajah itu ia kenal. Gimbal — orang yang pernah datang menemuinya langsung membawa pesan Bang Codet, dulu, di pelataran dekat Sitinjau.
"Jangan kayak kemarin," kata Gimbal, suaranya berat dan datar. "Kalau jadwal berubah, kabari dulu. Bang Codet nggak suka kalau ada muatan lewat tanpa aba-aba."
"Ini bukan salah saya," jawab Herman, agak gelagapan. "Yang atur jadwal itu kantor pusat. Saya cuma jalankan."
"Terserah siapa yang atur. Yang penting selisihnya jangan dikurangin lagi." Gimbal mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya — bukan uang tunai yang menyolok, melainkan amplop cokelat tebal yang langsung berpindah tangan begitu cepat hingga siapa pun yang tak memperhatikan akan mengira itu sekadar salaman. "Ini jatah bulan ini. Sama seperti biasa."
Herman menerimanya, menyelipkannya ke saku dalam jaket kerja PO Bahari yang masih ia kenakan, jaket dengan logo yang sama yang tergantung di kabin truk Surudi sebagai stiker rute. Tangannya sedikit gemetar saat melipat amplop itu lebih kecil, seolah ia sendiri tak nyaman menyimpannya di tempat yang mudah terlihat.
"Soal Surudi," lanjut Gimbal, dan nama itu membuat dada Surudi mengeras seperti ditinju. "Dia masih jalan tanpa setor. Sampai kapan kantor kalian mau tutup mata?"
"Dia sopir bagus," Herman menjawab, dan untuk sesaat suaranya terdengar seperti orang yang sungguh-sungguh membela. "Trip dobelnya selalu tepat waktu. Kalau kami tarik dari rute, siapa yang gantiin?"
"Bukan urusan saya siapa yang gantiin. Urusan saya, jalur ini punya aturan main. Kalau kantor kalian mau tetap dapat jatah aman, ya harus ada yang dikorbankan sekali-sekali. Biar keliatan kalian juga main serius."
Kalimat itu menggantung di udara yang bau solar dan karat. Surudi menahan napas di balik drum, merasakan sesuatu yang dingin menjalar dari tengkuk ke ujung jarinya — bukan takut ketahuan, melainkan sesuatu yang lebih dalam: kesadaran bahwa kata "dikorbankan" barusan bisa saja berarti dirinya sendiri, dan orang yang mengucapkannya berdiri di kantor yang selama ini ia percaya sebagai atap yang melindunginya.
Herman tidak membantah lebih jauh. Ia hanya mengangguk, menyerahkan sebuah map tipis — mungkin salinan jadwal trip, mungkin sesuatu yang lain, Surudi tak sempat melihat isinya — lalu keduanya berpisah tanpa jabat tangan, seperti dua orang yang sengaja tak ingin ada saksi mengingat mereka pernah berdiri berdekatan.
Surudi menunggu sampai suara motor Gimbal benar-benar hilang ditelan jalan sebelum ia melangkah keluar dari balik kontainer, pura-pura baru datang dari arah parkir. Herman menyambutnya dengan senyum biasa, senyum yang selama ini selalu membuat Surudi merasa ada satu orang di kantor itu yang benar-benar berpihak padanya.
"Pak Surudi! Kirain besok baru mampir." Herman mengambil map dari tangan Surudi, membukanya sekilas. "Ongkosnya udah beres, tinggal saya proses ke kasir."
"Tadi ada tamu?" Surudi bertanya, nadanya sengaja dibuat datar, seperti orang yang sekadar basa-basi.
Herman berhenti sepersekian detik — cukup singkat hingga orang lain mungkin tak menyadarinya, tapi cukup lama bagi Surudi yang sudah dua puluh lima tahun membaca perubahan sekecil apa pun di wajah orang yang duduk di sebelahnya dalam kabin sempit.
"Oh, itu... orang lapangan aja. Ngurus soal keamanan gudang." Herman mengibaskan tangan, seolah membuang topik itu ke udara. "Sampeyan tahu sendiri, di sini kalau nggak jaga hubungan baik sama orang-orang lokal, gudang bisa kena macam-macam. Bapak fokus aja ke jalan, urusan begituan biar saya yang atur."
Kata-kata itu meluncur mulus, terlalu mulus, seperti kalimat yang sudah lama disiapkan untuk pertanyaan yang mungkin datang kapan saja. Surudi mengangguk saja, menerima map balasannya, lalu berjalan kembali ke Hino-nya dengan langkah yang sengaja dibuat biasa.
Di dalam kabin, sebelum menyalakan mesin, ia duduk diam beberapa saat, tangan masih di atas kemudi yang dingin. Ia memikirkan amplop cokelat itu, kata "jatah bulan ini", dan kalimat tentang dirinya yang mungkin harus "dikorbankan sekali-sekali" — semua itu keluar dari mulut orang yang membawa nama Bang Codet, di depan kantor yang selama ini memberinya ongkos dobel dan janji-janji yang membuatnya rela menembus rute paling berbahaya di lintas Sumatra.
Selama ini ia mengira musuhnya jelas: Codet di satu sisi, PO Bahari di sisi lain, dan dirinya berdiri di tengah memilih jalan mana yang lebih bisa dipercaya. Tapi kalau Herman bisa berdiri di dua sisi sekaligus, menerima amplop dari satu tangan sambil tersenyum dari tangan yang lain, maka batas itu tak sejelas yang ia kira.
Ia menyalakan mesin. Suara diesel yang berat menggantikan sunyi di kepalanya, tapi tidak menghapus satu pertanyaan yang kini menempel seperti debu di kaca depan: kalau kantor yang menggajinya diam-diam bersekutu dengan orang yang mengejarnya, lalu ke mana sebenarnya ia harus membawa truk ini pulang dengan selamat?