Jembatan timbang di luar Kayuagung berdiri seperti gerbang yang tak pernah menutup, dengan atap seng berkarat dan lampu neon yang berkedip separuh mati sejak entah kapan. Surudi sudah menghafal jembatan itu sejak masih jadi kenek dua puluh tahun lalu — dulu petugasnya galak tapi jujur, sekarang tinggal galaknya saja yang tersisa.
Ia menurunkan kecepatan Hino tuanya, memasukkan gigi rendah, dan merasakan getar berbeda ketika roda depan menginjak pelat baja timbangan. Topan duduk tegak di sampingnya, tangan menggenggam surat jalan dan nota muatan seperti orang memegang kartu terakhir dalam judi yang tak ia pahami aturannya.
"Diam saja," kata Surudi pelan, matanya mengawasi sosok yang berjalan keluar dari pos kecil di ujung jembatan. "Biar aku yang bicara."
Petugas itu bertubuh gempal, seragam cokelat yang kancingnya longgar di perut, topi dimiringkan sedikit seperti preman yang kebetulan dapat baju dinas. Surudi tak mengenalnya — tapi cara jalannya, cara ia melirik pelat nomor truk lebih dulu daripada muka sopirnya, sudah cukup jadi firasat.
"Turun. Bawa surat-suratnya."
Surudi turun tanpa buru-buru. Ia sudah belajar: gerakan tergesa di depan aparat selalu dibaca sebagai rasa bersalah, padahal yang ia rasakan cuma lelah bercampur waspada. Ia menyerahkan surat jalan, STNK, dan nota dari Pak Hasan yang belum sempat dibongkar.
Petugas itu tak membaca lama. Matanya justru mengarah ke layar timbangan digital di pos, lalu kembali ke Surudi dengan senyum yang sudah disiapkan sebelum truk ini berhenti.
"Kelebihan muatan, Pak. Jauh di atas GVW."
"Berapa yang keluar?"
"Sebelas koma dua ton lebih dari batas sumbu."
Surudi diam sebentar, menghitung dalam kepala. Muatan dari Pak Hasan sudah ia timbang mental berdasarkan jumlah karung dan jenis barang — jauh dari angka segila itu. Tapi ia tahu, di jalur ini, angka di layar bukan lagi soal fisika, melainkan soal siapa yang menekan tombol di dalam pos.
"Bisa saya lihat hasil timbangnya, Pak?"
"Sudah kelihatan di sana." Petugas itu menunjuk layar dari kejauhan, terlalu jauh untuk dibaca jelas, cahayanya pula memantul silau kena lampu neon.
"Saya lihat dari dekat saja, Pak. Hak saya sebagai yang ditimbang."
Ada jeda kecil, cukup untuk Surudi menangkap kegugupan yang disembunyikan buru-buru. Petugas itu mendengus, tapi tak menolak — mungkin karena di jembatan itu ada dua sopir lain yang antre, menyaksikan.
Di dalam pos, layar menunjukkan angka yang menurut Surudi terlalu genap, terlalu bulat untuk hasil timbangan sungguhan. Ia melirik kabel yang menjulur dari bawah pelat baja ke kotak kontrol — salah satu ujungnya longgar, tak tersambung sempurna ke sensor utama.
"Pak," katanya, suaranya rendah tapi tak goyah, "timbangan sumbu depan sama sumbu belakang saya lihat nilainya sama persis. Itu jarang terjadi kalau muatan sungguhan naik ke truk. Sumbu belakang saya bawa muatan berat, mestinya lebih tinggi dari sumbu depan."
"Itu urusan alat, bukan urusan sopir."
"Alat itu urusan saya juga, Pak, kalau saya yang kena tilang karena angkanya." Surudi menunjuk kabel yang longgar tanpa menyentuhnya. "Itu kabel sensor kanan belum tersambung sepenuhnya. Kalau alatnya belum kalibrasi benar, hasilnya nggak bisa dipakai buat nuduh saya kelebihan."
Petugas itu berbalik cepat, seakan baru sadar kabel itu terlihat dari luar kotak. Wajahnya sedikit memerah, bukan karena marah, tapi karena ketahuan.
"Kau ini banyak tahu untuk sopir tronton."
"Dua puluh lima tahun bawa truk, Pak. Aturan jembatan timbang saya baca dari zaman masih ditulis tangan di papan." Surudi menatapnya lurus, tak menantang, tapi juga tak tunduk. "Peraturan Menteri soal tera ulang alat timbang jelas, sensor yang longgar bikin hasil tak sah. Bapak mau saya laporkan ke Dishub provinsi, atau kita timbang ulang setelah kabelnya dibetulkan?"
Kata "Dishub provinsi" itu yang membuat petugas gempal itu diam agak lama, matanya melirik ke arah dua sopir lain yang menonton dari kejauhan, lalu ke Topan yang berdiri di dekat truk memegang ponsel — entah benar merekam, entah cuma dipegang, tapi cukup untuk membuat orang gugup berpikir dua kali.
"Sudahlah," katanya akhirnya, suara diturunkan. "Timbang ulang."
Kali ini angka yang keluar jauh berbeda — masih di atas rata-rata karena muatan memang berat, tapi tak sampai melanggar ambang yang bisa dijadikan alasan tilang atau tahan barang. Surudi menerima kembali surat-suratnya tanpa berkata banyak, tak ingin mempermalukan orang yang jelas cuma menjalankan perintah dari atas.
Tapi saat ia menaiki kabin dan menyalakan mesin, petugas itu mendekat sekali lagi, bersandar di pintu, suaranya turun jadi bisikan yang tak lagi soal timbangan.
"Kau pintar, Pak Tua. Tapi jalan ini bukan cuma soal timbangan yang bener atau salah." Ia menatap lurus ke depan, seolah bicara pada kabut yang belum turun. "Ada yang bakal dengar nama kau di sini hari ini."
Surudi tak menjawab. Ia hanya melepas rem tangan, memasukkan gigi, dan membiarkan Hino bergerak melewati jembatan timbang yang kini sudah berdiri lagi seperti biasa, sunyi dan menyimpan rahasianya sendiri.
Di sampingnya, Topan menghembuskan napas panjang, tangannya masih agak gemetar memegang ponsel yang ternyata memang tak merekam apa-apa, layarnya mati sejak tadi.
"Untung Bapak tahu soal kabel itu," katanya.
"Bukan untung," jawab Surudi, matanya tetap ke depan, ke jalan yang mulai menanjak pelan menuju kelokan berikutnya. "Kalau kau nggak tahu aturan mainnya, kau cuma bisa nurut sama angka yang mereka kasih. Jalan ini keras, Topan. Tapi keras nggak berarti kau nggak boleh tahu di mana letak keliru mereka."
Ia menambah kecepatan, menembus gelap yang mulai turun di depan kaca, tahu betul bahwa satu jembatan timbang yang berhasil ia lewati bukan berarti perang usai — hanya berarti musuhnya kini bertambah satu wajah lagi, satu seragam lagi, yang akan mengingat namanya sampai ke telinga Bang Codet.