Malam turun pelan di pelataran belakang rumah makan Menggala, dan Surudi menggelar selembar kertas semen bekas bungkus mi di atas kap mesin yang masih hangat. Ia meratakannya dengan telapak tangan yang penuh kapalan, sekali, dua kali, seolah kertas itu bisa jujur kalau diperlakukan dengan sabar. Bau solar dan oli tercium dari sela-sela kuku. Di kejauhan, deru truk lain naik-turun seperti napas raksasa yang tak pernah tidur.
"Sini, bawa lampunya lebih dekat," katanya tanpa menoleh.
Topan mengangkat senter dari kolong dashboard, menyorotkan cahayanya ke kertas. Sinar itu bergoyang sedikit.
"Tahan tanganmu. Jangan gemetar. Peta jelek dibaca kalau lampunya joget."
"Iya, Pak." Topan mengganjal sikunya ke kap. Cahaya berhenti bergoyang.
Surudi mengeluarkan sebatang pensil tukang dari saku dada, pensil pipih yang biasa dipakai menandai ban. Ia menggambar garis panjang membelah kertas dari atas ke bawah. "Ini lintas kita. Dari Padang, turun ke Sitinjau, terus Jambi, Menggala, sampai bawah." Ujung pensil mengetuk-ngetuk di beberapa titik. "Sekarang kau bilang, di mana saja kita pernah lihat orangnya Codet."
Topan mengerutkan kening. Ia diam beberapa saat, mengunyah ingatan seperti mengunyah sirih.
"Warung tepi jalan yang dekat perbatasan itu," katanya akhirnya. "Yang narik uang jalan."
Surudi memberi silang kecil. "Satu."
"Terus... jembatan timbang. Petugas yang nakal itu."
"Bagus. Itu bukan cuma pos, Topan. Itu mata. Dari situ Codet tahu truk mana lewat, muatan berapa, jam berapa." Ia menggambar mata kecil di titik timbangan, lalu tertawa pendek tanpa suara. "Orang dalam. Dua."
Topan menunduk lebih dekat. "SPBU sebelum tanjakan. Yang nolak jual solar ke Bapak waktu itu."
Pensil Surudi berhenti. Ia menatap titik itu lama sekali. Ada sesuatu yang mulai bergerak di dalam kepalanya, pelan, seperti roda yang baru dilepas remnya di turunan panjang. Ia menandai SPBU itu dengan bulatan tebal, ditebalkan sampai dua kali.
"Solar," gumamnya. "Selalu solar."
Ia mundur selangkah, memandang kertas dari jarak yang lebih jauh, cara ia biasa memandang tanjakan sebelum menyerangnya. Titik-titik silang dan bulatan itu berserak di sepanjang garis, tapi matanya yang sudah lelah dua puluh lima tahun menangkap sesuatu yang tak akan dilihat orang muda. Pos-pos penagih banyak. Tapi tempat solar—tempat orang bisa benar-benar mengisi tangki sampai penuh untuk trip jauh—hanya sedikit.
"Topan," katanya. "Hitung. Berapa pengecer solar yang bener-bener gede di sepanjang jalur ini. Yang bisa isi tangki tronton penuh, bukan cuma jerigen eceran."
Topan menghitung dengan jari, memundurkan senter tanpa sadar sampai Surudi menepuk pergelangannya supaya cahayanya kembali. "Yang deket perbatasan satu. Yang sebelum Sitinjau satu. Yang di bawah, deket Kayuagung, satu." Ia berhenti. "Tiga, Pak. Yang gede, cuma tiga."
"Tiga." Surudi mengucapkannya seperti mencicipi. Ia mengetuk ketiga titik itu bergantian dengan ujung pensil. Tuk. Tuk. Tuk. "Codet punya orang di mana-mana. Preman di warung, petugas di timbangan, pengecer eceran di tiap simpang. Kelihatannya dia menguasai seluruh jalan. Tapi lihat ini." Ia menyapukan jari di antara ketiga bulatan. "Semua yang dia jaga itu cuma daun. Akarnya di sini. Tiga tempat. Dari tiga tempat inilah solar dia ngalir ke seluruh rute."
Topan mendekat, dahinya hampir menyentuh kertas. "Maksud Bapak... kalau tiga tempat ini—"
"Sst." Surudi menekan bahu anak muda itu, matanya melirik cepat ke arah warung, ke bayangan-bayangan sopir yang duduk melingkar di bawah lampu kuning. Ia menurunkan suaranya sampai hampir hilang. "Jangan diteruskan kerasnya. Jalan punya kuping."
Topan menelan ludah dan mengangguk.
Surudi menegakkan punggung, menekan pinggangnya yang berdenyut. Ia memandang peta jelek di kap truknya itu bukan lagi sebagai coretan, melainkan sebagai jalan—jalan yang belum ia lewati tapi sudah mulai ia hafal, sama seperti dulu ia menghafal tikungan sebelum berani menyerangnya dalam gelap. Dua puluh lima tahun ia dianggap kalah oleh jalan ini. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya sejak Gimbal mendatanginya, ia merasa memegang sesuatu yang tak dipegang Codet.
"Orang kayak Codet," katanya perlahan, lebih pada dirinya sendiri, "dia pikir menang itu soal berapa banyak orang yang takut sama dia. Berapa banyak pos, berapa banyak preman. Dia nggak pernah nyetir betulan lagi, Topan. Dia lupa. Yang menang di jalan itu bukan yang paling banyak jaganya. Yang menang itu yang paling ngerti di mana napasnya orang lain."
"Napas?"
"Solar." Surudi melipat kertas itu perlahan, hati-hati, seperti melipat surat penting. "Selama sopir masih harus ngisi solar dari selang dia, dia menang tanpa perlu ngapa-ngapain. Tapi solar itu, Topan—kalau dia cuma ngandelin tiga sumber..." Ia berhenti. Membiarkan kalimat itu menggantung di udara dingin.
Topan menatapnya. Cahaya senter menerangi separuh wajah anak muda itu, dan Surudi melihat di situ sesuatu yang membuat dadanya ngilu—kilat yang sama yang dulu ada di matanya sendiri, sebelum jalan mengajarinya untuk menunduk. Ia hampir memperingatkan bocah itu untuk tidak terlalu berharap. Tapi ia diam.
"Kita belum mau apa-apa," kata Surudi akhirnya, memasukkan lipatan kertas itu ke balik jok, di tempat rahasia dekat kotak perkakas, tempat yang cuma ia dan sekarang Topan yang tahu. "Kita cuma... lihat-lihat dulu. Ngerti jalannya. Kapan orangnya ganti sif, kapan selang dikunci, jam berapa timbangan sepi. Semua kita catat. Di sini." Ia menepuk pelipisnya. "Bukan di kertas. Kertas bisa jatuh ke tangan salah."
Ia menutup kap mesin. Bunyi logam yang berat dan mantap memutus keheningan. Topan mematikan senter, dan untuk sesaat mereka berdiri dalam gelap, hanya diterangi lampu kuning warung yang jauh dan kelap-kelip lampu belakang truk yang lewat di lintas.
"Pak," bisik Topan. "Kalau ketahuan kita ngintip-ngintip begini?"
Surudi menyandarkan punggung ke pintu kabin, memandang lampu-lampu truk yang menghilang di kejauhan, satu per satu, ditelan tikungan.
"Makanya jangan ketahuan," katanya. "Naik. Kita masih ada jalan jauh sebelum subuh."