Klinik kecil di pinggir Jambi itu hanya diterangi satu lampu neon yang berkedip-kedip, dan di bawahnya Surudi duduk di bangku kayu yang dingin, memandangi pintu ruang periksa yang tertutup rapat. Dari baliknya sesekali terdengar rintih Sarki, lalu suara perawat menenangkan, lalu sunyi lagi. Bau obat merah dan alkohol menempel di hidungnya, bercampur dengan bau solar dan debu yang masih menguar dari bajunya sendiri. Ia belum sempat mandi sejak subuh.
Tangannya gemetar waktu menyalakan rokok yang ketiga. Bayangan wajah Sarki tadi—babak belur, satu matanya bengkak sampai tak bisa dibuka, dan Hino tuanya yang kacanya pecah semua di pelataran rumah makan—terus berputar di kepalanya. Orang-orang Codet tak main-main lagi. Mereka sudah menunjukkan, dengan darah, bahwa siapa pun yang dekat dengan Surudi bisa kena getahnya.
Ia menghitung-hitung dalam hati, seperti biasa ia menghitung tangki solar dan jarak tempuh. Kalau Hino dijual sekarang—meski sudah tua, mesinnya masih hidup, biar sudah sering batuk—uangnya cukup untuk menutup lima tunggakan leasing sekaligus, mungkin masih tersisa sedikit. Tak ada lagi surat peringatan yang bikin jantung copot tiap kali amplop cokelat itu terselip di pintu. Tak ada lagi rute maut, tak ada lagi Codet, tak ada lagi anak buahnya yang datang menagih upeti sambil menyebut namanya seolah ia barang milik mereka.
Ia bisa pulang. Jadi tukang ojek di Bandar Lampung, atau kuli di pelabuhan, apa saja. Asal masih bisa bangun pagi tanpa takut hari itu jadi hari terakhirnya, atau hari terakhir orang di dekatnya.
Ia menekan nomor Tuminah dengan jari yang masih gemetar.
"Bang?" Suara Tuminah di seberang terdengar buru-buru, seperti baru menaruh piring atau baru bangun. "Kok malam-malam nelepon? Ada apa?"
Surudi menelan ludah dulu sebelum bicara. "Sarki dihajar orang, Min. Truknya dirusak habis-habisan. Sekarang lagi diperiksa dokter."
Hening sebentar di ujung sana. Lalu, "Ya Allah... parah, Bang?"
"Matanya bengkak. Tulang rusuknya juga kayaknya retak." Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu membuangnya pelan-pelan lewat mulut, seperti membuang sesuatu yang lebih berat dari asap. "Ini gara-gara aku, Min. Dia bantu aku, terus kena getahnya."
"Bukan salah Abang—"
"Aku capek, Min." Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya, lebih lemah dari yang ia kira. "Aku sudah dua puluh lima tahun di jalan, dan baru sekarang aku ngerasa jalan ini bisa makan orang hidup-hidup. Bukan cuma aku yang taruhannya. Sarki, Topan, sekarang mungkin kalian juga."
"Bang—"
"Aku mau jual Hino, Min." Kata-kata itu keluar begitu saja, seperti bendungan yang akhirnya jebol. "Uangnya cukup buat lunasin leasing. Kita nggak usah mikirin tagihan lagi. Aku cari kerja lain di darat, nggak usah jauh-jauh dari rumah. Biar anak kita bisa sekolah tanpa aku mesti taruhan nyawa tiap malam."
Ia menunggu Tuminah menangis, atau setidaknya lega—selama ini kan istrinya yang paling sering menahan cemas tiap ia berangkat, yang menyelipkan uang receh ke saku bajunya dengan tangan gemetar. Tapi yang datang justru diam yang panjang, begitu panjang sampai Surudi mengira sambungan putus.
"Min?"
"Bang," suara Tuminah akhirnya keluar, pelan tapi jelas, tak ada gemetar sama sekali di dalamnya, "Abang inget nggak, dulu waktu kita baru nikah, Abang bilang apa ke saya soal Hino itu?"
Surudi diam.
"Abang bilang, truk itu bukan cuma buat cari makan. Itu bukti Abang masih bisa berdiri di atas kaki sendiri, nggak minta-minta ke siapa pun. Abang bangga banget waktu itu. Saya yang dulu takut, saya yang dulu nangis tiap Abang berangkat jauh. Tapi sekarang saya udah nggak takut lagi, Bang. Saya cuma takut satu hal."
"Takut apa?"
"Takut Abang pulang, tapi bukan Abang yang saya kenal." Suara Tuminah mulai bergetar, tapi bukan getar orang yang mau roboh—getar orang yang menahan sesuatu supaya tetap tegak. "Kalau Abang jual truk sekarang, bukan karena Abang capek doang, Bang. Abang lari. Dan orang-orang kayak Codet itu, mereka menang kalau kita lari. Abang sendiri yang pernah bilang itu ke saya."
Surudi menutup matanya. Dari balik kelopaknya, ia melihat wajah Ujang yang berapi-api waktu mengajak sopir-sopir lawan Codet, wajah Sarki yang tadi menahan sakit tapi masih sempat bilang, "Jangan mikirin aku, Rud, jalan terus," wajah anak bungsunya yang bangga bilang ke teman-temannya bahwa bapaknya sopir tronton.
"Aku takut, Min," katanya, nyaris berbisik. "Aku takut kalau aku terus di jalan ini, yang pulang cuma peti."
"Saya juga takut, Bang." Tuminah tak menyangkalnya, dan justru itu yang membuat Surudi membuka mata lagi. "Tapi saya lebih takut kalau Abang berhenti sekarang, terus seumur hidup Abang nyesel karena kabur pas lagi susah-susahnya. Saya di sini bukan buat nyuruh Abang jalan terus tanpa mikir. Saya cuma mau bilang—kalau Abang mau berhenti, berhentilah karena Abang menang, bukan karena Abang lari."
Di ruang periksa, pintu berderit terbuka. Perawat keluar mengabarkan Sarki sudah ditangani, tinggal istirahat. Surudi mengangguk pada perawat itu meski wanita di ujung telepon tak bisa melihatnya, lalu berkata pelan, "Aku telepon lagi besok, Min."
"Bang." Suara Tuminah menahannya sebentar lagi. "Hino itu bukan cuma milik Abang. Itu punya kita berdua. Kalau Abang jual, jual sama-sama mikirnya, bukan sendirian malam-malam gini karena capek. Sekarang istirahat dulu. Besok baru mikir jernih."
Surudi menutup telepon, memandangi layar yang meredup lalu gelap. Angin malam Jambi menampar wajahnya, membawa bau solar dari terminal seberang jalan, bau yang selama ini ia benci sekaligus ia butuhkan untuk hidup. Ia berdiri, melipat tubuhnya yang pegal, dan berjalan ke arah Hino yang terparkir di bawah pohon, tempat Topan tertidur di kursi kenek dengan kepala bersandar ke kaca.
Ia tak jadi menjual truk itu malam itu. Tapi ia juga tahu, keputusan untuk tetap bertahan baru saja jadi lebih berat dari sebelumnya—karena sekarang ia tahu, kalau ia kalah, ia kalah bukan sendirian.