Sehari sebelum berangkat, Surudi datang ke pul truk pagi-pagi dengan kotak perkakas dan secangkir kopi, dan ia memperlakukan truk Hino tuanya seperti orang memperlakukan tubuhnya sendiri di usia senja: dengan curiga yang penuh kasih sayang. Topan datang terlambat satu jam, dengan roti dan minuman dingin, dan menemukan Surudi sudah berbaring di kolong bak.
"Pak, kita kan baru berangkat besok," kata Topan, jongkok di samping ban. "Ngapain dibongkar dari sekarang? Truknya kan jalan kemarin."
Suara Surudi datang dari bawah, teredam. "Truk yang jalan kemarin bukan jaminan jalan besok. Kemarin dia bawa muatan ringan, jalan datar. Besok dia bawa alat berat, naik gunung." Ia keluar dari kolong, baju belakangnya berlumur oli dan tanah, dan menyeka tangan ke lap. "Coba kamu pikir. Truk ini umurnya hampir sama dengan kamu. Kamu kuat lari kalau cuma ke warung. Tapi kalau kamu disuruh gendong karung beras naik bukit tujuh hari tanpa istirahat, kakimu yang mana yang patah duluan?"
Topan nyengir. "Ya enggak ada, Pak. Saya muda."
"Lutut," kata Surudi, tanpa senyum. "Selalu lutut. Bagian yang menahan beban paling berat di tanjakan. Di truk, itu rem."
Ia mengajak Topan, dan ia mengajaknya bukan dengan ceramah tapi dengan tangan. Ini, kata Surudi, sambil menunjuk baut roda satu per satu, kamu ketok pakai palu, dengar bunyinya. Baut yang kencang bunyinya nyaring dan pendek. Baut yang kendur bunyinya tumpul dan ada gemanya. Topan mengetok, dan awalnya semua terdengar sama baginya, lalu pada baut keenam ia berhenti. "Ini beda, Pak." Surudi mengangguk, puas seperti guru yang muridnya menebak benar. "Itu kendur setengah putaran. Di jalan datar tak terasa. Di tikungan, di getaran panjang, dia bisa lepas satu, lalu yang lain ikut, lalu rodamu copot di kecepatan tinggi." Ia menyerahkan kunci roda. "Kencangkan. Belajar rasanya."
Mereka memeriksa air radiator, dan Surudi menunjukkan cara membaca warna air itu, cokelat artinya karat, artinya mesin akan panas di tanjakan dan rewel. Mereka memeriksa ban, dan Surudi menyelipkan koin di alur ban untuk mengukur kembangan yang tersisa, mengajari Topan bahwa ban gundul di lintas Sumatra yang basah adalah cara halus untuk mati. Ban serep ada dua, terikat di bawah bak, dan Surudi memastikan dongkrak dan kunci roda lengkap, karena di ruas sepi, ban kempes tanpa alat adalah penjara.
Lalu mereka sampai ke rem, dan di sinilah Surudi diam lama.
Ia membuka tromol roda belakang dan memandang kampas rem dengan kening berkerut. Topan tak mengerti apa yang dilihatnya, tapi ia mengerti bahwa wajah Surudi berubah, dan ia diam.
"Tipis," kata Surudi akhirnya. "Sudah waktunya ganti. Kampas yang tipis tak masalah di jalan datar — kamu cuma butuh sedikit gigitan untuk berhenti di lampu merah. Tapi di turunan panjang, rem dipakai terus, panas, dan kampas tipis cepat habis panasnya. Kalau habis, rem ngempos. Kamu injak, tak ada yang nahan."
"Ya ganti, Pak," kata Topan, seolah itu hal paling sederhana di dunia.
Surudi menarik napas, dan untuk pertama kali Topan melihat di wajah lelaki tua itu bukan ketenangan, tapi perhitungan yang pahit. Surudi mengeluarkan dompet dari saku belakang, membukanya tanpa malu, dan menunjukkan isinya pada Topan. Tak banyak. "Ganti kampas satu set, empat roda, sama ongkos, ini habis. Lebih malah." Ia menutup dompet. "Dan aku belum isi solar penuh. Belum ada bekal di jalan. Belum ada cadangan kalau ada apa-apa."
Ini adalah pelajaran yang tak diajarkan di sekolah mana pun, dan Surudi mengajarkannya pelan-pelan, karena ia ingin anak ini paham bahwa keselamatan di jalan bukan soal berani, tapi soal uang yang sering tak ada. "Aku punya pilihan," katanya. "Ganti kampas penuh, berangkat dengan tangki setengah dan kantong kosong. Atau ganti dua roda depan saja yang paling penting buat berhenti, sisakan belakang yang masih bisa sebentar, dan punya bekal di jalan." Ia memandang kampas tipis itu. "Sopir miskin selalu memilih antara satu bahaya dan bahaya lain. Tak pernah antara bahaya dan aman."
Topan tak mengerti betul beratnya kalimat itu. "Ya ganti yang depan saja, Pak. Yang belakang nanti di Padang."
Surudi mengangguk pelan, dan keputusan itu terasa seperti menelan sesuatu yang ganjil. Ia tahu, dengan pengetahuan yang ditanam dua puluh lima tahun, bahwa kampas belakang yang tipis di turunan panjang adalah utang yang akan menagih, dan ia tahu di mana ia akan ditagih: di turunan menjelang barat, di tikungan-tikungan yang tak ada habisnya, di tempat yang ia takkan sebut sekarang agar Topan tak ngeri sebelum waktunya. Ia mengganti dua kampas depan, membersihkan tromol belakang, menyetel celah serapat mungkin untuk membeli sedikit umur, dan menutupnya. Kompromi pertama. Yang pertama dari banyak.
Malam itu ia tak banyak tidur. Ia mengisi solar penuh — penuh, karena kehabisan solar di tanjakan lebih buruk daripada apa pun, dan ia ingat tangki yang penuh berarti berat tambahan, berarti rem bekerja lebih keras, berarti perhitungan yang harus terus berputar. Ia menyiapkan bekal: air, mi instan, kopi, dan uang yang ia bagi dalam beberapa tempat — sebagian di dompet, sebagian di kotak perkakas, sebagian di balik panel pintu, karena sopir tua tahu bahwa uang yang ditaruh di satu tempat adalah uang yang hilang sekaligus.
Subuh, sebelum azan, Surudi sudah di balik kemudi. Topan masih mengantuk di kursi sebelah, kepala bersandar di kaca. Surudi menyalakan mesin, dan Hino tua itu menggerung, batuk sekali, lalu hidup. Ia membiarkannya panas sebentar, mendengarkan, mencari bunyi yang salah, dan tak menemukannya — untuk sekarang. Ia menyeruput kopi terakhir di pul, memandang jalan yang masih gelap di depan gerbang, dan menarik tuas gigi. Truk bergerak keluar, lambat oleh alat berat di belakang, dan Surudi merasakan beratnya di setiap putaran roda. Tujuh hari, kata kontrak. Lima angsuran, kata utang. Dua kampas tipis, kata trukku. Ia membelokkan kemudi ke jalan besar yang membentang ke utara, dan subuh menelan mereka.