Kabar itu tiba lewat bocah pengasong rokok yang lari terengah menyusul truk Surudi di mulut Kayuagung. Sarki dihajar orang, katanya, di belakang rumah makan Mak Piah. Surudi tak menunggu bocah itu selesai. Ia banting persneling, memutar kepala tronton Hino tuanya ke bahu jalan, dan menyuruh Topan turun membuka palang bambu yang melintang.
Ia menemukan truk Sarki lebih dulu, sebelum menemukan Sarki. Fuso tua yang sudah dua puluh tahun menemani kawannya itu berdiri miring di halaman belakang, bannya kempis empat-empatnya, ditusuk sesuatu yang tak main-main. Kaca depannya pecah berbunga-bunga, dan dari tangki yang dibelah paksa, solar merembes ke tanah, hitam dan berbau tajam menusuk hidung. Bau itu yang lebih dulu memberi tahu Surudi apa yang terjadi. Bukan perampokan. Perampok tak membuang solar. Solar terlalu mahal untuk dibuang. Hanya orang yang ingin mengirim pesan yang tega menumpahkannya ke tanah — memamerkan bahwa mereka punya lebih banyak, cukup untuk disia-siakan.
Sarki duduk bersandar di dinding kayu warung, di antara tumpukan jerigen kosong. Wajahnya, yang Surudi kenal sejak keduanya masih kenek belasan tahun, kini bengkak sebelah, dan darah mengering dari sudut bibir sampai ke leher. Napasnya berat, memegangi rusuk kanan tiap kali dadanya naik.
"Ki," panggil Surudi, berjongkok. Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia niatkan.
Sarki membuka mata yang tinggal segaris. Ia mencoba tersenyum, dan gagal, karena bibirnya pecah. "Kau lambat, Rudi," ia berbisik. "Mereka sudah pulang dari tadi."
"Siapa?"
"Kau tanya siapa." Sarki terbatuk, dan meludah merah ke tanah. "Ada Gimbal. Bawa dua anak buah. Bilang ini titipan dari Bang Codet. Buat semua yang ikut konvoi Ujang kemarin."
Surudi diam. Ia merasakan sesuatu naik dari perutnya ke tenggorokan, panas dan liat, dan ia menahannya di situ. Ia tahu kalau dilepas sekarang, di halaman belakang warung yang sepi ini, marah itu tak akan menolong Sarki berdiri. Marah tak menambal ban. Marah tak menyembuhkan rusuk.
"Aku cuma lewat," Sarki melanjutkan, terengah. "Sumpah, Rudi, aku tak setor tak juga melawan. Aku cuma makan siang. Tapi mereka bilang lewat saja sudah salah sekarang. Yang tak berpihak sama Codet, berarti lawan Codet." Ia meraih lengan Surudi, mencengkeramnya lemah. "Truk itu satu-satunya yang kupunya."
Topan datang berlari dari arah truk Sarki, wajahnya pucat. "Bang, ban-bannya habis semua. Tangkinya dibelah pakai kapak, sepertinya. Nggak bisa jalan."
"Bantu aku angkat dia," kata Surudi, pendek.
Mereka menuntun Sarki berdiri. Lelaki tua itu mengerang menahan sakit di rusuknya, satu tangan di bahu Surudi, satu di bahu Topan. Mak Piah keluar dari dapurnya membawa air dan kain, tapi tak berani banyak bicara. Matanya jelalatan ke jalan, takut kalau-kalau orang-orang itu kembali dan melihat ia menolong. Surudi paham ketakutan itu. Ia tak menyalahkannya. Codet sudah mengubah seluruh lintas ini jadi tempat di mana menolong pun bisa berbahaya.
Di kabin Hino, Sarki dibaringkan setengah duduk di antara Surudi dan Topan. Surudi menjalankan truk pelan-pelan menuju Kayuagung, ke klinik kecil yang ia ingat ada di seberang pasar. Sepanjang jalan, Sarki bicara terputus-putus, entah pada Surudi entah pada dirinya sendiri.
"Dulu jalan ini bukan begini, Rudi. Kau ingat? Kita berhenti di mana saja, tidur di kolong truk siapa saja. Tak ada yang minta uang jalan. Tak ada yang tanya kau berpihak ke mana." Ia menyeka darah di dagunya dengan punggung tangan. "Sekarang solar pun mereka yang pegang. Jalan pun mereka yang punya. Kita ini apa? Numpang di jalan sendiri."
Surudi tak menjawab. Ia menatap lurus ke aspal, tangannya mantap di kemudi, tapi buku-buku jarinya memutih. Ia ingat Ujang — sopir muda keras kepala yang mengumpulkan konvoi itu, yang matanya menyala tiap kali bicara soal melawan. Surudi tak ikut penuh kemarin. Ia terseret arus, setengah hati, dan pulang berpikir dirinya sudah cukup hati-hati untuk tak jadi sasaran. Dan lihat sekarang. Yang kena bukan dirinya. Yang kena Sarki, yang bahkan tak melawan. Yang kena orang yang cuma makan siang.
Ada logika dingin dalam cara Codet bekerja, dan Surudi membencinya justru karena ia memahaminya. Codet tak perlu menghajar semua orang. Cukup satu, dipilih yang lemah dan tak berdosa, lalu dibiarkan semua orang melihat. Rasa takut menyebar lebih cepat dari kabar baik mana pun. Besok pagi seluruh sopir dari Menggala sampai Jambi akan tahu apa yang terjadi pada Sarki, dan mereka akan berpikir dua kali sebelum menolak setor. Itu tujuannya. Truk Sarki yang rusak, rusuknya yang retak — itu papan pengumuman berjalan milik Bang Codet.
Di klinik, seorang mantri muda memeriksa Sarki, meraba rusuknya, menyorot matanya dengan senter kecil. Dua tulang mungkin retak, katanya, harus dirontgen di kota, tapi untuk sekarang cukup dibalut dan diistirahatkan. Surudi membayar dengan uang yang seharusnya untuk solar cadangan besok, dan tak berpikir dua kali.
Ia berdiri di luar, di beranda klinik, ketika Topan mendekat. Angin sore membawa debu dan bau knalpot dari pasar yang mulai tutup.
"Bang," kata Topan, ragu. "Kita lapor polisi?"
Surudi tertawa kecil, tanpa geli. "Polisi mana, Pan? Yang di pos timbang itu makan dari tangan Codet juga."
"Terus kita diam saja?"
Surudi tak langsung menjawab. Ia menatap ke arah jalan lintas yang membentang ke utara, menghilang di antara pepohonan yang mulai menghitam ditelan senja. Di suatu tempat di ujung sana ada Tikungan Seribu, ada Sitinjau, ada seluruh rute yang sudah dua puluh lima tahun ia hafal setiap tanjakan dan lubangnya. Jalan yang membesarkannya. Jalan yang kini dikuasai orang yang tega membelah tangki kawannya.
"Tidak," kata Surudi akhirnya, suaranya rendah dan rata, jauh lebih menakutkan daripada kalau ia berteriak. "Kita tidak diam."
Ia tak berkata lebih. Marah itu masih ia tahan, ditelan dalam-dalam, disimpan seperti orang menyimpan solar di jerigen tersembunyi — untuk dipakai nanti, di tempat dan waktu yang ia pilih sendiri. Bukan di sini. Bukan sekarang. Tapi ia sudah tak lagi berdiri di pagar. Sarki, di dalam sana, dengan rusuk retak dan truk yang tak bisa jalan, telah menariknya turun ke satu sisi. Dan Surudi tahu, sambil menatap jalan yang menghitam itu, bahwa ia tak akan naik ke pagar itu lagi.