Pagi itu, jalan di depan Simpang Tugu penuh sesak oleh tronton dan fuso yang antre seperti kambing digiring ke satu corong sempit. Surudi menghentikan Hino-nya di urutan kesembilan, mesin menyala pelan, knalpot mengembus asap yang menggantung di udara lembap. Ia tidak tahu apa yang terjadi sampai Topan turun dari kabin, berlari kecil ke depan, lalu kembali dengan mata berbinar seperti anak yang baru menonton pertunjukan.
"Pak Ujang yang komando, Pak," kata Topan, terengah. "Semua truk disuruh jalan bareng. Nggak ada yang berhenti di pos Bang Codet. Lewat aja, rame-rame."
Surudi menatap ke depan, ke barisan truk yang mengular sampai tikungan, lalu ke spion, ke truk-truk yang sudah merapat rapat di belakangnya. Ia coba menghitung jarak untuk putar balik dan tidak menemukannya. Bahu jalan di kanan curam, di kiri parit. Ia terjepit sebelum sempat memutuskan mau terjepit atau tidak.
Ujang berjalan menyisir barisan, mengetuk pintu tiap kabin, berbicara lewat jendela yang diturunkan setengah. Ketika sampai di Hino Surudi, ia tersenyum lebar, seperti sudah menganggap Surudi bagian dari rencana sejak awal.
"Pak Surudi ikut, kan? Konvoi ini bukan buat gagah-gagahan. Kita lewat bareng, mereka nggak bisa nahan semua truk sekaligus. Satu truk dihadang, sepuluh truk di belakangnya nekat maju, mereka kewalahan." Ujang menepuk pintu kabin, yakin. "Yang penting kompak, Pak. Nggak ada yang berhenti duluan."
"Aku nggak ikut rapat kalian," kata Surudi datar. "Aku cuma numpang jalan."
"Sama aja, Pak. Sampeyan di barisan ini, otomatis ikut." Ujang sudah berjalan ke truk berikutnya sebelum Surudi sempat membalas.
Ia memandang Topan yang duduk kembali di kabin dengan wajah bersemangat, seperti sudah membayangkan cerita yang akan ia ceritakan nanti di warung. Surudi menahan diri untuk tidak menegurnya. Ia sendiri tak yakin apa yang lebih ia takutkan—dihajar orang Codet, atau melihat anak muda ini mati karena keberanian yang belum diuji jalan.
Konvoi mulai bergerak pukul tujuh lewat, iring-iringan yang panjangnya mendekati satu kilometer, klakson bersahutan seperti isyarat perang yang tak seorang pun berani menyebutnya begitu. Surudi menjaga jarak aman dengan truk di depannya, tangan di setir mengeras, matanya awas ke tiap simpang yang bisa jadi jalan keluar kalau situasi memburuk. Dua puluh lima tahun di jalan mengajarinya satu hal yang tak pernah luntur: selalu siapkan jalan mundur, bahkan ketika sedang tidak berencana kabur.
Pos Codet muncul di tikungan setelah jembatan kecil—gubuk kayu dengan portal bambu yang biasanya diangkat setelah setoran diserahkan. Kali ini portal itu tak diangkat sama sekali. Tiga orang berdiri di depannya, salah satunya mengangkat tangan menyuruh berhenti.
Truk terdepan, yang dikemudikan Ujang sendiri, tidak mengerem.
Surudi melihat dari kejauhan bagaimana portal bambu itu patah berderak, terkena bumper Fuso Ujang, kayu melambung ke pinggir jalan. Orang-orang Codet melompat menghindar, berteriak, salah satu memukul pintu truk yang lewat dengan tongkat sampai kaca sampingnya retak. Tapi truk itu terus jalan. Yang di belakangnya juga.
Barisan mulai berantakan begitu mendekati pos—sebagian sopir mengambil ancang-ancang menambah gas, sebagian justru menginjak rem karena panik melihat orang-orang berlarian ke tengah jalan melambaikan parang. Surudi merasakan truk di depannya melambat mendadak, hampir membuatnya menabrak dari belakang. Ia membanting setir sedikit ke kanan, mengambil celah bahu jalan yang ia hafal lebih lebar dari yang terlihat orang lain, dan menyalip dari sisi yang tak diduga siapa pun berdiri di sana.
"Pegangan," katanya pada Topan, singkat.
Topan mencengkeram dasbor. Kaca depan menampung sekelebat wajah seorang lelaki bertubuh besar—bukan Gimbal, tapi salah satu tangan kanannya—yang melompat mundur begitu tahu truk Hino itu tak akan berhenti untuknya. Sesuatu menghantam sisi bak, mungkin batu, mungkin kayu, Surudi tak sempat memastikan. Ia menjaga setir lurus, mata pada satu titik di ujung tikungan, dan menembus.
Di belakangnya, tak semua seberuntung itu.
Ia mendengar dari radio CB—suara panik campur marah—bahwa truk keenam dan ketujuh dipaksa berhenti, dikepung, sopirnya diseret turun sebelum sempat kabur. Truk kedelapan terguling ke parit saat sopirnya membanting setir menghindari orang yang menghadang di tengah jalan. Ujang, di depan sana, sudah lolos jauh, tak menoleh ke belakang untuk tahu berapa banyak yang tertinggal.
Surudi memacu truknya sampai jarak aman dari pos, baru kemudian melambat, dadanya masih berdebar, tangannya basah di kemudi. Ia menoleh ke spion. Asap debu mengepul dari arah pos yang mereka tinggalkan, samar-samar terdengar teriakan yang tak jelas isinya, dan di kejauhan, sebuah truk—entah truk siapa—berhenti miring di pinggir parit seperti binatang yang kelelahan.
"Kita lolos, Pak," kata Topan, suaranya masih gemetar tapi matanya berbinar, seakan baru saja ikut menaklukkan sesuatu yang besar.
Surudi tidak menjawab segera. Ia memikirkan truk keenam dan ketujuh, sopir-sopir yang barangkali sekarang sedang dipukuli di pinggir jalan karena ikut arus yang sama dengannya, karena berdiri di antrean yang sama, karena tak sempat mengambil keputusan sendiri sebelum keputusan itu diambil oleh orang banyak di depan dan di belakang mereka. Ia tak ikut karena berani. Ia ikut karena terjepit, dan kebetulan tahu jalan mana yang lebih lebar dari yang terlihat.
"Bukan lolos," katanya akhirnya, pelan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Topan. "Cuma belum kena giliran."
Ia tahu, sepanjang sisa perjalanan, bahwa nama truk Hino tuanya sudah tercatat dua kali sekarang—sekali karena menolak setor sendirian, dan sekali karena ikut menembus pos bersama konvoi yang mempermalukan orang-orang Codet di depan umum. Di suatu tempat di jalan itu, ia yakin, Bang Codet sedang mendengar laporan yang sama dengannya lewat radio, dan sedang menghitung nama-nama yang harus dibayar mahal.