Malam ketujuh dalam perjalanan itu terasa seperti malam yang tak pernah benar-benar dimulai, sebab yang sebelumnya juga belum selesai. Surudi menghitung dari lampu depan Hino yang mulai kekuningan—aki mulai lemah, sama seperti dirinya—bahwa ia sudah dua puluh jam duduk di kursi ini, berhenti hanya untuk isi solar dan kencing di semak.
Telepon dari Tuminah tadi sore masih berdengung di kepalanya. Suara istrinya berusaha tenang, tapi getar di ujung kalimat tak bisa disembunyikan. "Ada orang datang lagi, Pak. Bukan cuma leasing. Ada yang lain, aku nggak kenal. Anakmu ngumpet di kamar sampai mereka pergi."
Surudi tidak tanya siapa "yang lain" itu. Ia sudah bisa menebak dari cara Tuminah memilih kata—hati-hati, seperti orang yang takut kalimatnya sendiri bisa mengundang bahaya baru. Yang ia tahu pasti hanya satu: rumah kontrakannya sudah tak lagi jadi tempat aman untuk anak dan istrinya menunggu, dan satu-satunya yang bisa mengubah itu adalah dirinya, secepat mungkin, sampai di sana.
"Kita langsung tembus aja, Pan," katanya pada Topan, tanpa menoleh. "Nggak usah nginap di pool Kayuagung."
Topan yang sedang membetulkan posisi duduknya menahan kantuk, menoleh cepat. "Bang Ndi udah berapa jam nggak tidur?"
"Cukup."
"Cukup itu berapa jam?"
Surudi tidak menjawab. Ia menggeser persneling, menambah kecepatan sedikit meski jalan di depan mulai menyempit, diapit pohon karet yang menjulang gelap di kedua sisi. Lampu jauh menembus kabut tipis yang mulai turun, membuat cahaya itu seperti berenang di udara sebelum jatuh ke aspal.
Ia tahu ini bukan cara yang benar. Dua puluh lima tahun di jalan mengajarinya satu hukum yang tak pernah berubah: kantuk adalah pembunuh paling sabar, ia tak pernah terburu-buru, ia menunggu di tikungan yang paling kau kira sudah kau hafal. Tapi malam ini hukum itu kalah oleh bayangan anak bungsunya bersembunyi di kamar, oleh suara Tuminah yang mencoba tegar padahal getar.
Kelopak matanya mulai berat sekitar pukul dua, di jalan lurus panjang menuju jembatan Way Sekampung. Ia menyalakan radio tua, memutar volume sampai suaranya pecah, membuka kaca jendela biar angin malam menampar wajahnya. Semua trik lama itu bekerja—untuk beberapa menit.
Lalu tanpa ia sadari, ada jeda. Sepersekian detik yang tak tercatat di kepalanya, seperti halaman buku yang lompat tanpa ia baca. Yang ia ingat berikutnya adalah suara Topan berteriak, "BANG NDI!" dan tubuhnya yang refleks membanting setir ke kanan.
Jembatan itu sempit, pembatas besinya sudah karatan, sungai di bawahnya gelap dan dalam. Hino oleng, ban depan sebelah kiri sempat menggilas tepi aspal yang runtuh, membuat truk berguncang keras hingga jerigen di bak belakang terdengar berdebum saling bentur. Surudi merasakan setirnya seperti hidup sendiri, menolak arahnya, dan untuk sepersekian detik yang terasa panjang sekali, ia melihat bayangan pembatas jembatan mendekat dengan cara yang tak wajar cepatnya.
Topan menyambar setir dari sisinya, menariknya balik ke kiri sekuat tenaga sambil kakinya sendiri menekan sesuatu—bukan rem, sebab rem mendadak di jembatan sempit bisa lebih fatal, tapi menahan tangan Surudi yang mulai kaku karena kaget, mengembalikan arah truk ke jalur yang benar. Roda depan berderak melewati aspal retak, lalu kembali ke tengah jalan, dan tronton itu berhasil melintasi jembatan dengan getaran terakhir yang membuat kaca spion bergoyang liar.
Setelah jembatan, jalan kembali lurus. Surudi menepikan truk di bahu jalan tanpa diminta, tangannya sendiri gemetar saat menarik rem tangan. Mesin dibiarkan menyala, tapi ia menunduk di atas setir, dadanya naik turun cepat, keringat dingin membasahi punggungnya meski malam itu dingin.
"Turun," kata Topan. Suaranya bukan lagi suara kenek yang dulu banyak tanya dengan nada takut-takut. Ada sesuatu yang keras di sana, sesuatu yang baru.
"Aku bisa lanjut—"
"Turun, Bang."
Surudi menoleh. Di bawah lampu dashboard yang temaram, wajah Topan tampak tegang, rahangnya mengeras, matanya yang biasanya menghindar kini menatap lurus.
"Bang Ndi hampir bawa kita berdua masuk sungai," kata Topan, suaranya sedikit naik meski ia menahan diri untuk tidak berteriak. "Anak Bang Ndi nunggu di rumah, istrinya lagi diteror orang, dan Bang Ndi mau selamatin mereka dengan cara mati duluan di jembatan? Itu bukan nekat, Bang. Itu bego."
Kata-kata itu menampar lebih keras dari angin malam yang tadi ia biarkan menerpa wajahnya. Surudi ingin membalas, ingin bilang bahwa dua puluh lima tahun di jalan ini dan ia tahu batas tubuhnya sendiri lebih baik dari siapa pun—tapi tubuhnya baru saja membuktikan sebaliknya, dan lidahnya tak sanggup mengucapkan bantahan yang ia tahu bohong.
"Aku yang bawa sekarang," lanjut Topan, sudah membuka pintunya sendiri. "Bang Ndi tidur di dipan belakang. Nggak usah diskusi."
Surudi diam sesaat, memandangi kenek yang belum genap setahun ia ajari cara membaca jalan, cara merasakan rem angin, cara mengenali medan lewat pantulan lampu di kabut. Ada rasa yang aneh menjalar di dadanya—bukan cuma malu, tapi juga sesuatu yang mirip lega, seperti beban yang selama ini ia panggul sendirian tiba-tiba disangga tangan lain, meski tangan itu masih muda dan belum sepenuhnya kuat.
"Bangunin aku kalau ada apa-apa," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasa.
"Iya, Bang." Topan sudah duduk di kursi kemudi, menyesuaikan posisi spion, tangannya memegang setir dengan kehati-hatian orang yang baru sadar beratnya tanggung jawab yang barusan ia rebut. "Tidur yang bener. Bukan pura-pura merem."
Surudi merangkak ke dipan sempit di belakang kabin, menutup matanya, dan untuk pertama kali dalam berhari-hari, kantuk yang selama ini ia lawan mati-matian akhirnya boleh menang—karena kali ini ada orang lain yang menjaga jalan di depan.