Telepon itu berdering tepat ketika Surudi baru saja melewati simpang menuju Menggala, ban depan Hino masih bergetar menabrak sisa aspal berlubang. Ia meraihnya dengan satu tangan, mata tetap di jalan, sementara Topan menahan napas di kursi kenek seperti sudah menebak sesuatu yang buruk sedang terjadi di ujung sambungan.
"Pak…" Suara Tuminah pecah sebelum sempat menyapa. Bukan suara yang biasa Surudi kenal—suara istrinya yang biasanya tenang menahan apa pun, kali ini bergetar seperti kaca yang nyaris retak. "Pak, ada orang di depan rumah. Dua rombongan."
Surudi menepikan sedikit kemudi, meski truk tak mungkin berhenti di tengah tanjakan kecil itu. "Rombongan apa? Yang mana?"
"Yang satu bawa map, ngaku dari leasing. Yang satu lagi…" Tuminah menahan diri, dan di balik suaranya, Surudi bisa mendengar isak kecil—anak bungsunya, jelas sekali, suara yang belum lama ini masih riang membicarakan seragam SMA barunya. "Yang satu lagi nggak jelas dari mana, Pak, tapi ngomongnya soal Bapak. Katanya Bapak masih punya utang jalan yang belum dibayar."
Dada Surudi seperti ditinju dari dalam. Ia tahu betul siapa yang dimaksud "utang jalan"—bukan bahasa leasing, itu bahasa orang-orang Codet. Tangannya mengencang di setir, buku-buku jari memutih, sementara truk terus melaju karena berhenti sama saja dengan bunuh diri di jalur yang tak punya bahu cukup lebar.
"Jangan dibuka pintunya kalau nggak perlu," kata Surudi, berusaha menahan suaranya agar tak ikut pecah. "Kamu telepon siapa yang deket, Sarki—eh, jangan, Sarki lagi di jalan juga. Kamu... kunci pintu, temenin adek di kamar."
"Mereka udah di teras, Pak. Yang leasing minta lihat surat-surat. Yang satunya cuma berdiri, ngerokok, sambil lihat-lihat rumah kita." Suara Tuminah menurun jadi bisikan, seolah takut didengar dari luar. "Dia bilang, 'Bilang sama suami ibu, jalan itu bukan punya dia sendiri.'"
Kalimat itu menghantam Surudi lebih keras daripada tikungan mana pun yang pernah ia lalui. Bukan ancaman kasar, bukan pukulan—tapi kalimat yang tahu persis ke mana harus menusuk. Rumahnya. Anaknya. Tempat yang selama ini ia kira aman karena jauh dari jalur maut, ternyata cuma sejauh telepon dari tangan-tangan Codet.
Di kursi kenek, Topan menoleh, membaca wajah Surudi yang berubah keras seperti batu kali. "Pak Surudi... rumah, Pak?"
Surudi tak menjawab dulu. Ia mendengar suara berisik di seberang telepon, langkah kaki, lalu suara laki-laki yang tak ia kenal, berat dan malas-malasan, seperti orang yang tahu dirinya sedang di atas angin. "Bu, kami cuma nanya baik-baik. Suami ibu itu keras kepala. Kasihan, lho, rumah sepi begini, anak masih kecil."
"Siapa itu barusan?!" suara Surudi meninggi, nyaris berteriak ke arah ponsel, tapi yang menjawab hanya deru napas Tuminah yang berusaha menahan tangis di depan anak mereka.
"Udah, Pak, udah pergi," kata Tuminah beberapa detik kemudian, meski suaranya masih gemetar. "Yang leasing ninggalin surat, suruh bayar minggu ini juga, lima bulan sekaligus, atau truk ditarik. Yang satu lagi... cuma pergi gitu aja. Bilang, 'nanti kita ketemu lagi.'"
Anak bungsu di latar belakang masih terisak, dan Surudi bisa membayangkan tepat seperti apa: anak itu memeluk lutut di sudut kamar, mendengar suara asing di depan rumah yang selama ini ia kira paling aman di dunia. Bayangan itu membuat perutnya melilit lebih parah daripada solar oplosan mana pun yang pernah masuk ke tangki Hino-nya.
"Aku pulang," kata Surudi, nyaris tanpa pikir panjang. "Aku putar balik sekarang."
"Jangan, Pak!" Tuminah buru-buru memotong, seolah sudah menduga reaksi itu akan datang. "Muatan Bapak buat Pak Hasan, kalau nggak sampe, PO bisa mutus kontrak. Kita udah susah, jangan tambah susah lagi. Lagian... mereka udah pergi. Aku kunci semua pintu, aku nggak buka buat siapa-siapa lagi."
Surudi menatap jalan di depannya—jalan yang sama, aspal yang sama, kabut tipis yang mulai turun di kejauhan seperti biasa—tapi rasanya seperti melihatnya dari balik kaca yang retak. Ia jauh, ratusan kilometer jauh, dan istrinya baru saja berdiri sendirian menghadapi dua ancaman yang datang dari dua arah berbeda namun menuju satu titik yang sama: keluarganya.
"Aku telepon lagi nanti malem," katanya akhirnya, suara berat menahan sesuatu yang ingin pecah. "Kalau ada apa-apa, telepon aku, jam berapa pun."
Setelah sambungan terputus, kabin truk terasa lebih senyap dari biasanya, hanya deru mesin tua yang menggerung menahan tanjakan. Topan tak berani bertanya lagi, tapi matanya sesekali mencuri pandang ke arah Surudi yang menggenggam setir seperti mencekik leher seseorang yang tak ada di sana.
"Pak Hasan nunggu, Pak," Topan akhirnya berkata pelan, lebih untuk mengingatkan waktu daripada benar-benar peduli soal jadwal. "Kalau kita telat..."
"Aku tahu," potong Surudi, datar, nyaris tanpa emosi—padahal dalam dadanya sedang berkecamuk badai yang tak bisa ia tunjukkan di depan kenek mudanya. Ia menambah kecepatan sedikit, meski tahu itu berbahaya di jalan yang mulai basah oleh gerimis sore.
Jalan di depan tetap sama panjangnya. Tapi untuk pertama kali sejak ia memutuskan menandatangani surat jalan PO Bahari, Surudi merasakan sesuatu yang lebih menakutkan daripada tanjakan Sitinjau atau kabut Tikungan Seribu: jarak. Jarak antara dirinya dan rumah yang kini tak lagi terasa aman, jarak yang tak bisa ia tempuh secepat apa pun ia menginjak gas, karena di ujung sana, di teras rumah kontrakan yang sederhana itu, ancaman sudah lebih dulu sampai daripada dirinya.