Matahari belum lagi tinggi ketika Surudi membelokkan tronton Hino tuanya ke pelataran warung Mak Piah, di luar Menggala, sebelum jalan menikung panjang ke arah Kayuagung. Debu masih menempel di kaca depan, dan bau solar yang tersendat sejak subuh belum juga hilang dari lubang hidungnya. Ia mematikan mesin. Sejenak, hening itu terasa asing di telinganya.
"Kita berhenti lama, Pak?" Topan bertanya dari kursi kenek, tangannya masih memegang termos kosong.
"Sekadar isi perut. Jangan lama-lama." Surudi menepuk saku, memastikan lembar surat jalan PO Bahari masih di sana. Rute dobel ketiga. Ongkosnya cukup, kalau lancar, untuk satu angsuran leasing. Satu dari lima yang menunggak.
Warung Mak Piah tak seramai biasanya. Beberapa sopir duduk membungkuk di bangku kayu, menunduk ke piring, seolah sengaja tak mau melihat siapa pun. Mak Piah sendiri menuang kopi dengan tangan yang, Surudi perhatikan, sedikit gemetar.
"Duduk yang di dalam saja, Kang," bisik perempuan tua itu tanpa memandangnya. "Yang di luar... lagi banyak mata."
Surudi paham isyarat itu tanpa perlu penjelasan. Ia memilih bangku di sudut, punggung ke dinding, menghadap pintu—kebiasaan dua puluh lima tahun di jalan yang keras. Topan duduk di depannya, gelisah, membaca wajah gurunya.
Kopi belum sampai setengah diminum ketika sebuah mobil bak hitam masuk ke pelataran, berhenti terlalu dekat dengan Hino. Pintu terbuka. Yang turun pertama Gimbal, orang yang pernah datang membawa salam Bang Codet beberapa minggu lalu. Rambutnya yang kusut itu tak berubah, begitu pula caranya berjalan—pelan, seakan jalan ini miliknya sendiri.
Di belakangnya turun seorang lelaki lain. Tak tinggi, tak besar, tapi seluruh warung seketika sunyi. Surudi tak perlu bertanya siapa. Codet memanjang dari sudut mata kiri lelaki itu sampai ke rahang, garis putih tua yang membelah kulit gelapnya. Bang Codet. Untuk pertama kali, Surudi melihatnya dengan mata sendiri.
Codet tidak mendekat. Ia berdiri di ambang pintu, menyalakan rokok, matanya menyapu warung setenang orang memeriksa gudang miliknya. Ketika pandangan itu sampai pada Surudi, ia berhenti. Tak lama. Tapi cukup.
"Itu dia," Surudi mendengar Gimbal berkata pelan, setengah menoleh ke arah Codet. "Yang subuh kemarin lewat pos Terbanggi tanpa setor. Hino tua itu."
Codet tidak menjawab. Ia hanya menatap Surudi sedikit lebih lama, lalu mengembuskan asap ke samping. Dalam tatapan itu tak ada amarah, tak ada ancaman yang meledak. Justru itu yang membuat tengkuk Surudi dingin. Lelaki itu menatapnya seperti sopir tua menatap ban yang mulai gundul—sesuatu yang harus diganti sebelum pecah di tanjakan.
Gimbal berjalan menghampiri meja Surudi. Ia menarik bangku, duduk tanpa diminta, meletakkan kedua sikunya di meja.
"Nama sampeyan sudah sampai ke meja Bang Codet, Pak Tua," katanya, suaranya rendah, hampir ramah. "Tahu artinya?"
Surudi meletakkan gelas kopinya perlahan. "Aku cuma cari makan. Sama seperti semua orang."
"Semua orang setor." Gimbal tersenyum, memperlihatkan gigi yang kuning. "Sampeyan pikir pintar. Lewat jalan tikus, subuh-subuh, kira-kira tak ada yang lihat. Ada yang lihat, Pak. Selalu ada." Ia mencondongkan tubuh. "Bang Codet tak suka sama sopir yang bikin sopir lain ikut mikir. Ngerti? Yang lain jadi berani gara-gara sampeyan."
Dari sudut matanya, Surudi melihat Topan mengepalkan tangan di bawah meja. Ia menekan lutut anak muda itu, isyarat diam.
"Jadi begini," Gimbal melanjutkan, jari-jarinya mengetuk meja satu-satu seolah menghitung. "Mulai sekarang, selang solar dari sini sampai Lampung tutup buat sampeyan. Coba beli, tak ada yang berani jual. Timbangan di depan? Petugasnya kenal muka sampeyan sekarang. Dan..." ia berhenti, menikmati jeda itu, "...kabarnya di Bandar Lampung ada orang leasing yang lagi butuh alamat. Kami bisa bantu kasih tahu, kalau perlu."
Sesuatu mengencang di dada Surudi. Kontrakan. Tuminah. Anak bungsunya yang baru diterima SMA, yang tiap malam menanyakan kapan bapaknya pulang. Ia menjaga wajahnya tetap datar, sekeras aspal Sitinjau. Menunjukkan takut, di depan orang seperti Gimbal, sama saja membuka tangki dan menyuruh mereka menguras.
"Kalau tak ada solar," Surudi berkata pelan, "bagaimana aku bisa setor? Truk mati, tak ada yang jalan, tak ada yang bisa dibayar. Bang Codet pintar berdagang. Mestinya dia hitung itu."
Sesaat Gimbal tampak tak siap dengan jawaban itu. Di ambang pintu, Codet membuang puntung rokoknya, menginjaknya sekali, lalu masuk kembali ke mobil tanpa sepatah kata pun. Gimbal berdiri, menepuk pundak Surudi dua kali—terlalu keras untuk disebut ramah.
"Pikir baik-baik, Pak Tua. Jalan ini panjang. Tikungannya banyak." Ia menyeringai. "Kadang sopir kehabisan solar di tempat yang salah."
Mobil bak hitam itu keluar dari pelataran, meninggalkan debu yang lambat mengendap. Warung tetap sunyi beberapa saat, sampai Mak Piah datang mengganti kopi Surudi yang sudah dingin, tangannya masih gemetar.
"Kang," bisiknya, "sampeyan sudah masuk daftarnya sekarang. Sabar-sabar di jalan."
Topan menunggu sampai perempuan itu menjauh. "Kita lawan, Pak?" Suaranya bergetar, antara marah dan takut.
Surudi tidak langsung menjawab. Ia memandang ke luar, ke jalan yang menikung panjang lalu hilang dalam sisa kabut—jalan yang sudah ia hafal tiap lubang dan bahunya selama dua puluh lima tahun. Solar di tangkinya tinggal separuh. Angsuran menunggak lima. Dan kini namanya ada di meja seorang lelaki bercodet yang menatapnya seperti ban gundul yang tinggal menunggu waktu.
"Habiskan makanmu," katanya akhirnya, bangkit dan meraih kunci. "Kita masih punya muatan yang harus sampai."