Jam tiga pagi, jalan lintas masih kosong seperti sungai yang airnya surut. Surudi menyalakan mesin Hino pelan-pelan, menahan gas supaya suara knalpot tak menggelegar membangunkan siapa pun yang tidur di warung-warung sepanjang bahu jalan. Kabut tipis menggantung setinggi dada, dan embun menempel di kaca depan seperti keringat yang tak sempat kering.
"Yakin lewat sini, Pak?" Topan berbisik, padahal tak ada yang perlu dibisikkan selain kepada dirinya sendiri.
"Kalau nggak yakin, aku nggak akan ajak kau bangun jam segini." Surudi memutar setir, membelokkan tronton ke jalan kabupaten yang lebih sempit, aspalnya bopeng-bopeng dimakan air hujan bertahun-tahun. Ini jalur yang dulu dipakai truk-truk tebu sebelum pabrik gula tutup. Sekarang cuma dilewati ojek dan sesekali angkot pertama. Codet menguasai jalan besar—pos-posnya berdiri di titik-titik yang membuat sopir wajib lewat sana kalau mau cepat. Tapi jalan ini, jalan yang lambat dan penuh lubang, tak dilirik siapa pun karena dianggap tak berguna.
Justru di situ Surudi menaruh harapannya.
Ia sudah menghitung sejak dua hari lalu, waktu memetakan bersama Topan di atas kertas bekas bungkus rokok: jam segini, para pemungut upeti Codet baru saja gantian jaga, capek, dan pos ramai hanya di jalur utama. Kalau Hino bisa memutar lewat jalan tebu, tembus ke jalan provinsi lima kilometer setelah pos terakhir, mereka lolos tanpa perlu berhenti sekali pun.
Topan memegang HT kecil yang dibelinya dari toko onderdil bekas, menyalakan frekuensi yang biasa dipakai sopir untuk saling memberi kabar jalan. Ia duduk membungkuk, telinga menempel ke speaker, matanya awas ke spion samping seolah bisa melihat lebih jauh dari kaca itu sendiri.
"Ada yang lapor tongkrongan Gimbal masih di pertigaan lama," katanya. "Belum geser."
"Bagus. Berarti kita masih di depan mereka."
Jalan tebu itu menyempit di satu titik, hanya cukup untuk satu tronton, dengan parit di kiri-kanan yang dalamnya bisa menelan roda sampai pelek. Surudi menurunkan kecepatan sampai hampir merangkak, matanya menyisir tiap bayangan yang muncul dari kabut—akar pohon menonjol, batu yang longsor, apa saja yang bisa membuat truk oleng. Dua puluh lima tahun di jalan mengajarinya bahwa jalan buruk bukan musuh kalau dikenal baik-baik; yang berbahaya adalah jalan bagus yang tak dikenal.
Di ujung jalan tebu, tikungan tajam menampakkan cahaya samar—lampu satu-satunya rumah penduduk yang masih menyala di jam segitu. Surudi menahan napas sebentar, lalu melepasnya begitu truk berhasil melewati tikungan tanpa menyerempet apa pun.
"Lewat," gumamnya, lebih untuk dirinya sendiri daripada Topan.
Mereka keluar ke jalan provinsi persis seperti yang dihitung Surudi, jauh di depan pos terakhir Codet, dengan solar yang masih separuh tangki dan tanpa satu rupiah pun keluar untuk "uang jalan". Topan menoleh, wajahnya campuran antara lega dan tak percaya, seperti anak yang baru saja lolos dari hukuman guru.
"Kita benar-benar nggak bayar, Pak?"
"Nggak bayar." Surudi menyalakan rokok, tangannya masih sedikit gemetar—bukan karena takut, tapi karena tegang yang baru saja lepas dari otot-ototnya. "Tapi jangan cerita ke sembarang orang. Jalan ini masih bisa dipakai lagi kalau nggak keburu bocor."
Bongkar muatan di gudang berjalan seperti biasa, cepat dan sepi obrolan. Tapi begitu mereka singgah di rumah makan langganan sopir menjelang siang, Surudi tahu kabar sudah lebih cepat sampai daripada dirinya. Beberapa sopir muda yang biasanya cuma menyapa lewat anggukan kali ini menghampiri mejanya, duduk tanpa diundang, memesan kopi seolah itu alasan resmi untuk mendekat.
"Bener, Pak Surudi lewat jalan tebu tadi malam? Nggak ketemu orang Codet sama sekali?" Salah satu dari mereka, kurus dengan jaket kulit yang sudah mengelupas di siku, bertanya dengan mata berbinar seperti mendengar dongeng.
Surudi menyeruput kopinya, tak buru-buru menjawab. "Jalan itu ada dari dulu. Cuma jarang dipakai."
"Tapi Bapak yang berani lewat duluan."
"Berani apanya. Aku cuma nggak mau bayar buat sesuatu yang harusnya gratis." Ia menatap anak muda itu lekat-lekat. "Kalau kau mau ikut, siapkan truk yang kuat suspensinya. Jalan itu bopeng, bukan buat yang mesinnya sudah ringkih."
Tawa pecah di meja itu, tapi di baliknya ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar canda—rasa hormat yang tumbuh diam-diam, seperti benih yang jatuh di tanah yang selama ini dikira gersang. Surudi merasakannya dari cara mereka duduk lebih dekat, dari cara mereka menyimak tiap detail arah jalan yang sengaja ia samarkan supaya tak semua orang tahu persis.
Sarki, yang sejak tadi duduk di sudut sambil menghabiskan nasi rendangnya, akhirnya bicara tanpa menoleh. "Kau seneng ya, jadi bahan omongan?"
"Nggak seneng-seneng amat," jawab Surudi. "Yang seneng itu solarnya masih separuh tangki pas nyampe."
"Omongan itu jalan lebih cepat dari truk manapun, Rud." Sarki meletakkan sendoknya, menatap Surudi dengan raut yang sulit dibaca—setengah bangga, setengah cemas. "Sore ini juga, bakal ada yang lapor ke Gimbal. Terus Gimbal lapor ke atasnya. Kau kira Codet nggak akan denger, ada sopir yang lewat jalan tebu, sampai tujuan, nggak nyetor sepeser pun?"
Suasana meja mendadak lebih hening, seolah nama itu membawa udara dingin masuk lewat pintu yang sedari tadi terbuka.
Surudi mematikan puntung rokoknya pelan-pelan di asbak kaleng bekas susu, tak menjawab langsung. Ia tahu Sarki benar. Kemenangan kecil di jalan tebu itu bukan akhir dari apa pun—ia baru saja menaruh namanya di tempat yang selama ini ia hindari, di mulut orang-orang yang cepat atau lambat akan sampai ke telinga yang salah.
"Ya," katanya akhirnya, suaranya datar tapi matanya mengeras, "biar dengar. Aku nggak sembunyi-sembunyi amat."
Topan menatapnya dari seberang meja, dan untuk pertama kali sejak mereka satu kabin, Surudi melihat sesuatu di wajah kenek mudanya yang bukan lagi sekadar rasa hormat karena diajari—melainkan sesuatu yang lebih dekat pada kekaguman seorang murid yang baru saja menyaksikan gurunya menang, sekaligus takut membayangkan harga dari kemenangan itu.