Malam itu Surudi tidak langsung tidur. Ia duduk di kursi kemudi yang disandarkan ke belakang, lampu kabin diredupkan sampai hampir padam, dan di atas pahanya terhampar peta jalan lusuh yang sudah bertahun-tahun ia simpan di balik jok — kertas yang lipatannya nyaris putus di setiap sudut, penuh coretan pensil dari perjalanan-perjalanan lama. Ia tidak lagi memikirkan berhenti. Kata-kata Tuminah di telepon tadi siang masih berdengung di telinganya, tapi keputusan sudah dibuat sejak ia menutup telepon itu: jalan terus. Yang belum ia putuskan adalah caranya.
"Kau masih bangun?" Topan menongol dari bawah, dari tikar tipis yang digelarnya di sela ban serep dan kotak perkakas.
"Duduk sini," kata Surudi, tidak menoleh. "Ada yang mau kuajarin, bukan soal rem angin."
Topan naik, duduk di kursi kenek, mengusap mata yang masih berat kantuk. Surudi menyorongkan peta itu ke bawah cahaya lampu baca kecil yang dijepit di atas dasbor.
"Ini pos pertama," ia menunjuk titik yang ditandai silang merah, dekat perbatasan sebelum Jambi. "Orangnya Codet mangkal dari jam sepuluh malam sampai kira-kira jam dua. Habis itu mereka bosan, atau ganti shift, aku belum tahu pasti. Tapi tiap kali aku lewat jam tiga, jam empat, jalan sepi."
"Kok bisa tahu?"
"Karena aku lewat sini dua puluh lima tahun, Topan. Bukan cuma nyetir. Merhatiin." Surudi mengetuk peta itu dengan jari yang kapalan. "Orang kayak Bang Codet pikir mereka nguasain jalan. Padahal yang mereka kuasain cuma titik-titik. Antara titik itu, masih jalan punya sopir yang hafal."
Ia tidak menyebut ini pemberontakan. Ia menyebutnya, dalam hati, main di garis tipis — tidak menabrak langsung seperti yang dibayangkan Ujang dan kawan-kawannya di pertemuan rumah makan itu, tapi juga tidak tunduk penuh seperti saran Sarki. Menyelinap di celah yang orang lain terlalu sibuk atau terlalu takut untuk mencari.
Ia membalik peta, menunjuk simpang kecil yang tak tercetak jelas, hanya garis putus-putus yang nyaris hilang dimakan lipatan. "Ini jalan lama, dipakai orang angkut sawit sebelum ada jalan besar. Sekarang jarang dilewati truk gandeng kayak kita, soalnya jembatannya sempit. Tapi bisa. Aku pernah lewat sekali, taun sembilan puluhan, nganter tebu."
"Kalau jembatannya udah lapuk?"
"Makanya kita cek dulu siang ini, sebelum berangkat malam. Bukan langsung nekat." Surudi menatap Topan lurus-lurus, memastikan anak itu mengerti ini bukan permainan. "Kalau nanti aku ambil jalan itu, kau yang turun, kau yang jalan kaki duluan meriksa jembatan. Aku nggak bisa ninggalin kemudi kalau truk udah di atas."
Topan mengangguk pelan, tapi matanya menyala — bukan takut, melainkan sesuatu yang mirip kebanggaan dipercaya. Surudi melihat itu dan menahan diri untuk tidak berkomentar. Ia ingat dulu, waktu masih jadi kenek, rasa itu — dipercaya oleh sopir yang lebih tua untuk sesuatu yang penting, bukan sekadar suruhan angkat-angkut.
Paginya, sebelum matahari benar-benar naik, mereka berhenti di pinggir jalan yang jauh dari mana-mana, hanya pohon karet berbaris dan kabut tipis yang belum sepenuhnya hilang. Surudi membuka kompartemen di bawah bak, tempat biasanya ia menyimpan dongkrak dan rantai ban. Di situ, di balik terpal yang sengaja dikotorinya dengan oli supaya tak menarik perhatian, ia menaruh dua jerigen solar — bukan banyak, hanya cukup untuk tigapuluh kilometer kalau keadaan darurat.
"Buat apa ini?" tanya Topan, mengangkat salah satu jerigen, menimbang beratnya.
"Buat kalau nanti di jalan, pas kepepet, aku nggak mau nunggu belas kasihan pengecer yang takut sama Codet." Surudi menutup kembali terpal itu, menepuk-nepuknya supaya rata seperti semula. "Ini rahasia kita berdua. Jangan cerita ke siapa-siapa. Bukan ke Sarki, bukan ke siapa pun di pool."
"Bahkan Bu Tuminah?"
Surudi terdiam sebentar. "Bu Tuminah tahu aku jalan, itu udah cukup buat dia mikirin. Nggak usah nambah beban." Ia menutup kembali kompartemen, mengunci dengan gembok kecil yang sudah berkarat, sengaja dibiarkan begitu supaya kelihatan tak berharga.
Mereka naik kembali ke kabin. Mesin Hino menggeram, agak tersendat di awal seperti biasa sebelum akhirnya stabil. Surudi memutar setir, membawa truk kembali ke jalan utama, tapi kali ini matanya tak lagi hanya awas pada tikungan dan lubang — ia mulai menghitung jam di pergelangan tangan, menandai dalam kepala kapan pos-pos itu ramai, kapan sepi, kapan pergantian jaga biasanya terjadi.
"Mulai sekarang," katanya pada Topan, tanpa menoleh, "kau jadi mataku juga. Bukan cuma megang barang, ngasih minum. Kalau kau liat motor nongkrong lebih dari biasa di suatu tempat, kau bilang. Kalau ada yang manggut-manggut ke arah kita terlalu lama, kau bilang. Jangan tunggu aku nanya."
"Siap, Pak Sur."
"Jangan manggil Pak Sur kayak ke atasan. Kita ini satu kabin, nasib sama-sama dipertaruhkan." Surudi menginjak gas sedikit lebih dalam, truk melaju menembus kabut tipis yang mulai menguap oleh matahari pagi. "Kalau kita jalan pinter, kita nggak perlu ribut sama Codet. Kita cuma perlu lebih dulu tahu jalan daripada dia."
Topan diam, memandang ke luar jendela, ke pohon-pohon yang berkejaran mundur. Tapi tangannya sudah mulai terbiasa memegang spion samping lebih erat, matanya lebih sering menyapu ke kiri-kanan daripada sebelumnya — bukan lagi penumpang yang menunggu diajari, melainkan seseorang yang mulai ikut menanggung jalan itu sebagai miliknya sendiri.
Surudi tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menyetir, menghafal ulang setiap kilometer yang sudah ia kenal seumur hidup, kini dengan cara yang baru — bukan sekadar melintas, tapi mengintai celahnya, satu per satu, seperti orang yang mulai menyusun siasat perang yang belum ia sebut nama perangnya sendiri.