Hujan turun tipis waktu Surudi memarkir Hino di pelataran belakang gudang, jauh dari lampu sorot. Ia mematikan mesin dan membiarkan tubuhnya diam sebentar di balik kemudi. Bau solar naik dari lantai kabin, bercampur bau terpal basah, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh lima tahun bau itu terasa seperti tuduhan. Ia tahu sekarang apa yang selama ini ia angkut. Bukan cuma karung dan drum tertutup rapat. Di antaranya ada barang yang membuat tangan Pak Hasan gemetar waktu menyerahkan amplop, barang yang membuat ongkosnya dilipat dua tanpa alasan yang masuk akal.
Topan tertidur di kursi sebelah, kepalanya bersandar ke kaca, mulutnya sedikit terbuka. Anak itu belum tahu. Atau mungkin sudah menduga tapi memilih tak bertanya. Surudi memandanginya sebentar, lalu mengalihkan mata ke depan, ke tembok gudang yang menghitam disiram air. Ia mengeluarkan telepon genggamnya. Layarnya retak di sudut, cahayanya redup. Tiga panggilan tak terjawab dari rumah.
Ia menekan nomor itu dan menempelkannya ke telinga sebelum sempat berubah pikiran.
"Kang." Suara Tuminah langsung menyambut, seperti perempuan itu memang menunggu di dekat pesawat. "Kenapa nggak diangkat dari tadi?"
"Lagi di jalan. Nggak dengar."
Ada jeda. Ia bisa membayangkan istrinya duduk di kursi plastik dekat pintu dapur, kain sarung dililit ke bahu karena dingin. "Kang, pulang aja," kata Tuminah akhirnya. Suaranya rendah, ditahan supaya tak seperti merengek, tapi Surudi tahu ada yang retak di baliknya. "Aku nggak enak hati dari kemarin. Ada firasat nggak enak. Kamu jual truknya, kita bayar sisa leasing, terus kamu cari kerja yang deket-deket sini aja."
Surudi menutup mata. Ia sudah menghitung angka itu sendiri, berkali-kali, di kepala. Jual Hino sekarang tak akan menutup lima tunggakan. Setelah dipotong biaya balik nama dan calo, ia bahkan tak yakin bisa lunas. Dan sesudah itu apa? Umur lima puluh, mata sudah tak setajam dulu, punggung yang bunyi tiap bangun subuh. Siapa yang mau menerima sopir tua tanpa truk sendiri.
"Nggak semudah itu, Bu," katanya.
"Ya aku tahu nggak mudah." Suara Tuminah naik sedikit, lalu ditahan lagi. "Tapi yang di jalan itu kamu. Bukan angka di kertas. Kalau kenapa-kenapa, angkanya buat apa."
Di kejauhan, seorang penjaga gudang lewat membawa senter, sorotnya menyapu genangan lalu hilang. Surudi menurunkan kaca sedikit, membiarkan udara dingin masuk. Ia teringat wajah Pak Hasan tadi sore, cara lelaki itu tak berani menatapnya waktu bilang, setengah berbisik, bahwa sebagian muatan ini "bukan barang biasa" — solar subsidi yang dioplos dan dijual gelap, komoditas yang justru dikuasai orang-orang Codet. Angkut barang itu berarti ia berdiri di tengah dua pihak yang saling ingin menyembelih. Berhenti berarti kehilangan satu-satunya ongkos yang bisa menyelamatkan Hino.
"Bu," katanya pelan, "kamu tahu kenapa PO Bahari berani bayar dobel?"
"Nggak. Dan aku nggak mau tahu." Napas Tuminah terdengar bergetar. "Aku cuma mau kamu pulang."
Surudi diam. Di seberang sana ia mendengar suara lain, samar — anak bungsunya, bertanya sesuatu, lalu Tuminah menjawab pelan supaya tak terdengar, "nggak apa-apa, Bapak baik-baik aja." Bohong kecil yang membuat dada Surudi sesak. Anak itu sebentar lagi masuk SMA. Butuh uang pendaftaran. Butuh seragam, buku, ongkos angkot tiap hari. Semua itu tergantung pada roda yang sekarang terparkir di pelataran gudang, membawa barang yang bisa membuat mereka semua celaka.
"Kang, masih di situ?"
"Masih." Ia mengusap wajahnya yang kasar oleh cambang tiga hari. "Aku pikir dulu ya. Nanti aku telepon lagi."
"Jangan cuma dipikir." Kali ini Tuminah tak lagi menahan. "Kamu selalu bilang gitu, terus jalan lagi, terus aku nunggu lagi nggak tahu kamu di mana. Aku capek, Kang. Anak-anak capek."
Kalimat itu menghunjam lebih dalam dari yang mau ia akui. Surudi menelan sesuatu di tenggorokannya. Dua puluh lima tahun ia membanggakan diri sebagai orang yang tak pernah menyerahkan setir, yang hafal tiap tikungan dari Padang sampai Lampung, yang bisa membaca jalan seperti orang lain membaca doa. Tapi keahlian itu tak berarti apa-apa kalau yang ia bawa adalah barang yang membuat istrinya tak bisa tidur.
"Aku ngerti," katanya akhirnya, dan itu satu-satunya kejujuran yang sanggup ia berikan malam itu. "Sabar sebentar. Aku bereskan yang ini dulu."
Tuminah tak menjawab lama. Lalu, dengan suara yang sudah lelah untuk bertengkar, "Ya sudah. Hati-hati. Makan yang bener."
Sambungan terputus. Surudi memegang telepon yang mati itu beberapa saat, seolah masih ada suara di dalamnya.
Topan menggeliat, membuka mata setengah. "Sama siapa, Pak?"
"Rumah." Surudi memasukkan telepon ke saku. "Tidur lagi."
Tapi anak itu sudah bangun sepenuhnya, mengucek mata, memandang gudang gelap di depan mereka. "Kita jadi bongkar sekarang?"
Surudi tak langsung menjawab. Ia menatap tembok gudang, lalu ke jari-jari solar di panel yang tinggal seperempat, lalu ke tumpukan drum di bak yang tertutup terpal. Ada dua jalan di depannya, dan keduanya menanjak. Yang satu bersih tapi berakhir dengan Hino ditarik dan anaknya tak bisa sekolah. Yang satu cepat, penuh uang, tapi setiap kilometernya menyeretnya lebih jauh ke dalam perang yang bukan miliknya.
Ia tahu orang bijak akan berhenti. Ia tahu Tuminah benar. Tapi ia juga tahu, dengan pahit yang tak bisa ia jelaskan pada siapa pun, bahwa berhenti pun punya harganya sendiri, dan harga itu ditanggung anak-anaknya.
"Belum," katanya akhirnya, membuka pintu kabin. Hujan menampar wajahnya, dingin dan tajam. "Kita tunggu subuh. Aku mau pikir dulu."
Topan mengangguk, meski jelas tak mengerti apa yang harus dipikir. Surudi turun, berdiri di bawah tirai gerimis, dan memandang jalan yang basah membentang keluar dari pelataran — jalan yang selama ini menghidupinya, dan yang malam ini terasa seperti mulut yang siap menelan.