Malam itu gudang Pak Hasan basah oleh gerimis yang baru reda, dan bau solar—tajam, menusuk hidung—menggantung di udara lebih kental daripada biasanya. Surudi memundurkan tronton pelan-pelan, matanya awas pada spion yang sudah buram karena embun, sementara Topan berdiri di luar mengomandokan dengan tangan, "Kiri sitik, Pak. Kiri sitik. Woy, mundur maning, oke—stop!"
Ban belakang berhenti tepat di bibir dermaga bongkar. Surudi mematikan mesin, dan dalam hening yang menyusul, ia mendengar sesuatu yang biasanya tak ia dengar: gemericik. Bukan gerimis di atap seng, tapi bunyi cairan yang menetes, teratur, dari sela-sela terpal yang menutup bagian belakang bak.
Ia turun, menyusuri sisi truk, mengendus. Baunya bukan bau oli, bukan solar sisa knalpot. Ini bau yang lebih segar, lebih murni—bau solar yang belum terbakar sama sekali.
"Ada yang bocor," katanya pada Pak Hasan, yang baru keluar dari kantor kecil berdinding tripleks dengan sarung dililit sebatas dada, seolah baru bangun meski jam belum menunjukkan pukul sepuluh malam.
Pak Hasan tak langsung menjawab. Ia mendekat, menyorotkan lampu senter kecil ke kolong bak, lalu buru-buru memadamkannya seolah cahaya itu sendiri berbahaya.
"Nggak apa-apa itu, Dik Surudi. Rembesan biasa."
"Rembesan dari mana? Muatan sampeyan kan barang kelontong. Kardus, karung. Kok bau solar?"
Dua anak buah Pak Hasan sudah naik ke atas bak, membuka simpul tali dengan gerakan yang menurut Surudi terlalu cekatan untuk orang yang cuma membongkar kardus mi instan dan sabun cuci. Ketika terpal disingkap, di antara kardus-kardus itu berjajar drum-drum biru, ukuran sedang, tersembunyi rapi di bagian tengah bak seperti biji di antara daging buah.
Surudi berdiri di situ, menatap drum-drum itu lama-lama, dan sesuatu di dadanya mengeras.
"Pak Hasan," katanya, pelan tapi tak bisa disembunyikan getarnya, "saya bawa apa selama ini?"
Pak Hasan menggosok tengkuknya. Di bawah lampu bohlam kuning yang tergantung telanjang dari kabel gudang, wajahnya kelihatan lebih tua daripada biasanya, garis-garis di dahinya seperti retakan tanah kemarau.
"Duduk dulu, Dik. Ngopi dulu."
"Saya nggak butuh kopi. Saya butuh tahu apa yang saya bawa lewat Sitinjau, lewat pos-pos Codet, atas nama surat jalan PO Bahari."
Topan sudah berhenti mengomando, berdiri di dekat pintu kabin dengan tangan masih kotor oli, memandang bergantian antara Surudi dan Pak Hasan seperti anak kecil yang menangkap orang tuanya bertengkar.
Pak Hasan menghela napas panjang, dan ketika ia bicara lagi suaranya turun, seperti orang yang capek menahan sesuatu terlalu lama.
"Sebagian," katanya. "Cuma sebagian, Dik. Bukan tiap trip. Kadang ada titipan... solar subsidi. Yang harusnya buat nelayan, buat petani, dijual murah pakai kartu kendali. Tapi ada yang nampung banyak-banyak, terus dijual lagi ke industri, ke kapal-kapal, harga pasar. Untungnya, ya, Dik tahu sendiri lah, gede."
"Dan itu ilegal."
"Ya jelas ilegal." Pak Hasan menatap lantai gudangnya yang basah oleh rembesan solar dari drum yang retak. "Makanya ongkosnya digandakan. Bukan cuma karena jauh, bukan cuma karena Sitinjau. Tapi karena barangnya... barang yang orang lain juga mau."
Surudi merasa sesuatu di kepalanya menyusun sendiri, cepat, seperti puzzle yang tiba-tiba menemukan potongan hilangnya. Ia teringat pos-pos Codet yang selalu tahu jadwalnya. Teringat pengecer solar yang tiba-tiba menolaknya begitu ia belum setor. Teringat Herman yang selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali Surudi bertanya soal isi muatan.
"Codet," ucapnya, bukan pertanyaan.
Pak Hasan tak menjawab, tapi diamnya sudah cukup jadi jawaban.
"Codet nguasai solar sepanjang rute ini," lanjut Surudi, suaranya makin tajam meski ia berusaha menahan diri di depan anak buah gudang yang pura-pura sibuk menurunkan kardus. "Dia yang atur siapa boleh isi, siapa nggak. Kalau PO Bahari juga main solar subsidi—berarti saya bawa barang dagangan saingan Codet sendiri, lewat jalan yang Codet anggap miliknya."
"Saya nggak nyuruh sampeyan tahu ini, Dik." Pak Hasan mengangkat tangan, hampir memohon. "Saya cuma nerima, nyimpen, nunggu pembeli jemput. Itu saja kerjaan saya. Yang atur jalur, yang atur siapa nyupir, itu urusan PO Bahari sama Herman."
"Tapi truk saya yang lewat. Nama saya yang dicatat di pos-pos itu. Nyawa saya yang dipertaruhkan tiap kali Tikungan Seribu berkabut." Surudi menatap drum-drum biru itu seperti menatap musuh yang selama ini menyamar jadi kardus mi instan. "Saya dibayar dobel bukan karena rute berbahaya, Pak Hasan. Saya dibayar dobel karena saya bawa perang."
Tak ada yang menjawab. Hanya gemericik solar yang masih menetes dari drum retak, jatuh ke lantai semen, membentuk genangan kecil yang berkilau di bawah bohlam kuning.
Topan mendekat, suaranya pelan, hampir berbisik, seolah takut kata-katanya sendiri bisa memancing sesuatu dari kegelapan gudang. "Pak Surudi... kalau gitu, kita berhenti aja? Nggak usah ambil lagi?"
Surudi tak langsung menjawab. Ia memandangi truknya, Hino tua yang selama ini ia percaya sebagai kawan, kini terasa seperti kandang yang diam-diam menyimpan bara. Ia memikirkan leasing, lima angsuran yang menumpuk, anak bungsunya yang baru diterima SMA. Ia memikirkan ongkos dobel yang selama ini terasa seperti berkah, kini terasa seperti upah dari sesuatu yang jauh lebih kotor daripada solar oplosan yang pernah membuat mesinnya tersendat.
"Belum," katanya akhirnya, suaranya berat. "Belum bisa berhenti. Tapi mulai malam ini, saya nggak jalan buta lagi."
Ia melangkah mendekati drum-drum biru itu, menyentuh permukaannya yang dingin dan basah, seperti menyentuh sesuatu yang baru saja mengaku dosa padanya. Di luar, gerimis mulai turun lagi, menabuh atap seng gudang dengan irama yang tak sabar, seolah jalanan sendiri sedang menghitung mundur berapa lama lagi Surudi bisa terus berpura-pura tak tahu apa yang sebenarnya ia bawa.