Jalan lurus di antara Menggala dan Kayuagung punya cara sendiri untuk membunuh sopir. Bukan dengan tikungan, bukan dengan jurang. Ia membunuh dengan kesabaran. Aspal yang sama, pohon karet yang sama, garis putih yang putus-putus dan berulang seperti detak jarum jam raksasa. Surudi tahu jalan macam ini. Ia sudah dua puluh lima tahun mengenalnya. Justru karena ia mengenalnya, ia lengah.
Sudah dua malam Hino itu tak benar-benar berhenti. Sejak melihat truk sopir pembangkang menyala di bahu jalan, sesuatu di dalam dada Surudi ikut menyala dan tak mau padam. Ia memacu terus, seolah dengan bergerak ia bisa meninggalkan bau daging dan karet terbakar itu di belakang. Topan tertidur di sampingnya, kepala miring ke kaca, mulut sedikit terbuka. Anak itu lelah. Surudi membiarkannya. Biar satu dari mereka mengumpulkan tenaga.
Jam di dashboard menunjuk pukul tiga lewat. Kabut tipis mulai turun, tapi tak setebal di Tikungan Seribu. Ini kabut jinak, kabut yang cuma membuat lampu-lampu jauh jadi kabur bulat. Surudi mengedip. Matanya terasa berpasir. Ia menggosoknya dengan punggung tangan, dan untuk sesaat garis-garis putih di aspal bergabung menjadi satu pita panjang yang berdenyut.
Ia menepuk pipinya sendiri. Menyanyi kecil, lagu lama yang ia sendiri lupa judulnya. Menurunkan kaca sedikit agar angin malam menampar mukanya. Semua trik lama yang dulu selalu berhasil. Dulu. Malam ini angin cuma membawa dingin, bukan sadar.
Ia memikirkan Tuminah. Memikirkan uang receh yang diselipkannya untuk solar cadangan, koin-koin yang masih tergeletak di laci dashboard, dingin. Memikirkan anak bungsunya yang katanya bangga punya ayah sopir. Pikiran-pikiran itu biasanya menjaganya tetap terjaga. Malam ini justru sebaliknya. Pikiran itu jadi hangat, jadi selimut, jadi sesuatu yang ingin ia peluk dengan menutup mata sebentar saja. Sebentar saja.
Kelopaknya turun.
Tak ada peringatan. Tak ada rasa kantuk yang menjalar perlahan seperti yang orang bayangkan. Yang ada cuma satu ketiadaan pendek, sekelam kedip yang lupa dibuka. Sepersekian detik. Di jalan lurus, sepersekian detik itu adalah dua puluh meter. Dua puluh meter di mana tak seorang pun memegang jalan.
Roda depan kanan menggigit bahu jalan. Getaran kasar menjalar naik dari setir ke lengannya, dan Hino itu miring, berat muatan di belakang menariknya seperti tangan besar ke arah parit.
"Pak!"
Topan sudah bangun. Sudah menerkam setir. Tangan mudanya menutupi tangan tua Surudi di kemudi, memutar berlawanan, tidak panik, tidak kasar — sebuah putaran yang terukur, seperti yang diajarkan Surudi sendiri di jalanan Padang berhari-hari lalu. Jangan sentak. Kembalikan pelan. Biar truknya yang cari jalan sendiri.
Hino menggeram, oleng, ban belakang menghambur kerikil ke rerumputan, lalu perlahan-lahan menemukan aspal lagi. Surudi menginjak rem angin. Desis panjang. Truk berhenti di tepi jalan, mesin masih hidup, keduanya terengah seolah baru saja berlari.
Untuk beberapa saat tak ada yang bicara. Cuma bunyi mesin diesel yang idle dan detak jantung Surudi sendiri di telinganya.
"Bapak ketiduran." Topan tidak bertanya. Ia menyatakan. Suaranya bergetar, bukan karena marah, tapi karena baru saja melihat maut lewat sedekat itu.
Surudi ingin membantah. Reflek dua puluh lima tahun ingin berkata mata sopir cuma istirahat sekejap, bukan tidur, aku tahu bedanya. Tapi ia melihat tangannya sendiri masih di setir, dan tangan itu gemetar. Bukan gemetar tua. Gemetar orang yang tahu ia hampir membunuh dua orang.
"Iya," katanya akhirnya. Cuma itu.
Kata sependek itu terasa berat di mulutnya. Dua puluh lima tahun ia tak pernah mengucapkannya. Tak pernah perlu.
Topan menyandarkan punggung, menghela napas panjang. "Untung jalannya lurus."
"Untung kamu bangun." Surudi mematikan lagu di kepalanya yang tadi gagal menjaganya. "Kamu dengar? Untung kamu bangun. Bukan aku."
Anak itu menoleh, seakan tak yakin telah mendengar benar. Selama ini yang mengajar selalu Surudi. Yang membaca jalan, yang tahu tanda bahaya, yang menyelamatkan. Sekarang lelaki tua di sebelahnya sedang menyerahkan sesuatu, dan Topan belum tahu harus diapakan.
"Dulu," kata Surudi, matanya lurus ke kabut di depan, "aku bisa Bandar Lampung sampai Padang, balik lagi, tanpa merem barang sekejap. Mataku bisa baca jalan dalam gelap seperti baca telapak tangan sendiri." Ia berhenti. "Mata itu sekarang bohong sama aku, Topan. Garis di aspal jadi dua. Lampu jadi bulat-bulat. Dan aku masih saja ngeyel, mengira aku yang dulu."
"Bapak capek. Semua orang capek."
"Capek bisa istirahat. Tua tidak." Ia menepuk setir pelan, hampir sayang, seperti menepuk leher kuda yang sudah renta. "Aku tadi bukan cuma capek. Aku hilang. Sepersekian detik aku nggak ada di jalan ini. Kalau kamu telat bangun sedetik saja—"
Ia tak menyelesaikannya. Tak perlu. Parit di sebelah kanan sudah menyelesaikannya untuk mereka berdua.
Topan diam sebentar. Lalu, dengan hati-hati, seperti murid yang takut salah, ia berkata, "Kalau begitu bagi tugas. Bapak yang baca jalan susah — tanjakan, kabut, tikungan. Aku yang jaga jalan lurus yang bikin ngantuk. Bapak tidur beneran waktu aman. Bukan curi-curi merem."
Surudi menoleh pada anak itu. Wajah muda yang tadi banyak tanya, yang canggung waktu pertama naik kabin, sekarang mengajukan sesuatu yang masuk akal, sesuatu yang menjaga mereka berdua hidup. Ada rasa bangga yang aneh, tercampur getir. Bangga karena ia sudah mengajar dengan benar. Getir karena murid sekarang harus menjaga gurunya.
"Kamu belajar cepat," gumam Surudi.
"Bapak gurunya galak." Topan mencoba tersenyum, dan senyum itu mencair sedikit ketegangan di dalam kabin.
Surudi tidak tertawa, tapi sudut matanya melunak. Ia melepas setir, membiarkan jarinya berhenti gemetar dulu. Di luar, kabut jinak itu bergulung pelan melintasi jalan, dan untuk pertama kalinya sejak melihat truk terbakar, Surudi mengizinkan dirinya menutup mata — kali ini di tempat berhenti, dengan seseorang berjaga di sebelahnya.
"Setengah jam," katanya, sudah setengah tenggelam. "Bangunkan aku setengah jam lagi. Jangan lebih."
"Iya, Pak."
Mesin diesel bergetar rendah menemani. Topan tetap terjaga, tangannya siap di dekat rem tangan, matanya pada jalan lurus yang membentang kosong menuju subuh. Di sampingnya, seorang sopir tua tidur untuk pertama kalinya dengan jujur mengakui bahwa ia butuh tidur.