Kantor PO Bahari menempati ruko dua lantai di tepi jalan dekat terminal, dengan plang yang catnya sudah pudar dan halaman yang dipenuhi truk parkir berjajar seperti gigi tua. Surudi datang siang, setelah tidur tujuh jam yang terasa seperti dua, dengan baju paling rapi yang ia punya — kemeja kotak-kotak yang lengannya ia gulung. Ia tahu cara berpakaian untuk berunding. Sopir yang datang lusuh akan ditawar lusuh.
Yang menemuinya bukan juragan, tapi Pak Gani, kepala armada, lelaki gemuk berkacamata yang berkeringat meski kipas angin menderu. Di meja sudah ada map, dan map itu sudah terbuka, dan itu pertanda pertama bahwa mereka yakin Surudi akan tanda tangan. Orang tak membuka map untuk tamu yang mungkin menolak.
"Pak De," kata Gani, mempersilakan duduk. "Langsung saja, ya. Kami butuh satu unit angkut ke Padang. Alat berat — satu excavator mini, plus sembako penuh bak. Sekali jalan, Lampung tembus, lewat lintas tengah ke barat, naik ke Padang. Ongkosnya dua kali tarif normal."
Surudi tidak langsung tergiur, karena dua puluh lima tahun mengajarinya bahwa angka yang terlalu manis selalu menyembunyikan sesuatu yang pahit di baliknya. Ia menyeruput kopi yang disuguhkan, dan bertanya hal yang sebenarnya. "Kenapa dobel, Pak Gani? Tarif tidak naik dua kali kecuali ada yang dua kali lebih susah."
Gani tersenyum, dan senyumnya mengakui bahwa Surudi tak bisa dibodohi. "Tenggatnya ketat," ia mengaku. "Barangnya harus sampai di proyek Padang sebelum tanggal lima belas. Hari ini tanggal delapan. Tujuh hari."
Surudi menghitung di kepala. Lampung ke Padang lewat lintas yang harus ia tempuh, dengan muatan alat berat yang membuat truk lamban di tanjakan, dengan antrean timbang, dengan Sitinjau yang tak bisa diburu — tujuh hari itu mungkin. Mungkin, kalau semuanya berjalan benar. Kalau tak ada longsor, tak ada feri yang penuh, tak ada rem yang minta istirahat. Tujuh hari adalah waktu yang dirancang untuk seseorang yang tak boleh berhenti.
"Sopir mana yang sudah menolak ini?" tanya Surudi tenang.
Gani tertawa kecil, tertangkap. "Tiga, Pak De. Tapi mereka muda. Tak hafal jalan seperti sampean."
Dan di situlah jebakannya, Surudi tahu — bukan di muatan, bukan di tikungan. Di harga dirinya. Mereka tahu bahwa seorang sopir tua yang dijuluki guru jalan tak akan bisa menolak rute yang ditolak anak-anak muda tanpa merasa ikut menua. Tapi Surudi bukan datang demi harga diri. Ia datang demi lima angsuran, dan ongkos dobel ini, kalau utuh sampai kantong, bisa membayar tiga sekaligus. Tiga dari lima. Ia hampir bisa melihat garis akhir itu.
"Kontraknya," kata Surudi, dan menarik map ke arahnya.
Ia membaca pelan, jari menyusuri tiap baris, karena di balik bahasa yang dibuat berbelit selalu ada gigi. Dan ia menemukannya di paragraf bawah. Klausul denda. Setiap hari keterlambatan dari tanggal lima belas dipotong dari ongkos — bukan sedikit, tapi seperlima ongkos per hari. Lima hari telat, ongkos habis. Lebih dari itu, ia berutang ke PO. Dan baris berikutnya yang membuat tengkuknya dingin: bila gagal mengantar, biaya muatan dan kerugian proyek menjadi tanggungan pengemudi, dijamin dengan unit kendaraan.
Surudi membaca kalimat itu dua kali. Dijamin dengan unit kendaraan. Trukku, pikirnya. Mereka tak perlu menarik trukku lewat leasing. Mereka cukup membuatku telat, dan trukku jadi milik mereka, sah, di atas materai. Inilah perangkapnya. Ongkos dobel adalah umpan yang berkilau di mulut perangkap yang giginya adalah trukku sendiri.
"Pak Gani," katanya, menaruh map. "Klausul ini bilang kalau aku telat, aku kehilangan truk."
Gani mengangkat tangan, berkeringat lebih deras. "Itu formalitas, Pak De. Asal sampean sampai, tak ada masalah. Sampean kan guru jalan." Pujian itu, lagi. Dipakai seperti pelumas.
Surudi diam lama. Ia bisa berdiri sekarang, keluar, pulang ke Tuminah dan berkata sudah, aku berhenti. Itu hal yang waras. Tapi waras tidak membayar lima angsuran. Waras berarti jual truk rugi dan jaga gudang Pak Hasan. Sementara di atas meja ini ada jalan — sempit, berbahaya, dirancang untuk membuatnya gagal — tapi jalan, menuju truk yang lunas dan bebas. Ia bukan tak melihat perangkapnya. Ia melihatnya jelas. Hanya saja, untuk orang yang sudah berdiri di tepi jurang utang, perangkap yang menawarkan tali kadang lebih menggoda daripada tanah datar yang menuju ke tepi yang sama, hanya lebih pelan.
Pintu terbuka dan seorang anak muda masuk tanpa diundang, mengunyah sesuatu, topi dibalik. Dua puluh dua tahun mungkin, kurus, dengan mata yang belum pernah melihat apa pun yang membuatnya takut betul. "Ini Topan," kata Gani, lega ada yang memecah ketegangan. "Kenek. Anak kawan juragan. Dititipkan biar belajar. Sampean bawa, ya, Pak De. Sekalian ada yang ganti nyetir kalau sampean ngantuk."
Topan menyodorkan tangan dengan cengiran. "Saya sudah bisa nyetir, Pak. Cuma belum pernah Sumatra. Tapi katanya cuma jalan biasa, kan? Lurus-lurus saja."
Surudi memandang tangan itu, lalu memandang map dengan klausul yang akan memakan trukku, lalu memandang anak muda yang mengira lintas Sumatra adalah jalan lurus. Ia menjabat tangan Topan, karena sopir tak meninggalkan sopir, bahkan yang belum jadi sopir, bahkan yang dititipkan jadi beban. Lalu ia menarik map, membaca sekali lagi denda harian itu, mengambil pulpen dari saku Gani, dan menandatangani namanya di bawah perangkap yang ia tahu betul adalah perangkap. "Berangkat lusa subuh," katanya. "Aku perlu sehari periksa truk." Gani tersenyum lebar dan menyalami berkali-kali. Topan bersorak kecil. Hanya Surudi yang tahu bahwa ia baru saja mempertaruhkan satu-satunya hal yang ia punya untuk merebut lima angsuran terakhir, dan bahwa jalan tak pernah ramah pada orang yang bertaruh dengan seluruh isi kantongnya.