Api masih menyala kecil di bagian kabin ketika Surudi menepikan Hino-nya, seratus meter dari kerumunan yang berdiri kaku di bahu jalan. Bau karet terbakar dan solar hangus menusuk lebih dulu daripada pemandangannya sendiri—asap hitam yang mengepul lurus ke langit tanpa angin, seolah malam pun enggan mengganggunya.
"Itu truk siapa, Pak?" Topan sudah setengah berdiri di kursinya, memegang pegangan pintu seperti mau melompat turun sebelum truk benar berhenti.
Surudi tidak menjawab. Ia menarik rem tangan, mematikan mesin, dan turun pelan-pelan seperti orang mendekati sesuatu yang bisa saja masih hidup dan masih bisa menggigit.
Kerumunan itu sopir-sopir juga—ia kenal beberapa dari wajah, dari logat, dari cara mereka berdiri menjaga jarak yang sama: cukup dekat untuk melihat, cukup jauh untuk bisa bilang aku-tidak-ikut-campur kalau ditanya nanti. Tak ada yang bicara keras. Semua berbisik, dan bisik-bisik itu berhenti setiap kali ada yang menoleh ke arah datangnya lampu truk baru.
Truk yang terbakar itu tronton juga, lebih tua dari Hino Surudi, catnya sudah lama luntur jadi cokelat tanah. Bak dan kabinnya menyatu jadi kerangka hitam, ban-bannya meleleh rata dengan aspal, meninggalkan genangan karet yang masih berasap tipis. Di kaca depan yang sudah pecah dan menghitam, ada sisa tulisan kapur yang separuh terbakar, tapi masih bisa dibaca: JANGAN COBA-COBA.
"Punya Kang Marzan," kata seseorang di dekat Surudi, suaranya nyaris tak terdengar. "Yang ikut kumpul di rumah makan kemarin. Yang paling keras ngomong soal nggak usah setor."
Surudi merasa dadanya dingin, bukan karena kaget—karena tidak kaget. Ia justru sudah menduga sesuatu seperti ini akan datang, hanya belum tahu secepat apa, dan pada siapa.
Ia mencari sosok Marzan di antara wajah-wajah yang berjaga jarak itu, dan menemukannya duduk di parit kering, jauh dari cahaya api, dipeluk sebuah selimut tipis yang entah siapa yang memberikan. Tangannya gemetar memegang rokok yang tak dinyalakan. Ada luka lecet di pelipisnya, dan matanya menatap kosong ke aspal, seperti orang yang baru saja menyaksikan miliknya sendiri mati di depan mata.
Surudi berjongkok di depannya. "Kang. Kang Marzan."
Butuh waktu sebelum mata itu bergerak, mengenali. "Surudi..." Suaranya serak, patah-patah. "Aku baru... aku baru istirahat sebentar. Tidur dua jam. Bangun-bangun sudah kayak gini."
"Ada yang lihat siapa yang bakar?"
Marzan menggeleng cepat, terlalu cepat. "Nggak ada. Nggak ada yang lihat, Rud. Gelap. Nggak ada yang lihat."
Padahal jelas sekali ada yang lihat—setengah kerumunan itu berdiri di sini sebelum Surudi datang, dan api sebesar itu tidak menyala sendiri dalam diam. Tapi Surudi tidak memaksa. Ia sudah cukup lama di jalan ini untuk tahu bahwa "nggak ada yang lihat" adalah kalimat yang diucapkan orang-orang yang justru melihat segalanya, dan memilih untuk tidak pernah mengingatnya lagi.
Dari arah pos terdekat, sebuah mobil patroli akhirnya datang, lampunya berputar malas seperti tak yakin perlu terburu-buru. Dua petugas turun, berjalan mengelilingi bangkai truk sambil sesekali mengangguk-angguk, mencatat sesuatu di buku kecil. Salah satu dari mereka bertanya siapa pemiliknya, dan ketika Marzan mengangkat tangan gemetar, petugas itu hanya berkata, "Nanti bikin laporan di pos, ya, Pak. Kemungkinan korsleting kelistrikan."
Korsleting. Di tengah malam, di truk yang parkir, tanpa muatan, tanpa mesin menyala.
Surudi berdiri, rahangnya mengeras, tapi ia tidak membantah. Sarki muncul di sampingnya entah sejak kapan, wajahnya pucat oleh cahaya bara yang masih menyisakan panas.
"Ini bukan korsleting, Rud," bisik Sarki, matanya masih ke arah petugas yang sudah kembali ke mobil patroli. "Ini surat. Buat semua yang kemarin duduk di rumah makan itu."
"Termasuk aku."
"Termasuk kau." Sarki menatapnya lekat. "Kau lihat sendiri sekarang. Bukan cuma ngomong doang, bukan cuma ancam-ancaman kosong. Mereka bakar truk orang, dan yang punya cuma bisa duduk gemetar bilang nggak ada yang lihat. Itu jawabannya kalau kau tanya, apa harga melawan Codet."
Topan berdiri agak jauh, memandangi kerangka truk yang masih menyisakan asap, kedua tangannya dimasukkan dalam-dalam ke saku celana seolah menahan diri supaya tidak gemetar kelihatan. Ketika Surudi mendekat, ia bertanya pelan, seperti anak kecil yang baru pertama kali tahu bahwa dunia bisa sejahat itu.
"Itu bisa... itu bisa kejadian sama kita, Pak?"
Surudi tidak langsung menjawab. Ia menatap tulisan kapur yang separuh hangus di kaca itu, JANGAN COBA-COBA, dan membayangkan Hino-nya sendiri berdiri di tempat truk Marzan sekarang, rangkanya hitam, bannya jadi genangan karet.
"Bisa," katanya akhirnya, jujur, karena ia sudah terlalu lama di jalan untuk membohongi anak sekeneknya dengan kata-kata manis. "Makanya kita harus pintar, Pan. Bukan berani-beranian buta."
Ia menepuk bahu Marzan sekali, tak tahu harus bilang apa lagi selain itu, lalu berjalan kembali ke Hino-nya. Di belakangnya, kerumunan mulai bubar satu-satu, tak ada yang berpamitan, tak ada yang menoleh lagi ke arah bangkai truk yang mereka tinggalkan—seolah dengan tidak menoleh, mereka bisa berpura-pura tidak pernah benar-benar berada di sana.
Sepanjang sisa jalan malam itu, Surudi mengemudi dalam diam yang lebih berat daripada biasanya, tangannya mencengkeram setir lebih erat dari yang dibutuhkan tikungan mana pun. Di kaca spionnya, cahaya bara Marzan makin mengecil, makin jauh, sampai akhirnya hanya jadi titik merah kecil yang tenggelam dalam gelapnya lintas—satu lagi peringatan yang ditinggalkan di bahu jalan, menunggu sopir berikutnya yang lewat dan membaca artinya sendiri.