Malam itu rumah makan di pinggir lintas, tak jauh dari perbatasan Jambi, penuh sesak oleh truk. Surudi menghitung dari kabin sebelum turun—enam tronton, tiga truk engkel, semuanya parkir berjajar dengan lampu sein mati dan mesin yang masih berdesis pelan seperti nafas yang ditahan. Bukan pemandangan biasa. Biasanya sopir singgah sendiri-sendiri, makan cepat, tidur sebentar di atas jok, lalu jalan lagi sebelum subuh mengejar setoran waktu. Malam ini mereka berkumpul seperti orang menunggu sesuatu diputuskan.
“Rame, Pak,” kata Topan, menurunkan kaca sedikit, mencium udara yang bercampur asap knalpot dan minyak goreng bekas.
Surudi tidak menjawab. Ia memarkir Hino agak menjorok ke ujung, dekat gorong-gorong, tempat ia bisa melihat pintu keluar tanpa harus menoleh jauh. Dua puluh lima tahun di jalan mengajarinya satu hal yang tak pernah ia lupa: kalau mau pergi cepat, jangan pernah parkir di tengah.
Di dalam, asap kretek mengambang di bawah lampu neon yang berkedip-kedip. Ujang berdiri di antara meja-meja yang didorong jadi satu, wajahnya masih muda tapi matanya sudah punya garis keras orang yang terlalu sering menatap jalan gelap. Ia bicara dengan suara yang sengaja ditekan supaya tidak sampai ke jalan, tapi cukup keras untuk menusuk setiap sopir yang duduk melingkarinya.
“Kita ini yang bawa barang, yang pertaruhkan nyawa di tanjakan, yang kena kabut di Tikungan Seribu—tapi yang makan duitnya orang Codet. Setor per rit, setor kalau lewat, setor kalau mau isi solar. Kapan kita berhenti nyetor buat jalan yang harusnya milik negara?”
Beberapa kepala mengangguk. Ada yang bertepuk tangan pelan, buru-buru dihentikan karena takut kedengaran keluar. Surudi berdiri di dekat pintu, tak ikut duduk, memesan kopi yang belum juga ia sentuh. Ia mengenal separuh wajah di ruangan itu—dari SPBU yang sama, dari antrean jembatan timbang yang sama, dari cerita-cerita yang saling dioper dari kabin ke kabin.
“Gampang ngomong kalau truk masih utuh, Jang,” suara Sarki menyahut dari sudut, agak serak karena rokok. Kawan lama Surudi itu duduk membungkuk, tangannya masih dibalut karena luka bakar knalpot minggu lalu. “Kau baru dua tahun jalan sini. Aku sudah lihat berapa yang nekat kayak kau, ujungnya truk hangus atau kaki patah.”
“Terus kita diem aja, Pak Sarki? Sampai kapan?” Ujang menatap sekeliling, lalu matanya jatuh ke Surudi yang berdiri di ambang pintu. “Pak Surudi. Sampeyan yang paling dihormati di jalur ini. Kalau sampeyan bilang ikut, separuh yang di sini bakal ikut juga.”
Semua mata berpindah. Surudi merasa berat itu turun ke pundaknya seperti muatan yang belum ditimbang. Ia menyesap kopinya yang masih terlalu panas, sekadar mengulur waktu.
“Aku dengar,” katanya akhirnya, pelan. “Tapi aku belum bisa bilang ikut.”
Ruangan itu tidak riuh, tapi kekecewaan menjalar seperti asap yang menipis. Ujang menahan diri, tidak membantah langsung, hanya mengangguk kaku.
“Kenapa, Pak?”
Surudi memandangi kopinya. Ia bisa bicara soal baut roda yang pernah dikendurkan orang, soal Gimbal yang datang menagih dengan senyum yang lebih mengancam daripada golok, soal leasing yang tinggal menghitung hari sebelum menarik Hino-nya. Tapi semua itu terlalu panjang untuk diucapkan di depan orang banyak. Ia hanya berkata, “Aku punya anak mau masuk SMA. Aku punya angsuran yang belum lunas. Kalau aku ikut kalian malam ini, dan besok truk aku dibakar kayak punya si Tono kemarin, siapa yang kasih makan anak-bini aku?”
Tak ada yang membantah. Beberapa sopir menunduk, teringat keluarga masing-masing. Sarki menepuk bahunya sendiri, seolah membenarkan.
“Tapi aku juga nggak bilang kalian salah,” lanjut Surudi, menatap Ujang. “Cuma aku belum berani. Belum waktunya.”
Ujang menghela napas, lalu tersenyum kecut, tetap menghormati. “Ya sudah, Pak. Yang penting sampeyan tahu, kalau nanti kita gerak, sampeyan nggak akan aku tinggal.”
Topan, yang duduk di kursi paling belakang sejak tadi diam, memandangi Surudi dengan tatapan yang sulit dibaca—antara kagum dan sedikit kecewa. Surudi menangkap tatapan itu tapi memilih tak menanggapinya di sana.
Pertemuan bubar sedikit demi sedikit, satu-dua truk pergi lebih dulu supaya tidak berangkat bergerombol dan mencurigakan. Surudi menyuruh Topan menghidupkan mesin, hendak berangkat paling akhir seperti biasa.
Saat ia melangkah ke pelataran, matanya menangkap sesuatu di seberang jalan—sebuah motor bebek tanpa plat depan, mesin menyala pelan, seorang lelaki duduk di atasnya sambil menghisap rokok, tak makan, tak minum, hanya menonton pintu rumah makan sejak entah kapan. Ketika mata mereka bertemu sekejap, lelaki itu tidak buru-buru membuang muka. Ia malah tersenyum tipis, membuang puntung rokoknya, lalu menyalakan motor dan melaju pelan ke arah Jambi—arah yang sama dengan pos Codet paling dekat.
Surudi berdiri sebentar di antara asap knalpot yang mengambang, merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tengkuknya, lebih dingin dari kabut Sitinjau sekalipun. Ia naik ke kabin tanpa bicara.
“Kenapa, Pak?” tanya Topan, melihat wajahnya.
“Nggak apa-apa,” jawab Surudi, memasukkan gigi satu. Tapi tangannya menggenggam setir lebih erat dari biasanya, dan matanya terus mengawasi spion sepanjang jalan keluar, seolah menunggu sesuatu yang sudah pasti akan datang, cuma belum tahu kapan.