Surudi menepikan Hino di depan gang sempit menjelang magrib, mesin dimatikan, tapi telinganya masih mendengung suara jalan seperti gaung yang enggan pergi. Ia turun pelan-pelan, lutut kanan berbunyi seperti biasa, dan bau solar dari bajunya masih menempel meski sudah tiga jam meninggalkan Sitinjau. Rumah kontrakan itu kecil, dindingnya separuh bata separuh papan, tapi lampu di terasnya menyala kuning hangat, dan itu cukup membuat dadanya longgar untuk pertama kalinya sejak berangkat.
Tuminah membuka pintu sebelum ia mengetuk, seolah sudah menghitung waktu dari suara mesin truk yang mendekat sejak ujung gang. Wajahnya berusaha tersenyum lebih dulu daripada berbicara, dan Surudi mengenali itu—senyum yang dipasang seperti orang menutup jendela sebelum hujan masuk.
"Sudah makan di jalan, Pak?" tanyanya, mengambil tas kain berisi baju kotor dari tangan Surudi.
"Singgah di warung Jambi tadi." Surudi melepas sandal jepitnya di depan pintu, matanya sekilas menangkap sesuatu di balik daun pintu—selembar kertas terlipat kasar, ujungnya menyembul dari balik lemari kayu, seperti buru-buru disembunyikan. Ia tak bertanya. Ada banyak hal yang lebih baik ditanya nanti, setelah badan berhenti berdenyut karena jalan.
Dari kamar dalam terdengar suara berlari kecil, lalu anak bungsunya muncul dengan buku catatan masih di tangan, rambutnya berantakan sisa tidur siang. "Bapak pulang!" Ia memeluk pinggang Surudi, wajahnya mendongak dengan mata yang masih menyisakan kekaguman anak-anak pada bapaknya yang mengemudikan sesuatu yang besar dan berisik di jalan raya.
"Kenapa belum belajar?" Surudi mengusap kepala anaknya, suaranya berat tapi lembut, gaya bicara yang hanya keluar di rumah, tak pernah di kabin truk.
"Sudah, Pak. Tadi Bu Guru suruh bikin karangan judulnya 'Pekerjaan Orang Tua'." Anak itu membuka buku catatannya dengan bangga, menunjukkan tulisan tangan yang masih miring-miring. "Aku tulis Bapak sopir tronton, bawa barang dari Padang sampai jauh. Teman-teman pada kagum, katanya truk Bapak gede banget kalau lewat depan sekolah."
Surudi tertawa pendek, tapi tawa itu tak sampai ke matanya. Ia membayangkan truk Hino tua yang baru saja nyaris tak kuat di Sitinjau, ban yang mulai gundul di sisi dalam, dan rem angin yang kadang menahan napas lebih lama dari biasanya sebelum menggigit. Anaknya melihat truk itu sebagai sesuatu yang gagah. Surudi tahu persis berapa banyak keringat dan hitungan yang membuatnya tetap berjalan.
"Bapak bangga," katanya, dan itu bukan basa-basi. Ia benar-benar bangga—hanya saja kebanggaan itu bercampur sesuatu yang lebih pahit, semacam rasa bersalah karena kebanggaan anak itu dibangun di atas sesuatu yang tiap malam membuatnya terjaga menghitung solar dan setoran.
Makan malam sederhana—nasi, ikan asin, sayur bening—tapi Tuminah menata piring seperti hari biasa yang aman-aman saja, tidak seperti rumah yang baru saja menerima surat leasing kedua. Surudi memperhatikan tangan istrinya saat menuang air ke gelasnya, sedikit gemetar, lalu cepat-cepat disembunyikan dengan merapikan taplak meja.
"Ada yang datang ke sini?" akhirnya ia bertanya, setelah anak bungsunya kembali ke kamar untuk menyelesaikan PR.
Tuminah menjawab terlalu cepat. "Nggak ada, Pak. Aman-aman saja." Matanya menghindari tatapan Surudi, jatuh ke piring yang sudah kosong.
Surudi tidak mendesak. Ia sudah dua puluh lima tahun membaca jalan yang licin dari kejauhan, dan ia tahu wajah istrinya sedang menyembunyikan sesuatu seperti jalan yang tampak rata tapi menyimpan lubang di baliknya. Ia berdiri, pura-pura ingin minum, lalu berjalan ke arah lemari kayu tempat kertas terlipat itu tadi menyembul.
"Pak—" Tuminah bergerak, tapi terlambat.
Kertas itu sudah di tangan Surudi. Surat dari leasing, cap merah SEGERA LUNASI di sudut atas, angka tunggakan lima kali angsuran ditulis tebal, dan di bawahnya ancaman penarikan unit dalam waktu tak lebih dari tiga minggu. Ada juga coretan tangan Tuminah sendiri di pinggir kertas—hitungan kecil, uang arisan, uang jual perhiasan yang mungkin sudah dipikirkan, dicoret, dihitung ulang.
"Kenapa nggak bilang dari kemarin?" suara Surudi tidak keras, tapi berat seperti gigi persneling yang dipaksa masuk.
"Biar Bapak fokus di jalan," jawab Tuminah, dan kali ini tak ada lagi senyum yang dipasang. "Percuma Bapak dengar, cuma nambah beban di kepala waktu nyetir. Saya bisa atur, Pak. Saya cuma... belum ketemu caranya."
Surudi menatap kertas itu lama, lalu menatap istrinya, perempuan yang selama ini mengurus rumah dengan uang yang tak pernah cukup tapi selalu terlihat cukup di meja makan. Ia merasa sesuatu yang keras mengeras di dadanya, bukan amarah, melainkan tekad yang mengunci seperti rem tangan yang ditarik penuh.
"Nggak akan ditarik," katanya pelan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Tuminah. "Apa pun jalannya."
Ia melipat kertas itu, memasukkannya ke saku kemejanya sendiri, bukan mengembalikannya ke lemari. Biar ia yang membawa beban itu di jalan, biar tangannya yang merasakan beratnya tiap kali memegang setir. Dari kamar, suara anak bungsunya mengeja pelajaran dengan riang, tak tahu apa yang sedang ditimbang bapaknya di ruang tengah.
Malam itu, sebelum tidur, Surudi berdiri sebentar di depan Hino yang terparkir di ujung gang, menyentuh kap mesinnya yang masih hangat. Ia tidak tahu persis dari mana uang itu akan datang—entah dari trip dobel yang makin berbahaya, entah dari cara lain yang belum terpikir. Yang ia tahu, ia tak akan membiarkan truk itu diambil, tak akan membiarkan anaknya berhenti bangga menulis karangan tentang bapaknya. Ia menepuk pelan bodi truk seperti menepuk bahu kawan lama, lalu masuk ke rumah, membawa kertas leasing itu dekat ke dada seolah itu medan perang yang akan ia menangkan sendirian.