Mereka berhenti di pengecer solar sebelum Menggala ketika langit masih separuh gelap, warna timur baru sekadar noda jingga di balik pucuk-pucuk sawit. Surudi turun lebih dulu, membiarkan mesin Hino batuk dua kali sebelum diam. Bau solar menyergap, tajam dan akrab, bercampur asap rokok kretek dari orang-orang yang berjongkok di emper warung. Ia meregangkan punggung, mendengar tulangnya berbunyi pelan seperti engsel pintu tua.
"Isi penuh, Pak?" tanya penjaga pengecer, seorang lelaki kurus bercelana pendek.
"Setengah dulu," kata Surudi. "Sisanya nanti."
Ia tak pernah lagi mengisi penuh di satu tempat. Sejak sadar tiap selang di rute ini bisa dikunci atas satu perintah, ia belajar memecah cadangannya, menaruh di banyak titik, tak menggantungkan nyawa pada satu tangan. Ia melirik jerigen di bak, menghitungnya dalam kepala tanpa suara.
Topan tak ada di kabin.
Surudi tak langsung mencarinya. Anak itu barangkali kencing di balik pohon, atau membeli kopi. Tapi ketika Surudi berjalan memutari truk untuk memeriksa ban belakang—kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan sejak baut roda dikendurkan tempo hari—ia melihatnya. Di sudut warung, di balik tumpukan drum kosong yang menghalangi cahaya lampu petromaks, Topan berdiri berhadapan dengan seseorang.
Surudi mengenali punggung itu. Jaket kulit lusuh, rambut disisir licin ke belakang, cara berdiri yang malas tapi waspada. Orang Codet. Bukan Gimbal—yang ini lebih muda, lebih kurus—tapi Surudi hafal ragam orang-orang itu seperti ia hafal bunyi mesin yang sehat dan yang sekarat.
Ia berhenti. Ban belakang terlupakan.
Topan mencondongkan badan, bicara cepat dengan suara ditahan. Tangannya bergerak, menunjuk sesuatu, lalu turun lagi. Orang berjaket kulit itu mengangguk sekali, menepuk lengan Topan, dan menyelinap ke kegelapan di antara drum-drum. Semuanya berlangsung tak lebih dari setarikan napas.
Sesuatu dingin menjalar di dada Surudi. Bukan takut. Lebih seperti lantai yang tiba-tiba ia rasa tak sekokoh yang ia kira.
Ia menunggu. Membiarkan Topan menemukan wajahnya sendiri.
Anak itu berbalik, dan tubuhnya menegang sesaat melihat Surudi berdiri di sana, dengan tangan menggantung di sisi tubuh dan mata yang tak berkedip.
"Pak," kata Topan. Ia mencoba tersenyum, tapi senyum itu datang sepersekian detik terlambat. "Ban belakangnya kenapa? Saya kira Pak Surudi masih ngopi—"
"Siapa tadi?" Suara Surudi datar, seperti aspal panjang tanpa tikungan.
Topan berkedip. "Yang mana?"
"Yang barusan. Yang pergi lewat drum itu." Surudi menaikkan dagunya ke arah kegelapan. "Aku bukan buta, Pan. Belum. Mataku memang tak sekuat dulu, tapi punggung orang Codet masih bisa kubaca dari jauh."
Bahu Topan turun sedikit. Ia mengusap tengkuknya, gerak yang Surudi tahu dilakukan orang ketika mencari kalimat yang belum tersusun. "Itu... kawan lama, Pak. Dari kampung. Kebetulan ketemu di sini. Cuma nanya kabar."
"Kawan lama." Surudi mengulanginya pelan, mengunyah dua kata itu. "Kawan lama pakai jaket kulit dan berjongkok di pengecer solar sebelum subuh."
"Sumpah, Pak, cuma—"
"Jangan sumpah." Surudi memotong, tak keras, tapi cukup untuk membuat Topan bungkam. "Sopir yang gampang sumpah itu sopir yang gampang bohong. Aku sudah dua puluh lima tahun di jalan, Pan. Aku pernah dikhianati kernet, dikhianati juragan, dikhianati mesin yang kukira sehat. Aku tahu bunyi orang yang menyembunyikan sesuatu, sama seperti aku tahu bunyi kopling yang mau habis."
Topan menunduk. Petromaks di belakangnya membuat wajahnya separuh gelap, dan Surudi tak bisa membaca matanya—dan hal itu justru yang membuat perutnya makin dingin. Dua hari lalu ia masih bisa membaca anak ini seperti membaca peta lama. Sekarang ada halaman yang tersobek.
"Apa yang dia tanya?" desak Surudi.
"Nggak ada yang penting, Pak."
"Kalau nggak ada yang penting, kenapa kamu berdiri di balik drum? Kenapa nggak di depan warung, terang-terangan, biar aku lihat?"
Topan tak menjawab. Angin subuh menggeser debu di antara mereka, membawa bau solar dan tanah basah. Di kejauhan, seekor ayam mulai berkokok, terlalu dini, seperti keliru membaca langit.
Surudi menarik napas panjang. Ia teringat malam-malam ketika ia mengajari anak ini membaca rem angin, menakar tanjakan, mendengar tanda bahaya sebelum bahaya datang. Ia mulai—entah kapan tepatnya—menganggap Topan bukan sekadar kenek yang menumpang kabin, melainkan sepasang mata tambahan yang bisa ia percaya ketika matanya sendiri mengkhianatinya. Dan sekarang sepasang mata itu punya rahasia yang tak mau disebut namanya.
"Aku nggak akan memaksamu ngomong sekarang," kata Surudi akhirnya. Suaranya melunak, tapi bukan karena reda—karena lelah. "Tapi ingat satu hal. Di jalan ini, satu orang yang bocor bisa bikin sepuluh orang mati. Codet nggak butuh senjata buat membunuh sopir. Dia cukup tahu kapan kita lewat, di mana kita berhenti, berapa jerigen yang kita simpan. Itu saja."
Ia menatap Topan lekat-lekat. "Dan sekarang aku nggak tahu kamu tahu berapa banyak dari itu."
Topan mengangkat wajahnya. Untuk sekejap Surudi melihat sesuatu di mata anak itu—bukan rasa bersalah, melainkan luka, semacam kepedihan tua yang tak sempat ia mengerti—lalu tertutup lagi. "Pak Surudi kenal saya," kata Topan pelan. "Saya nggak bakal—"
"Aku kira aku kenal kamu." Surudi berbalik menuju kabin. "Naik. Kita masih jauh dari Kayuagung dan solar nggak nunggu subuh."
Ia memanjat ke belakang kemudi, tangannya berat di setir. Topan naik dari sisi kiri, menutup pintu dengan hati-hati, seolah takut membuat suara yang salah. Mereka duduk berdampingan seperti biasa, tapi ruang di antara mereka terasa berbeda—lebih lebar, lebih dingin, seperti tikungan yang tiba-tiba tak ia hafal.
Surudi menghidupkan mesin. Hino menggeram, tersendat sekali karena sisa solar oplosan yang masih mengganjal, lalu menemukan iramanya. Ia melepas kopling, dan truk merayap keluar dari pengecer, menembus subuh yang mulai memutih.
Di kaca spion, bayangan warung mengecil. Surudi tak melihat ke sana. Ia melirik sekilas ke arah kenek mudanya, yang menatap lurus ke jalan dengan rahang mengeras, lalu kembali menatap aspal di depan.
Untuk pertama kalinya sejak Topan naik ke kabinnya, Surudi merasa mengemudi sendirian.