Surudi mengenal kios solar itu sejak sebelum Topan lahir. Bangunan setengah tembok di pinggir jalan menuju perbatasan Jambi, atap sengnya berkarat, dua pompa tangan tua yang berderit tiap kali ditarik, dan bau solar yang sudah meresap ke tanah di sekelilingnya seperti keringat yang tak pernah kering. Ia berhenti di sana bukan sekali dua kali, tapi ratusan kali sepanjang dua puluh lima tahun menyusuri lintas ini. Pemiliknya orang yang tahu takaran tangki Hino-nya tanpa perlu ditanya.
Kali ini pintu kios setengah tertutup, padahal siang belum genap pukul dua.
"Bang." Surudi mengetuk kayu penyangga, memanggil dari balik kemudi yang masih menyala. "Isi penuh kayak biasa."
Laki-laki di dalam keluar pelan-pelan, matanya lebih dulu menyapu jalan sebelum menatap Surudi. Ia berdiri di ambang pintu, tangan memegang gagang selang tapi tak bergerak menariknya.
"Lagi kosong, Bang Surudi."
Surudi menurunkan kaca sedikit lagi. Ia sudah lihat drum-drum di belakang kios, penuh, baru datang kalau dilihat dari warna tutupnya yang belum berdebu.
"Kosong dari mana. Itu drumnya baru nongol."
Laki-laki itu tak menjawab langsung. Ia menggosok tangannya ke celana, lalu menunduk sedikit, seperti orang yang menghitung berapa banyak kalimat yang aman diucapkan.
"Sudah ada pesan, Bang. Jangan layani Bang Surudi dulu."
"Pesan dari siapa."
Tak perlu dijawab. Nama itu tak pernah harus disebut supaya artinya sampai. Surudi menatap laki-laki itu lama, mencari kemarahan yang bisa ia lampiaskan, tapi yang ia temukan cuma wajah orang yang juga takut kehilangan kiosnya sendiri. Bukan musuh. Cuma orang lain yang sudah lebih dulu tunduk.
Ia menarik napas, menutup kaca, memasukkan gigi mundur pelan-pelan seolah tak ingin kios itu melihat betapa ia terguncang.
"Kita cari yang lain, Pak?" Topan bertanya dari kursi kenek, suaranya hati-hati, seperti sudah menebak jawabannya sendiri.
"Cari yang lain," Surudi menjawab, lebih ke diri sendiri daripada ke Topan.
Tiga kios berikutnya memberi alasan berbeda-beda—pompa rusak, antre tangki, sedang ditutup sebentar—tapi matanya sama. Mata orang yang sudah dikasih tahu siapa yang boleh dilayani dan siapa yang tidak. Surudi menghitung jarum bensin sambil menyetir, menghitung kilometer yang tersisa sampai Menggala, menghitung berapa kali ia bisa berhenti dan turun tanpa hasil sebelum jarum itu benar-benar menempel di garis merah.
Di persimpangan sebelum masuk hutan karet, ada lapak tanpa nama—cuma gerobak dorong dengan lima jerigen plastik dijejer di atas terpal biru, seorang bapak tua duduk di sampingnya menghisap rokok kretek. Bau solar dari jerigen-jerigen itu tercium sampai kabin, tajam, bercampur bau lain yang tak seharusnya ada.
"Itu solar oplosan, Pak," kata Topan pelan, seperti mengingatkan sesuatu yang sudah jelas-jelas diketahui Surudi. "Sarki pernah bilang, itu bisa rusak mesin."
"Sarki juga bilang jangan macam-macam sama Codet. Kita udah macam-macam."
Surudi turun sendiri, tak mengajak Topan. Ia berjongkok di depan jerigen, membuka satu tutup, mengendus. Bau solar bercampur minyak tanah, mungkin juga air, tapi ia tak punya cara mengukurnya selain penciuman yang sudah dua puluh lima tahun terlatih membedakan solar bagus dari yang murahan. Yang ini di bawah murahan. Tapi tangki hampir kering, dan jarak ke Menggala masih tersisa berpuluh kilometer, melewati jalan yang tak bisa ia tempuh dengan harapan kosong.
"Berapa, Pak?"
Bapak tua itu menyebut harga yang lebih mahal dari solar resmi, ironis untuk barang yang lebih buruk. Surudi tak menawar. Ia keluarkan uang dari saku, sebagian uang receh titipan Tuminah yang diselipkan diam-diam sebelum ia berangkat dulu—uang untuk solar cadangan, katanya waktu itu, seperti sudah tahu hari ini akan datang.
Mereka menuang lima jerigen ke tangki bergantian, Topan memegang corong, Surudi memegang jerigen, tak ada yang bicara. Cairan itu turun lebih pelan dari solar biasa, seperti enggan, seperti tahu ke mana ia akan pergi.
Truk berjalan normal untuk sepuluh kilometer pertama. Surudi mulai berpikir mungkin ia terlalu takut, mungkin campurannya tak seburuk baunya. Lalu di tanjakan kecil sebelum jembatan, mesin tersendak sekali—getaran aneh yang menjalar dari kaki sampai setir, seperti sesuatu tersangkut di tenggorokan Hino tua itu. Surudi menurunkan gigi, menginjak gas pelan-pelan, mesin meraung lalu normal lagi, lalu tersendak sekali lagi, lebih keras.
"Kenapa itu, Pak?" Topan memegangi dasbor seolah bisa merasakan getarannya lewat telapak tangan.
"Solar kotor. Ada air, ada kerikil, apa aja bisa masuk campuran kayak gitu. Nyumbat filter."
"Bisa parah?"
Surudi tak menjawab dulu. Ia dengarkan suara mesin, membaca iramanya seperti membaca napas orang sakit, mencari tahu separah apa demam yang baru mulai. Tersendak lagi, lebih pendek kali ini, lalu kembali stabil.
"Untuk sekarang bisa jalan," katanya akhirnya. "Tapi ini baru mulai, Topan. Filter kotor sekali ini, dia nggak akan bersih sendiri."
Ia menatap jalan di depan, kabut tipis mulai turun dari bukit-bukit jauh meski hari belum petang, dan menghitung dalam hati—bukan lagi jarak ke Menggala, tapi berapa lama mesin ini masih bisa menahan racun yang baru saja ia masukkan sendiri ke perutnya, demi berjalan satu hari lagi.