Kabut mulai turun sepuluh kilometer sebelum papan penunjuk yang catnya sudah terkelupas itu. Surudi mengenalnya dari cara udara berubah lebih dulu daripada matanya melihat—bau tanah basah bercampur solar yang mengendap di lembah, hawa dingin yang menyusup lewat celah pintu kabin yang karetnya sudah getas. Ia menurunkan gigi tanpa perlu melihat tuas. Tangannya hafal.
"Kita sampai di mana, Pak?" Topan menunduk mencoba membaca sesuatu di luar, tapi lampu depan Hino tua itu hanya memantul balik, membentuk dinding susu yang tak tembus pandang.
"Tikungan Seribu," kata Surudi. Ia tidak menoleh. "Duduk yang benar. Jangan banyak ngomong dulu."
Topan menegakkan punggung. Tangannya mencengkeram pegangan di atas pintu, buku-buku jarinya memutih. Surudi melihat itu dari sudut matanya dan diam-diam mencatat: anak ini belum tahu apa-apa, tapi tubuhnya sudah tahu takut. Itu bagus. Yang mati di jalan ini biasanya yang tidak sempat takut.
Kabut menebal seperti ada tangan yang menuangkannya dari atas. Lampu-lampu jauh lenyap. Marka jalan lenyap. Yang tersisa cuma tiga meter aspal di depan roda, itu pun samar. Surudi menutup kaca sedikit, lalu membuka jendelanya barang sejengkal. Ia butuh mendengar. Di kabut seperti ini, telinga lebih jujur daripada mata—suara mesin lain, gemeretak rem angin, gonggongan klakson yang datang dari balik tikungan buta.
"Kenapa dibuka, Pak? Dingin." Topan merapatkan jaketnya.
"Biar aku dengar yang tidak bisa aku lihat." Surudi memutar setir ke kanan, perlahan, jauh sebelum tikungan itu benar-benar datang. "Di sini, mata bohong. Kabut bikin tikungan kelihatan lurus. Sopir yang percaya matanya, dia lurus terus—turun ke jurang."
Ia merasakan aspal miring di bawah ban, punggungnya membaca kemiringan itu seperti membaca huruf. Turunan pendek, lalu tikungan kiri yang menipu karena melebar dulu sebelum menyempit tajam. Ia sudah lewat sini entah berapa ratus kali. Dua puluh lima tahun. Tikungan ini pernah menelan kawan-kawannya satu per satu, dan setiap kali ia lewat, ia seperti menghitung batu nisan yang tak kelihatan.
"Ada berapa tikungan sebenarnya, Pak? Masa seribu."
"Bukan seribu betul." Sedikit senyum tipis di ujung bibir Surudi, hilang secepat datang. "Cuma rasanya begitu. Kau hitung sendiri kalau sempat. Yang penting bukan jumlahnya. Yang penting kau tahu yang mana yang menipu."
Lalu Surudi mendengarnya.
Bukan lewat mata—lewat perut. Getar rendah yang datang dari depan, dari balik dinding susu itu. Deru mesin diesel lain, besar, dan menanjak ke arah mereka. Cepat. Terlalu cepat untuk jalan ini.
"Pegangan." Suara Surudi datar, tapi tangannya sudah bergerak. Ia menekan klakson, dua kali panjang, membiarkan raungannya menembus kabut lebih dulu daripada besi. Dari seberang, klakson balasan menyahut—terlambat, panik, sudah terlalu dekat.
Dua pasang cahaya menyala mendadak di dalam kabut, membesar seperti mata binatang yang terbangun. Truk itu memotong tengah jalan, memakan jalur Surudi, sopirnya jelas mengira tikungan ini lurus dan menikung tanggung.
Topan menjerit sesuatu yang tak sempat jadi kata.
Surudi tidak mengerem mendadak. Itu justru yang membunuh—roda mengunci, muatan mendorong dari belakang, buntut truk melintang dan menyapu semuanya ke tepi. Ia justru menahan gas sebentar, menurunkan satu gigi dengan sentakan yang membuat seluruh kabin mengerang, lalu membanting setir ke kiri—ke arah yang oleh mata terasa salah, ke arah bahu jalan yang seolah tak ada. Tapi ia tahu di situ ada tanah keras selebar satu ban. Ia tahu karena dua puluh lima tahun lalu ia pernah kehilangan kawan persis di titik ini, dan sejak itu ia menghafalnya seperti orang menghafal luka.
Ban kiri Hino mencium tanah, mengangkat debu dan kerikil. Bak besi truk seberang menyambar hanya sejengkal dari spion kanan, begitu dekat sampai Surudi mendengar angin lewatnya, mencium bau rem panas orang lain. Sepersekian detik dunia jadi gemuruh besi, klakson, dan teriakan Topan. Lalu truk itu lewat, ekornya menghilang ditelan kabut di belakang mereka, meninggalkan getar dan gema yang perlahan tenggelam.
Surudi mengembalikan setir. Pelan. Membawa roda kiri naik lagi ke aspal. Ia tidak terengah. Tangannya tidak gemetar. Hanya dadanya yang berdegup terlalu keras, dan itu ia simpan untuk dirinya sendiri.
Kabin mendadak sunyi. Cuma ada deru mesin yang kembali stabil dan napas Topan yang tersengal-sengal, cepat dan dangkal.
"Dia—dia hampir—" Topan tak bisa menyelesaikannya. Wajahnya pucat di temaram lampu dasbor, keringat di keningnya walau udara dingin.
"Hampir." Surudi mengangguk sekali. Ia meraih botol air di sela jok, menyodorkannya. "Minum."
Topan menerima dengan tangan yang jelas bergetar. "Bapak nggak lihat dia. Kabutnya—nggak ada yang kelihatan. Kok bisa Bapak tahu ada di kiri ada tanah?"
Surudi diam sebentar. Di luar, kabut terus mengalir melewati kaca, tebal dan sabar, seolah jalan ini bernapas. Ia teringat nama-nama yang tak ia sebut. Ia teringat bahwa besok, atau lusa, orang-orang Codet mungkin sudah menunggu di ujung lain jalur ini, dan tikungan ini pun akan mereka pakai kalau mereka bisa. Tapi ada satu hal yang tak bisa mereka rebut darinya, tak bisa mereka beli, tak bisa mereka bakar.
"Karena jalan ini sudah aku hafal sebelum kau lahir," katanya akhirnya. Ia menurunkan gigi lagi menyongsong tikungan berikutnya, yang datang persis seperti yang ada di kepalanya, tak meleset sejengkal. "Mata bisa dibohongi kabut, Topan. Ingatan tidak. Selama aku masih ingat tiap tikungannya, jalan ini nggak bisa bunuh aku."
Topan menatapnya lama, seolah baru pertama kali benar-benar melihat orang tua di sebelahnya. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menegakkan diri, memasang mata ke depan, dan mulai—diam-diam, dengan bibir bergerak nyaris tak terdengar—menghitung tikungan.
Surudi membiarkannya. Di luar, Seribu Tikungan menelan mereka satu demi satu ke dalam perut kabutnya, dan Hino tua itu merayap masuk, pelan, hafal, seperti binatang yang pulang ke sarang yang paling ia kenal sekaligus paling bisa membunuhnya.