Kantor lapangan PO Bahari cuma ruko dua pintu di ujung terminal, catnya kusam dimakan asap knalpot, dan di dalamnya Herman duduk seperti orang yang tak pernah kehabisan waktu. Kipas angin berdiri di sudut memutar udara panas dari kiri ke kanan tanpa mendinginkan apa-apa. Surudi berdiri di depan meja, topi dalam genggaman, kemeja punggungnya masih basah oleh perjalanan dari gudang Pak Hasan.
"Duduk, Pak Surudi. Duduk." Herman menggeser kursi plastik dengan ujung sepatu. Cincin di jarinya berkilat waktu ia menyorong secangkir kopi yang sudah dingin. "Kau sopir yang aku cari-cari dari kemarin. Yang lain lembek. Baru dua trip Sitinjau sudah minta libur, minta uang muka, minta ini itu. Kau nggak. Kau jalan terus."
Surudi menerima kopi itu tapi tak meminumnya. Ia menaksir Herman seperti menaksir tanjakan di kejauhan — mencari di mana kemiringannya, di mana ia bisa curam tanpa peringatan. "Saya cuma jalan, Pak. Truk butuh solar, solar butuh duit."
"Nah." Herman menepuk meja, senang seperti guru yang muridnya menjawab benar. "Itu yang aku suka. Makanya aku mau kasih kau lebih. Bukan cuma satu-dua trip. Aku mau kau ambil rutin. Padang–Jambi, balik, lanjut Menggala. Ongkos dobel, tiap kali. Kau tahu berapa sopir yang aku tawari itu?"
"Berapa?"
"Nggak ada. Kau yang pertama." Herman menyodorkan map berisi surat jalan yang sudah setengah diisi. Angka di kolom ongkos ditulis tebal, dua kali lipat tarif biasa, dan Surudi merasakan angka itu menariknya seperti tangan yang mencengkeram kerah. Lima tunggakan leasing. Uang pendaftaran anak bungsu. Semua muat di dalam angka itu kalau ia mau menutup mata.
Justru karena itu ia tak mau menutup mata.
"Ongkosnya kenapa segini, Pak?" Surudi meletakkan cangkir. "Muatan sembako sama semen nggak pernah sebesar ini bayarnya. Dua kali lipat itu bukan ongkos. Itu upah nekat."
Kipas angin berputar. Herman tersenyum, tapi senyumnya berhenti sebelum sampai ke mata. "Kau kebanyakan mikir. Rute ini bahaya, Pak Surudi. Kau sendiri yang tahu, ada Sitinjau, ada Tikungan Seribu. Sopir kabur semua. Yang tinggal cuma yang berani. Ongkos gede itu bayaran buat nyali. Sesederhana itu."
"Nyali nggak nambah kalau isi baknya cuma karung," kata Surudi. "Saya sudah dua puluh lima tahun bawa segala macam. Yang bayar mahal biasanya yang isinya nggak mau ditanya."
Sesuatu bergeser di wajah Herman, cepat, seperti bayangan awan lewat di aspal. Ia mengambil rokok, menyalakannya, membiarkan asapnya jadi tirai tipis di antara mereka. "Kau nyupir, atau kau nyatet isi bak?"
"Saya nyupir."
"Ya sudah. Sopir yang baik nggak buka terpal orang." Herman mencondongkan badan, suaranya turun jadi ramah yang dibuat-buat. "Dengar. Barang itu urusan gudang, urusan Pak Hasan, urusan pembeli. Kau cuma jalan dari titik A ke titik B. Kau nggak tandatangan apa isinya, kau tandatangan berapa jaraknya. Kalau ada apa-apa — amit-amit — namamu nggak ada di kertas mana pun soal muatan. Itu justru buat lindungi kau, tahu."
Melindungi. Kata itu jatuh salah di telinga Surudi, seperti bunyi rem angin yang lepas seperseratus detik terlambat. Orang tak menyusun perlindungan untuk sekarung semen. Ia teringat gudang tadi pagi — Pak Hasan yang tangannya gemetar waktu menghitung uang, yang matanya lari ke pintu tiap ada suara truk lewat, yang membayar setengah ongkos dobel seolah menyerahkan sesuatu yang membakar telapaknya sendiri.
"Isinya apa, Pak Herman?" Surudi bertanya sekali lagi, pelan, tanpa nada menantang, cuma lelah dan ingin tahu.
Herman menghembuskan asap ke samping. "Barang. Kau tahu apa yang bikin sopir tua cepat pensiun? Bukan tanjakan. Tapi pertanyaan." Ia menekan puntung ke asbak sampai apinya mati. "Aku bukan mau nakut-nakutin kau. Aku suka kau. Tapi ada orang di rute ini yang nggak suka barang ini lewat. Kau paham maksudku."
Surudi paham lebih dari yang ingin ia akui. Codet. Selalu Codet. Yang menguasai selang solar sepanjang lintas, yang menandai wajahnya sebagai sopir yang belum setor. Kalau ada barang yang membuat orang Codet marah cuma karena lewat, maka barang itu menyerempet urusan mereka sendiri. Dan ongkos dobel ini — Surudi mulai melihatnya sekarang — bukan bayaran untuk melewati Tikungan Seribu. Itu bayaran untuk berdiri di antara dua pisau.
"Berapa lama saya harus mikir?" tanya Surudi.
"Sampai kau selesai kopi itu." Herman menyandarkan punggung. "Aku lagi baik, Pak. Besok belum tentu. Ada sopir lain nunggu di luar sana yang nggak sebawel kau."
Surudi menatap map di meja. Ia memikirkan Tuminah yang menyelipkan uang receh buat solar cadangan waktu mengantarnya, firasat di matanya yang tak sempat ia jawab. Ia memikirkan Topan yang menunggu di kabin, kenek muda yang percaya penuh padanya. Ia memikirkan surat leasing yang menumpuk seperti abu di atas meja rumah kontrakan.
Ia mengambil pena. Tapi sebelum ujungnya menyentuh kertas, ia berhenti.
"Saya ambil," kata Surudi. "Tapi saya mau tahu satu hal, dan jujur. Kalau ada apa-apa di jalan — bukan kalau, ya, Pak, tapi waktu — PO Bahari berdiri di sebelah mana? Sebelah saya, atau sebelah barang?"
Herman tertawa, pendek dan kering, tawa orang yang pertanyaannya terlalu tepat. "Kau tandatangan dulu. Soal berdiri di mana, itu nanti."
Surudi menandatangani. Tinta menempel, kolom ongkos yang tebal itu jadi miliknya sekarang. Tapi keluar dari ruko, dengan surat jalan terlipat di saku dada dan bau kopi dingin di lidahnya, ia merasa bukan seperti orang yang baru dapat rezeki. Ia merasa seperti orang yang baru saja menandatangani jarak antara dirinya dan sesuatu yang belum ia lihat wujudnya. Di seberang terminal, Topan melambai dari kabin Hino tua itu, dan Surudi membalas, sambil menyimpan pertanyaan yang tak dijawab Herman jauh di dalam, di tempat ia menyimpan semua tanjakan yang belum ia daki.