Warung kopi di ujung Kayuagung itu sesak oleh asap rokok dan bau solar yang menempel di baju setiap orang yang duduk di dalamnya. Surudi menaruh gelas kopinya yang sudah dingin, membiarkan Topan menyeruput mi rebus di seberang meja dengan lahap seorang yang belum kenyang sejak Padang. Di luar, deretan tronton parkir miring di bahu jalan, mesin-mesin yang baru saja dimatikan masih berdetak pelan seperti napas hewan tua. Surudi sedang menghitung sisa uang di sakunya ketika suara itu memecah dengungan warung.
"Kalau kita semua kompak tidak setor, mau apa mereka? Mau bakar seratus truk sekaligus?"
Surudi menoleh. Yang bicara seorang muda, mungkin belum tiga puluh, kulitnya masih kencang dan matanya belum kalah oleh jalan. Ia berdiri, bukan duduk, seolah tubuhnya tak muat menampung apa yang ada di dadanya. Sopir-sopir lain menunduk ke gelas masing-masing, pura-pura tak dengar, tapi telinga mereka jelas menajam.
"Namanya Ujang," bisik seorang sopir tua di sebelah Surudi, tanpa diminta. "Sudah tiga kali lewat pos Gimbal tanpa bayar. Belum mati, itu saja sudah keajaiban."
Surudi tidak menjawab. Ia menatap Ujang lekat-lekat, dan ada sesuatu yang menusuk pelan di ulu hatinya — cara anak itu berdiri, cara suaranya naik tanpa takut siapa yang mendengar. Dua puluh lima tahun lalu ia juga begitu. Berdiri di warung yang lain, jalan yang lain, meyakini bahwa keberanian bisa menang melawan orang yang menguasai selang solar dan timbangan.
"Bang," Ujang tiba-tiba menoleh ke arahnya, seakan mencium ada yang menimbang-nimbang dirinya. "Abang sopir lama, kan? Yang lolos Sitinjau kemarin waktu tiga truk lain nyerah. Orang-orang cerita."
"Kabar cepat sampai," gumam Surudi.
"Abang tahu rasanya jalan ini dulu belum punya tuan." Ujang melangkah mendekat, menarik bangku kayu, duduk tanpa diminta. "Bapak saya sopir. Dia dulu bisa lewat sini cuma modal bensin sama nasi bungkus. Sekarang? Kita bayar sebelum roda jalan, bayar di timbangan, bayar buat beli solar yang harusnya sudah jadi hak kita. Codet itu bukan raja, Bang. Dia cuma preman yang kebetulan pegang selang."
Topan berhenti mengunyah. Matanya berpindah dari Ujang ke Surudi, menunggu.
Surudi memutar gelas kopinya perlahan. "Berapa umurmu?"
"Apa hubungannya umur—"
"Berapa?"
Ujang mengatup rahang. "Dua puluh delapan."
"Aku sudah dua puluh lima tahun di jalan ini." Surudi bicara pelan, tanpa nada menggurui, karena ia tahu nada seperti itu justru membakar anak muda, bukan memadamkannya. "Aku pernah lihat tiga orang yang bicara persis sepertimu. Yang satu truknya masuk jurang di turunan, remnya katanya blong padahal paginya masih bagus. Yang satu lagi hilang, istrinya sampai sekarang masih nunggu di terminal. Yang ketiga—" Surudi berhenti. "Yang ketiga akhirnya setor juga, sambil menunduk, sambil malu."
"Jadi Abang mau saya menunduk juga?"
"Aku mau kau hidup."
Warung sunyi sebentar. Seorang pelayan lewat membawa nampan, dan bunyi gelas beradu terdengar terlalu keras.
"Menunduk itu bukan hidup, Bang." Suara Ujang turun, tapi keyakinannya tidak. "Itu cuma napas yang belum berhenti. Bapak saya menunduk sampai mati, dan yang dia wariskan cuma utang sama nasihat supaya saya juga menunduk. Saya tidak mau."
Ada yang bergolak di dalam dada Surudi, sesuatu yang sudah lama ia kubur di bawah tumpukan angsuran leasing dan surat peringatan. Anak ini mengucapkan hal yang dulu ingin ia teriakkan, hal yang perlahan ia belajar telan supaya truknya tetap bergerak dan anak-anaknya tetap makan. Ia ingin sekali berkata: teruskan, kau benar, jalan ini memang harusnya milik kita semua. Tapi ia sudah terlalu banyak melihat apa yang jalan lakukan pada orang yang benar tapi sendirian.
"Kau hasut sopir-sopir ini," kata Surudi akhirnya, suaranya rendah supaya hanya sampai ke telinga Ujang. "Kau kumpulkan mereka, kau bikin mereka berani. Lalu apa? Codet punya Gimbal, punya orang di timbangan, punya selang di setiap pengecer dari sini sampai Menggala. Kau punya apa? Semangat? Semangat tidak menambal tangki yang kering di tengah Tikungan Seribu."
"Saya punya sopir-sopir yang capek diperas." Ujang menyapu ruangan dengan matanya. "Abang lihat mereka? Mereka pura-pura tidak dengar, tapi mereka setuju. Tinggal satu orang yang berani duluan, yang lain akan ikut. Saya cuma butuh orang yang mereka hormati untuk berdiri di samping saya." Ia menatap Surudi lurus. "Orang seperti Abang."
Surudi merasakan jebakan lembut dalam kalimat itu. Bukan jebakan yang disengaja — Ujang terlalu jujur untuk memasang perangkap — tapi jebakan tetaplah jebakan. Nama Surudi masih bersih di catatan Codet sebagai sopir yang cuma menawar waktu, belum menolak terang-terangan. Berdiri di samping anak ini berarti memindahkan namanya ke daftar yang lebih berbahaya.
"Aku punya istri," kata Surudi. "Punya anak yang mau masuk SMA. Punya truk yang tinggal lima angsuran sebelum ditarik. Aku tidak bisa jadi pahlawanmu."
Sesuatu meredup di mata Ujang. Bukan marah — kekecewaan, yang jauh lebih menyakitkan untuk ditatap. "Bapak saya juga punya istri dan anak," katanya pelan. "Itu yang selalu jadi alasan buat menunduk. Selalu ada istri, selalu ada anak, selalu ada angsuran. Sampai kapan, Bang?"
Surudi tidak menjawab. Ia tidak punya jawaban yang tidak akan membuatnya malu.
Ujang bangkit, mendorong bangku ke belakang. "Kalau Abang berubah pikiran, kami kumpul-kumpul di rumah makan Mak Ipah, dekat simpang Menggala. Datang atau tidak, terserah." Ia melempar selembar ribuan ke meja untuk kopinya, lalu melangkah keluar, punggungnya tegak menembus asap.
Topan menunggu sampai anak itu hilang di balik pintu. "Bang," katanya hati-hati, "dia benar, kan?"
Surudi menatap ke luar jendela, ke arah Ujang yang sedang memanjat ke kabin trontonnya, membanting pintu, menyalakan mesin dengan gerakan seorang yang tak takut apa-apa. Debu mengepul ketika truk itu bergerak.
"Benar," kata Surudi akhirnya, hampir tak terdengar. "Itu yang bikin dia bahaya."
Ia menghabiskan kopinya yang sudah dingin sampai tetes terakhir, pahit di lidah, dan tidak menyuruh Topan bergegas. Di luar, matahari sore menggantung merah di atas jalan lintas, dan untuk pertama kalinya sejak lama, Surudi merasa tua bukan pada tubuhnya, melainkan pada apa yang telah ia relakan.