Fajar belum benar-benar pecah ketika Surudi menghidupkan mesin Hino-nya, dan suara pertama yang ia dengar bukan derum yang biasa ia kenal selama dua puluh lima tahun, melainkan sesuatu yang nyaris tak kentara — semacam gesekan halus di bawah kabin, seperti logam yang tak lagi pas pada tempatnya. Ia menajamkan telinga sebentar, lalu menepisnya. Mesin tua memang selalu berbunyi aneh di udara dingin.
Topan sudah duduk di kursi kenek, menggosok kedua tangan, sarung menutupi separuh wajahnya. Semalam mereka menginap di pelataran warung yang sama tempat rombongan sopir berkumpul, tempat Sarki bicara panjang lebar soal tunduk dan selamat. Surudi tak banyak tidur. Kata-kata Sarki masih berputar di kepalanya, bercampur dengan bayangan wajah Topan yang buru-buru memalingkan muka waktu ia menoleh — seolah anak itu mendengar sesuatu yang tak seharusnya ia dengar.
"Kita berangkat sekarang, Pak?" Topan bertanya, suaranya masih serak oleh kantuk.
"Sebelum matahari naik. Jalan masih basah, enak buat ban."
Ia melepas rem tangan, memasukkan gigi satu, dan truk merayap keluar dari pelataran berdebu menuju jalan utama. Kabut tipis menggantung di atas sawah-sawah yang belum tampak jelas batasnya. Di kejauhan, jalan menurun panjang menuju lembah sebelum naik lagi ke arah Menggala — turunan yang sudah ia lalui puluhan kali, yang ia hafal setiap lekuknya seperti menghafal garis tangan sendiri.
Baru sepuluh menit berjalan, gesekan halus tadi kembali terdengar. Kali ini lebih jelas — sebuah bunyi ketukan kecil, tak, tak, tak, berirama dengan putaran roda, datang dari sisi kanan depan.
Surudi menurunkan kaca jendela, mendengarkan lebih saksama sambil menjaga kemudi tetap lurus. Bunyi itu bukan bunyi jalan berbatu. Bukan pula bunyi per yang aus, yang biasanya menderit panjang. Ini bunyi logam memukul logam, teratur, seperti sesuatu yang longgar mencari tempatnya sendiri.
"Kau dengar itu, Pan?"
Topan mengangkat kepala, mengernyit. "Dengar apa, Pak?"
"Diam dulu."
Ia menurunkan kecepatan, memasukkan gigi lebih rendah, membiarkan telinganya bekerja lebih keras daripada matanya. Dua puluh lima tahun di jalan mengajarkan satu hal yang tak pernah diajarkan sekolah mana pun: truk yang sehat punya nada sendiri, dan begitu nadanya berubah walau seujung rambut, sesuatu sedang salah.
Jalan mulai menurun. Ia bisa melihat kelokan pertama dua ratus meter di depan, lalu kelokan kedua yang lebih tajam, membelok ke kiri menyusuri tebing rendah dengan jurang dangkal berisi rumpun bambu di sisi kanan. Bukan turunan paling ganas yang pernah ia lalui, tapi cukup untuk membuat truk kosong melaju kencang kalau rem tak dijaga betul.
Dan di situlah, tepat sebelum menekan pedal rem untuk kelokan pertama, ia merasakannya — getaran ganjil menjalar dari setir ke telapak tangannya, sedetik, dua detik, seperti roda depan kanan tak lagi menapak rata di aspal.
Insting yang bekerja lebih dulu daripada pikirannya menyuruh tangannya menekan kopling, memindah gigi ke posisi lebih rendah, dan membiarkan mesin menahan laju truk alih-alih rem yang bisa membuat roda mengunci. Ia mengarahkan truk pelan-pelan ke bahu jalan yang datar, jauh sebelum kelokan tajam, dengan kecepatan yang nyaris merangkak.
"Pak, kenapa berhenti di sini?" Topan bertanya, panik samar di suaranya begitu truk berhenti sempurna di tanah keras di pinggir turunan.
Surudi tak menjawab. Ia turun, berjongkok di samping roda depan kanan, dan yang ia lihat membuat dadanya berdesir dingin lebih dari udara pagi mana pun.
Dua dari lima baut pelek sudah lepas sama sekali, tergeletak entah di mana di sepanjang jalan yang baru saja mereka lalui. Tiga baut sisanya kendur, longgar sampai bisa diputar dengan jari telanjang, tanpa kunci apa pun. Bekas cengkeram kunci pas masih tampak jelas di permukaan mur — segar, tak berkarat, tak tertutup debu jalan seperti bagian lain dari roda itu.
"Ini bukan kendur karena jalan, Pan." Ia berdiri, mengusap keringat dingin di lehernya sendiri padahal udara masih dingin. "Ini dibuka. Sengaja."
Topan ikut berjongkok, matanya membelalak menatap baut-baut yang tersisa. "Siapa yang—" Ia berhenti sendiri, seolah pertanyaan itu sudah punya jawaban yang tak ingin ia ucapkan lebih dulu.
Surudi tidak menjawab langsung. Ia membayangkan malam sebelumnya, pelataran warung yang ramai orang lalu-lalang, truk yang diparkir agak jauh dari lampu karena penuh, dan dirinya yang tertidur sebentar-sebentar sambil mendengar Sarki bicara. Siapa pun yang membuka baut itu tak butuh waktu lama. Cukup lima menit, kunci pas, dan kegelapan di kolong truk yang tak pernah benar-benar diawasi siapa-siapa.
Kalau saja ia menekan gas lebih dalam sedikit di kelokan tadi. Kalau saja getaran itu datang sepuluh detik lebih lambat, ketika roda depan sudah membelok tajam mengikuti tikungan sambil menahan beban penuh — roda itu bisa saja lepas total di tengah tikungan, melempar truk ke arah jurang berisi rumpun bambu.
Ia mengambil dongkrak dari bak, memasangnya di bawah gandar, dan mulai mengencangkan baut yang tersisa satu per satu dengan kunci roda, rahangnya mengeras, tak banyak bicara. Topan berdiri di sampingnya memegang senter meski hari sudah terang, seolah cahaya bisa menjaga mereka dari sesuatu yang tak kelihatan.
"Ini gara-gara kita nggak mau setor, Pak?" Topan akhirnya bertanya, pelan, hampir berbisik, seperti takut kata-katanya sendiri didengar orang lain di jalan yang sepi itu.
Surudi memutar baut terakhir sampai kencang, mengetuknya dua kali dengan gagang kunci untuk memastikan, lalu berdiri, mengusap tangan pada celananya.
"Uang mereka masih bisa ditawar," katanya, matanya menatap turunan panjang di depan mereka yang kini tampak berbeda — bukan lagi sekadar jalan, melainkan sesuatu yang bisa berubah jadi perangkap kapan saja. "Tapi kalau sekarang mereka main baut roda, itu bukan lagi soal uang jalan, Pan. Itu artinya mereka nggak keberatan aku mati di sini."
Ia menutup dongkrak, melemparkannya ke bak, dan naik kembali ke kabin tanpa menunggu jawaban. Tangannya masih sedikit gemetar saat memegang setir, bukan karena takut — ia sudah terlalu lama di jalan untuk sekadar takut — melainkan karena sesuatu yang lebih dingin dari itu: kepastian bahwa mulai hari itu, setiap kilometer yang ia tempuh harus ia hitung bukan hanya dengan solar dan waktu, tapi dengan nyawa yang taruhannya kini terang-terangan dipasang orang lain, di kolong truknya sendiri, di tengah malam yang tak pernah benar-benar ia percaya lagi sebagai malam yang aman.