Terpal biru itu sudah dipasang sejak sore, direntangkan dari bak truk ke sebatang pohon kamboja kurus, menaungi tikar plastik dan satu lampu petromaks yang menggantung dari kawat. Surudi duduk bersila di bawahnya, punggung bersandar pada ban serep, kalkulator butut di pangkuan, dan tumpukan kertas nota yang sudah lecek karena berkali-kali dilipat dan dibuka lagi. Angin malam membawa bau solar bercampur asap sate yang dijual di seberang pelataran, dan dari kejauhan terdengar mesin-mesin truk lain yang dibiarkan menyala pelan, seperti sekumpulan binatang besar yang tidur sambil mendengkur.
Ia menekan tombol kalkulator satu per satu, pelan-pelan, seolah angka-angka itu bisa berubah kalau ditekan dengan hati-hati. Ongkos dobel dari PO Bahari untuk trip ini: dua juta tiga ratus. Dikurangi solar—ia mencoret angka, menulis ulang, mencoret lagi karena harga solar di jalur ini sudah beda dari yang tertera di nota resmi. Dikurangi makan, dikurangi uang jalan yang dulu dianggap wajar tapi sekarang ada tambahan yang tak tertulis di mana pun: setoran.
Kalau ia setor sepuluh persen tiap trip seperti yang diminta Gimbal, sisa uangnya tinggal cukup untuk solar pulang dan sedikit lebih. Ongkos dobel yang tadinya terasa seperti berkah, begitu dipotong setoran, kembali jadi ongkos biasa—bahkan lebih kecil, karena risikonya dua kali lipat. Ia menghitung ulang untuk angsuran leasing: lima bulan tunggakan, tiap bulan tujuh ratus lima puluh ribu. Kalau ditotal, hampir empat juta. Sekali jalan tak akan cukup. Dua kali jalan, kalau setor terus, juga tak akan cukup. Ia butuh rentetan trip tanpa potongan, dan itu cuma mungkin kalau ia menolak upeti.
Tapi menolak berarti perang. Dan perang di jalur ini bukan cuma soal kalah menang, melainkan soal siapa yang masih bisa pulang.
"Masih dihitung-hitung juga," suara Sarki muncul dari balik gelap, diikuti bau kopi yang dibawanya dalam dua gelas plastik. Ia menyerahkan satu ke Surudi, lalu duduk di ujung tikar, sendi lututnya berbunyi ketika ia melipat kaki. "Berapa kali dihitung pun, hasilnya sama, Rud. Angka nggak berubah cuma karena kau tekan kalkulatornya lebih keras."
Surudi menyeruput kopinya tanpa menjawab. Uap mengepul di antara mereka, bercampur asap rokok Sarki yang baru dinyalakan.
"Aku dengar Herman naikkan tarif dobel lagi bulan ini," kata Sarki. "Tapi kau tahu sendiri, itu bukan buat kita. Itu cuma angka di kertas biar kita mau ambil rute yang orang lain takut lewat."
"Aku tahu." Surudi meletakkan kalkulator, menggosok mata dengan buku jari. "Tapi kalau kuhitung, setor sepuluh persen tiap trip, sisanya cuma cukup nutup solar sama makan. Angsuran nggak kekejar-kejar, Ki. Leasing sudah kasih peringatan terakhir."
"Makanya," Sarki menunjuk dengan puntung rokoknya, seolah itu bisa menegaskan poin, "setor saja dulu. Jangan pikir untung besar. Pikir selamat. Kalau kau nggak setor, bukan cuma truk yang rusak—orangnya juga bisa. Aku sudah dua puluh tahun di jalur ini, Rud. Aku tahu bedanya rute yang berbahaya karena jalannya, sama rute yang berbahaya karena ada orang yang mau kau celaka."
"Kalau aku setor terus, sampai kapan?" Surudi menoleh, suaranya tak keras tapi ada getar yang tertahan. "Ki, hitung sendiri. Lima bulan nunggak, ditambah bulan depan, ditambah bulan depannya lagi. Setoran bukan sekali, tiap trip. Aku bisa kerja sampai tua di jalur ini dan tetap nggak lunas-lunas, karena separuh keringatku sudah masuk kantong Codet duluan sebelum sampai rumah."
Sarki diam sebentar. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, membiarkan bara menyala terang di kegelapan sebelum menjawab. "Aku nggak bilang itu adil, Rud. Aku cuma bilang itu yang masih bisa bikin kau pulang tiap minggu. Ujang itu—" ia menghentikan sendiri kalimatnya, seperti baru sadar hendak menyebut nama yang belum waktunya disebut dengan nada seberat itu, "—anak muda, keras kepala, mikirnya cuma menang-kalah. Kau bukan anak muda lagi. Kau punya bini, punya anak mau masuk SMA. Yang kayak kita ini, Rud, menang itu bukan ngalahin Codet. Menang itu sampai rumah, truk masih ada, badan masih utuh."
Surudi tidak membalas. Ia menatap api petromaks yang berkedip ditiup angin, membiarkan kata-kata Sarki mengendap. Ada benarnya—ada juga sesuatu yang tak bisa ia telan begitu saja, sesuatu yang terasa seperti kalah sebelum bertanding, dan itu yang paling ia benci.
Dari balik bak truk, tak jauh dari tempat mereka duduk, Topan berbaring di atas tumpukan terpal cadangan, pura-pura memejamkan mata sejak setengah jam lalu. Ia sudah dengar semuanya—soal setoran, soal angsuran, soal nama Ujang yang disebut lalu ditelan lagi. Ia tidak bergerak, hanya menahan napas lebih pelan supaya kedua orang itu tetap mengira ia tertidur. Dadanya berdegup aneh, campuran rasa yang belum bisa ia tata: kagum pada keteguhan Surudi yang menolak tunduk begitu saja, dan takut, sebab ia sudah cukup lama di jalur ini untuk tahu bahwa orang yang menolak setor cepat atau lambat akan didatangi bukan sekadar utusan dengan kata-kata manis.
"Aku nggak bilang mau lawan Codet," kata Surudi akhirnya, pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Sarki. "Aku cuma belum mau bilang iya."
Sarki menepuk pundaknya sekali, tanpa kata lagi, lalu berdiri, sendi lututnya kembali berbunyi. Ia melangkah menjauh ke arah truknya sendiri, meninggalkan asap rokok yang perlahan hilang ditelan angin malam.
Surudi memandangi kalkulator yang layarnya masih menyala, angka terakhir yang ia hitung belum juga terhapus. Di bawah terpal itu, dengan lampu petromaks yang mulai redup karena minyaknya menipis, ia tahu satu hal yang tak bisa dibantah oleh hitungan apa pun: bagaimanapun ia memutar angka-angka itu, jalan keluar yang aman selalu berujung pada satu hal yang harus ia bayar dengan sesuatu yang bukan uang.