Truk masuk halaman pukul tiga dini hari, dan Surudi merasakan setiap baut di tulang punggungnya sebelum ia merasakan rem. Ia menahan tronton itu di depan rumah kontrakannya di pinggiran Bandar Lampung, mendengarkan mesin Hino tua itu menggerung pelan, lalu mati dengan helaan panjang seperti orang tua yang akhirnya boleh duduk. Empat hari dari Padang. Empat hari dengan tidur yang ditabung dua jam di emper warung, dengan kopi sachet yang sudah tak lagi membuatnya melek, hanya membuat jantungnya berdebar tanpa guna.
Ia tak langsung turun. Lutut kanannya butuh waktu untuk percaya bahwa perjalanan sudah selesai. Surudi memijatnya pelan dengan ibu jari, di titik yang sudah ia kenal seperti mengenal tikungan, lalu menurunkan kaki itu ke pijakan dengan hati-hati seperti menurunkan barang pecah belah. Dingin subuh menggigit pergelangannya. Di kaca spion, wajahnya sendiri memandang balik: mata cekung, kulit terbakar matahari kaca depan, rambut yang lebih banyak putih daripada yang ia mau akui kepada Tuminah.
Dua puluh lima tahun ia mengangkut barang orang melintasi pulau ini. Dua puluh lima tahun ia menukar tubuhnya dengan angsuran, dengan sekolah anak, dengan beras. Dan sekarang tubuh itu menagih balik. Mata rabun kalau malam — lampu lawan arah pecah jadi bintang kabur yang membuatnya menebak-nebak di mana garis tepi jalan. Kantuk yang tak lagi bisa diajak berunding; ada saat di tanjakan Jambi tadi ia tersentak bangun dengan jantung di kerongkongan, tak tahu sudah berapa detik matanya terpejam, hanya tahu truk masih di jalurnya karena Tuhan, bukan karena dia.
"Sopir tua," gumamnya pada dirinya sendiri, dan turun.
Di dalam, lampu dapur menyala. Tuminah duduk di kursi plastik dengan selimut di pundak, menunggunya seperti selalu, dengan teh yang sudah dingin dan akan ia hangatkan lagi begitu mendengar pintu. Perempuan itu tak pernah tidur betul kalau Surudi di jalan. Ia bilang tidur, tapi Surudi tahu ia hanya memejamkan mata sambil mendengar telepon.
"Selamat," kata Tuminah, dan bangkit menyalakan kompor.
Surudi menaruh tas, melepas jaket yang bau solar dan keringat empat hari, dan duduk. Di atas meja, di samping toples kerupuk, ada amplop cokelat yang belum ia buka. Ia tahu isinya tanpa membuka. Kop suratnya leasing, dan leasing tidak pernah menulis surat untuk menanyakan kabar.
Ia membukanya juga, karena pura-pura tidak melihat lebih melelahkan daripada melihat. Angka di sana sudah ia hafal, tapi tetap saja terasa seperti tamparan kecil tiap kali dicetak: tunggakan satu bulan, denda keterlambatan, sisa pokok. Dan satu baris yang membuat dadanya turun: peringatan terakhir sebelum penarikan unit. Lima angsuran lagi dan truk ini lunas, jadi miliknya betul-betul, bukan milik bank yang dipinjamkan dengan bunga. Lima angsuran. Tapi peringatan ini bilang ia bahkan tak boleh telat satu pun lagi, atau yang lima itu tak akan pernah sampai garis akhir, karena trukpun sudah lebih dulu ditarik dari halaman.
Tuminah meletakkan teh hangat di depannya dan melihat amplop itu tanpa berkomentar. Ia sudah lama berhenti menanyakan angka. Yang ia tanyakan sekarang lebih berat.
"Berhenti, Pak," katanya pelan, duduk di seberang. "Kita jual saja truknya. Sisa lima, kita cari sambungan. Pak Hasan butuh orang jaga gudangnya. Duduk, ngitung barang, pulang tiap sore."
Surudi menyeruput teh. Panasnya enak di tenggorokan yang kering. Ia tak menjawab dulu, karena menjawab cepat berarti tak menghargai pertanyaannya.
"Jaga gudang," ulangnya akhirnya. "Aku tak bisa duduk, Bu. Pinggangku malah lebih sakit kalau duduk diam." Ia tersenyum tipis, tapi Tuminah tak ikut tersenyum, dan ia menyesal sudah bercanda.
"Aku lihat tanganmu gemetar waktu nuang gula tadi," kata Tuminah. "Kamu pikir aku tidak lihat. Mata kamu, Pak. Kemarin kamu nyaris keserempet motor di pasar siang bolong. Siang, Pak. Lalu bagaimana malam, di Sitinjau, di kabut?"
Kalimat itu masuk lebih dalam dari yang Surudi mau. Ia diam, memutar gelas di antara dua telapak tangan yang memang, ya, sedikit gemetar — bukan takut, hanya lelah yang sudah menjalar ke saraf. Ia tahu istrinya benar. Itu yang membuatnya tak bisa menjawab. Bukan keberanian yang menahannya tetap menyetir, tapi aritmatika. Jual truk sekarang, di kondisi mesin yang sudah dikuras umur, dengan sisa kredit menempel, dapat berapa? Cukup untuk menutup utang, mungkin. Tapi setelah itu? Jaga gudang Pak Hasan, gaji yang bahkan tak menutup sekolah si bungsu yang tahun depan masuk SMA. Surudi sudah menghitungnya berkali-kali di kepala, di jalan lurus yang membosankan antara Menggala dan Kayuagung, ketika tak ada yang bisa dilakukan selain berpikir. Hitungannya selalu sama: berhenti sekarang artinya pelan-pelan tenggelam dengan bermartabat. Lanjut artinya tenggelam dengan cepat, atau berenang.
Ia belum menjawab ketika ponselnya bergetar di atas meja. Layar retak menyala. Nama yang tersimpan cuma satu kata: PO Bahari. Surudi melirik jam dinding. Setengah empat. Tak ada orang waras menelepon sopir setengah empat pagi kecuali untuk satu hal: pekerjaan yang tak bisa ditawar orang lain, atau yang sudah ditolak orang lain.
Tuminah menatap ponsel itu seperti menatap ular. "Jangan diangkat," katanya, dan untuk pertama kali suaranya hampir putus.
Surudi memandang istrinya, memandang amplop cokelat, memandang tangannya sendiri yang gemetar memegang teh dua puluh lima tahun perjalanan. Ia memikirkan lutut, mata, kantuk. Ia memikirkan lima angsuran yang berdiri di antara dirinya dan sebuah truk yang akhirnya menjadi miliknya sepenuhnya, bukan milik bank, bukan milik siapa pun. Ia memikirkan bahwa lelaki yang menyerah pada lima angsuran terakhir bukanlah lelaki yang ia kenal di cermin spion tadi.
Getaran kedua. Ketiga.
"Cuma dengar dulu," kata Surudi, dan menjawab telepon. Tuminah memalingkan wajah ke kompor, dan Surudi tahu, dari cara pundak istrinya turun, bahwa ia sudah kalah sebelum suara di seberang sempat menawarkan apa pun. Suara itu ramah, terlalu ramah untuk jam segini. "Pak De," katanya, "ada rejeki. Ongkos dobel. Tapi cuma sampean yang berani." Dan Surudi, dengan teh dingin di tangan dan lima angsuran di kepala, mendengarkan.