Uap knalpot masih mengambang di atas aspal ketika Surudi mematikan mesin Hino-nya di pelataran warung Bu Yem, tempat para sopir biasa singgah sebelum melewati batas Jambi. Bongkar muatan di gudang Pak Hasan tadi siang membuat pundaknya longgar sedikit—ongkos dobel yang separuh sudah masuk kantong, separuh lagi janji di ujung trip berikutnya. Ia menyeka keringat di leher dengan sarung yang menggantung di spion, lalu turun perlahan, sendi lututnya berbunyi seperti pintu tua.
Topan masih di dalam kabin, menghitung uang recehan hasil kembalian solar tadi pagi, menyusunnya rapi seperti anak sekolah menghitung uang jajan. Surudi membiarkannya. Ia berjalan ke arah warung, memesan kopi tubruk, dan baru saja duduk di bangku panjang ketika sebuah pikap hitam berhenti tepat di depan, debunya menyapu meja-meja plastik.
Seorang lelaki turun dari pikap itu tanpa terburu-buru, seolah dunia memang harus menunggunya. Badannya besar, lehernya pendek tersembunyi di kerah kaus yang ketat, dan di pipi kirinya ada bekas luka lama yang membelah alis sampai ke rahang—bukan Codet, tapi mengingatkan pada nama itu. Ia mengenakan sandal jepit dan berjalan seperti orang yang tak pernah takut diinjak apa pun.
“Surudi,” katanya, bukan pertanyaan. Ia menarik kursi tanpa diundang, duduk berhadapan, memesan es teh pada Bu Yem dengan sekali jentik jari, lalu menoleh lagi. “Gimbal. Titipan Bang Codet.”
Surudi menyesap kopinya, tidak menjawab dulu. Ia sudah dengar nama itu dari Sarki, dari cerita di pos-pos sepanjang jalan—rute ini sekarang punya tuan, katanya, dan tuan itu Bang Codet. Tapi mendengar nama itu disebut langsung di depan mukanya, dengan nada seenak menyebut nama teman lama, ada sesuatu yang mengeras di dadanya.
“Saya nggak kenal Bang Codet,” kata Surudi akhirnya, suaranya datar, dijaga supaya tak kedengaran gentar maupun sombong.
Gimbal tersenyum, memperlihatkan gigi depan yang renggang. “Nggak usah kenal. Yang penting Bang Codet kenal sampeyan.” Ia meletakkan kedua tangannya di meja, jari-jarinya besar dan buku-bukunya bonyok, bekas berkelahi entah berapa kali. “Sampeyan udah dua kali lewat sini bulan ini. Bawa muatan PO Bahari. Rute maut, ongkos dobel—enak, ya?”
“Ongkos sesuai kerjaan.”
“Betul.” Gimbal mengangguk seolah setuju penuh. “Cuma, jalan ini bukan jalan gratisan lagi, Pak Su. Semua yang lewat, nyumbang. Buat jaga jalan tetap aman. Buat jaga-jaga solar tetap ada. Sampeyan tahu sendiri, kan, gampang banget SPBU tiba-tiba ‘kehabisan’ pas sampeyan antre?”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi Surudi menangkap maksudnya seperti mendengar rem blong dari jauh—bunyi yang jelas artinya, meski belum sampai. Ia memandang ke pikap hitam, ke dua orang lain yang tetap duduk di baknya, memerhatikan tanpa berkata apa-apa. Di kejauhan, di kaca kabin Hino-nya, ia lihat Topan berhenti menghitung uang, menegakkan badan, memperhatikan.
“Berapa,” tanya Surudi, tidak menawar dulu berapa, hanya memastikan lawan bicaranya bicara jelas.
“Tiga ratus per trip. Nggak mahal. Anggap aja karcis tol.” Gimbal menyesap es tehnya, lalu menambahkan, seperti baru ingat, “Bang Codet bilang, sampeyan sopir lama, tahu jalan. Jalan yang tahu jalan, dihargai. Tapi kalau nggak mau dihargai, ya… jalan bisa jadi sempit. Ban bisa pecah sendiri. Solar bisa telat sampai. Sampeyan ngerti maksud saya.”
Surudi diam sebentar. Ia menghitung dalam kepala—tiga ratus ribu per trip, dikali berapa trip sebulan, dipotong dari ongkos dobel yang sudah ia janjikan separuhnya untuk leasing yang menunggak lima kali. Angka itu tidak akan cukup menutup apa pun kalau ditambah setoran. Tapi ia juga tahu, di depannya bukan orang yang bisa dilawan dengan hitungan di atas kertas.
“Saya baru dua trip,” katanya, memilih jalan tengah yang licin, seperti melipir di bahu jalan saat kendaraan besar berpapasan. “Belum ada uang lebih. Kasih saya waktu sampai trip ketiga.”
Gimbal menatapnya lama, seperti menimbang apakah kalimat itu keberanian atau sekadar alasan orang yang belum sadar posisinya. Lalu ia tertawa pendek, satu suku kata, dan berdiri.
“Bang Codet suka orang yang jujur soal kere,” katanya, merapikan kausnya. “Tapi jangan lama-lama, Pak Su. Trip ketiga, saya ke sini lagi. Kalau nggak ada uangnya…” Ia tidak menyelesaikan kalimat itu. Ia hanya menepuk pundak Surudi, sekali, pelan, seolah itu tanda persahabatan, padahal telapaknya cukup berat untuk membuat Surudi merasakan tenaga yang ditahan di baliknya.
Pikap hitam itu berputar, debunya lagi-lagi menyapu meja, dan menghilang di tikungan menuju arah Jambi. Bu Yem, yang sedari tadi berpura-pura sibuk di dapur, keluar membawa gorengan tanpa diminta, meletakkannya di meja Surudi tanpa suara, matanya menghindar.
Surudi menghabiskan kopinya yang sudah dingin. Ia tahu apa yang barusan terjadi bukan tawaran, melainkan jam pasir yang mulai dibalik. Tiga trip. Setelah itu, entah ia menyerah pada angka tiga ratus ribu yang akan terus membengkak setiap kali ia menawar waktu lagi, atau ia berjalan tanpa jaminan apa pun di jalan yang katanya sudah ada tuannya.
Ia berdiri, melangkah kembali ke Hino, dan mendapati Topan sudah turun dari kabin, berdiri di sisi ban depan dengan wajah yang berusaha terlihat biasa saja.
“Siapa itu, Pak?” tanya Topan, suaranya sedikit terlalu pelan untuk terdengar santai.
“Orang yang mau kita hindari,” jawab Surudi, memeriksa tali pengikat terpal seolah tak ada yang terjadi. “Naik. Kita jalan sebelum gelap.”
Topan menurut, tapi matanya sempat menoleh ke arah tikungan tempat pikap hitam itu menghilang, seperti mencoba mengingat wajah Gimbal untuk keperluan yang belum ia mengerti sendiri. Surudi menyalakan mesin, membiarkan getarannya menjalar ke seluruh tubuhnya yang lelah, dan melepas rem tangan pelan-pelan, seakan setiap gerakan kecil hari itu sudah dihitung ulang harganya.