Debu jalan masih menempel di leher Surudi ketika ia membelokkan Hino ke halaman gudang Pak Hasan, sebuah bangunan seng berkarat di pinggir Menggala yang pintunya lebih lebar dari jalan menuju ke sana. Roda depan menggilas kerikil, dan suara itu—kriuk panjang yang biasa menandai akhir sebuah trip—membuat bahu Surudi turun setengah senti, seperti baru saja meletakkan karung di punggung yang sudah lama pegal.
"Sampai juga, Pak," kata Topan, setengah bertanya setengah lega, matanya masih awas ke spion meski mereka sudah jauh dari pos-pos yang mereka lewati sejak subuh.
Surudi tidak langsung menjawab. Ia mematikan mesin, membiarkan getaran terakhir menjalar dari dasbor ke telapak tangannya sebelum berhenti sama sekali. Baru setelah itu ia bilang, "Sampai belum tentu selesai. Belum dibongkar, belum dibayar."
Pak Hasan sudah menunggu di depan pintu gudang, mengenakan kaus oblong yang basah di ketiak meski udara pagi belum terlalu panas. Tubuhnya gempal, wajahnya ramah seperti biasa, tapi Surudi—yang sudah dua puluh lima tahun membaca wajah orang di ujung perjalanan, wajah yang lega maupun wajah yang menyimpan sesuatu di baliknya—menangkap sesuatu yang janggal pada cara Pak Hasan menyeka keringat itu. Terlalu sering, untuk cuaca yang belum sepanas itu.
"Pak Surudi," sapa Pak Hasan, suaranya dibuat riang. "Lancar jalannya?"
"Lancar kalau dihitung dari yang tidak kejadian," jawab Surudi, turun dari kabin dengan lutut yang berbunyi lebih keras dari biasanya. "Yang kejadian, biar saya simpan sendiri."
Pak Hasan tertawa, tapi tawanya berhenti sedikit lebih cepat dari yang wajar. Ia memberi aba-aba pada dua orang buruh yang sudah menunggu di dalam gudang, dan pintu bak truk dibuka. Topan melompat naik, mulai menyerahkan karung-karung dari atas, dan Surudi berdiri di bawah, menghitung dalam hati—bukan jumlah karung, tapi jumlah kilometer yang sudah ia bayar dengan tulang punggungnya untuk sampai di titik ini.
Yang membuatnya berhenti menghitung adalah cara Pak Hasan mengawasi proses bongkar itu. Bukan seperti pemilik gudang yang santai menunggu barangnya masuk gudang sendiri. Pak Hasan berdiri terlalu dekat, matanya berpindah-pindah dari karung ke karung, sesekali menyuruh buruhnya menggeser tumpukan ke sudut yang lebih dalam, jauh dari pandangan jalan.
"Ini yang dari Padang semua, Pak Hasan?" tanya Surudi, pura-pura hanya berbasa-basi sambil menyalakan rokok.
"Semua," jawab Pak Hasan cepat—terlalu cepat. "Dari... dari gudang biasa. Sama seperti kemarin-kemarin."
Surudi menghisap rokoknya, diam. Dua puluh lima tahun di jalan mengajarkannya satu hal yang tak bisa dibantah: orang jujur tidak perlu buru-buru menjawab pertanyaan yang belum selesai ditanyakan. Pak Hasan baru saja menjawab sesuatu yang belum ia tanyakan penuh.
"Kemarin-kemarin dari mana, Pak Hasan?" susul Surudi, kali ini menatap langsung.
Untuk sesaat wajah Pak Hasan seperti orang yang lupa di mana meletakkan kunci rumahnya sendiri. Lalu ia tertawa lagi, kali ini lebih keras, menepuk bahu Surudi seolah mereka baru saja bercanda soal cuaca. "Ah, Pak Surudi ini. Sopir kok kepo soal gudang. Bapak antar, saya terima, saya jual. Itu saja urusan kita, kan?"
Kalimat itu diucapkan dengan nada ringan, tapi Surudi mendengarnya seperti pintu yang ditutup pelan-pelan supaya tidak berbunyi. Ia tidak mengejar lagi. Bukan karena percaya, tapi karena tahu kapan sebuah pertanyaan sudah cukup untuk hari ini—kapan harus disimpan dulu, seperti jerigen cadangan yang belum waktunya dibuka.
Topan, dari atas bak, melirik ke bawah sekilas, seolah ikut mendengar sesuatu yang tidak biasa dalam percakapan itu, lalu kembali menurunkan karung terakhir tanpa bicara.
Ketika bongkar selesai, Pak Hasan mengajak Surudi masuk ke ruang kecil di pojok gudang yang berfungsi sebagai kantor—meja kayu penuh nota, kipas angin yang berputar miring, dan bau tinta stempel yang bercampur solar. Dari laci meja itu Pak Hasan mengeluarkan amplop cokelat, lebih tebal dari yang biasa Surudi terima untuk trip biasa.
"Ini," kata Pak Hasan, menyodorkannya. "Separuh dulu. Sisanya nanti, kalau urusan sudah beres semua di ujung sana."
Surudi membuka amplop itu sedikit, cukup untuk memastikan jumlahnya, bukan untuk menghitung tiap lembar di depan orang lain—itu pantangan yang ia pegang sejak jadi sopir muda dulu. Angka yang tertera memang setengah dari ongkos dobel yang dijanjikan PO Bahari, tapi itu tetap dua kali lipat dari ongkos trip biasa yang selama ini menopang dapurnya di Bandar Lampung.
Ia merasakan sesuatu mengendur di dadanya—bukan kelegaan penuh, hanya jeda sejenak, seperti berhenti sebentar di bahu jalan sebelum tanjakan berikutnya. Amplop itu berarti uang pendaftaran sekolah anak bungsunya bisa ia titipkan lewat wesel begitu sampai di kota berikutnya. Berarti satu angsuran leasing yang menagih di kepalanya bisa sedikit ia tunda ributnya.
"Terima kasih, Pak Hasan," katanya, melipat amplop itu masuk ke balik kaus dalamnya, tempat paling aman yang ia punya selain rekening yang tak pernah cukup.
"Sama-sama, Pak Surudi." Pak Hasan tersenyum, tapi tangannya menggosok tengkuk seperti ada semut yang tak kunjung hilang di sana. "Hati-hati di jalan pulang. Dan... kalau ada yang tanya-tanya soal muatan dari sini, bilang saja tidak tahu. Biar saya yang urus."
Surudi mengangguk pelan, tidak menjawab dengan kata-kata. Ia keluar dari kantor kecil itu dengan amplop di dada dan satu pertanyaan baru yang menempel di kepalanya, jauh lebih berat dari karung mana pun yang baru saja ia turunkan: kalau muatan ini memang sebersih yang dikatakan, kenapa harus ada yang dijaga supaya tidak ditanyakan?
Di halaman gudang, Topan sudah menunggu di dekat Hino, mengelap tangannya yang kotor ke celana. "Kita lanjut sekarang, Pak? Atau istirahat dulu?"
"Istirahat sebentar," jawab Surudi, matanya masih tertuju ke pintu gudang yang baru saja tertutup di belakang Pak Hasan. "Biar badan yang capek istirahat. Kepala saya yang belum bisa."