Sinyal telepon genggam Surudi baru penuh setelah truk berhenti di pelataran warung Bu Ratna, tempat para sopir tronton biasa singgah sebelum menembus batas Jambi. Ia turun dari kabin sambil menjinjing termos kosong, meninggalkan Topan yang masih sibuk memeriksa tali pengikat terpal di bak muatan. Begitu layar menyala dan nama Tuminah muncul, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Bukan karena rindu semata. Tuminah jarang menelepon di jam segini, saat listrik di rumah kontrakan biasanya dihemat untuk malam.
"Halo, Bu."
"Pak." Suara Tuminah terdengar seperti ditahan-tahan, seperti orang yang sudah lama menyusun kalimat sebelum berani mengucapkannya. "Ada dua kabar. Yang mana dulu ya enaknya."
Surudi berjalan menjauh dari warung, ke bawah pohon kemiri yang daunnya rontok kena angin sore. Ia tahu nada semacam itu. Dua puluh lima tahun kawin, ia hafal setiap jeda dalam suara istrinya.
"Yang bikin kamu senyum dulu," katanya, mencoba ringan.
"Si Bungsu diterima, Pak. SMA 2. Namanya keluar tadi pagi di papan pengumuman, tetangga yang kasih tahu duluan, ibunya sampai lari-lari ke sekolah cuma buat lihat sendiri."
Untuk sesaat dada Surudi longgar, hangat menjalar sampai ke leher. Ia membayangkan anak bungsunya berdiri di depan papan pengumuman itu, mencari namanya sendiri di antara puluhan nama lain, lalu menemukan huruf-huruf yang menyusun namanya sendiri. Ia hampir tertawa di tengah pelataran berdebu itu, hampir lupa di mana ia sedang berdiri.
"Alhamdulillah," ucapnya, dan suaranya sendiri terdengar asing di telinganya, terlalu lega untuk seorang lelaki yang baru saja lolos dari tanjakan Sitinjau dua hari lalu dengan jantung di tenggorokan.
"Tapi, Pak." Tuminah berhenti. Di ujung sana Surudi mendengar suara anak bungsunya, samar, menanyakan sesuatu, lalu suara Tuminah menyuruhnya masuk dulu. Ketika ia bicara lagi suaranya sudah turun satu oktaf, lebih pelan, seperti takut kata-katanya kedengaran sampai ke telinga yang salah. "Pendaftarannya delapan ratus lima puluh. Belum seragam, belum buku. Sekolahnya bilang, kalau nggak lunas minggu depan, kursinya bisa dikasihkan ke cadangan."
Surudi menatap ujung sepatu bootnya yang berlumur tanah merah. Delapan ratus lima puluh ribu. Angka itu kecil untuk kebanyakan orang, tapi di kantongnya sekarang, setelah dipotong solar, makan, dan uang jalan yang harus disisihkan diam-diam, angka itu seperti gunung yang harus ia daki lagi—padahal ia baru saja turun dari satu gunung yang membuat rem anginnya berteriak sepanjang malam.
"Dari ongkos yang kemarin?" tanyanya, meski sudah tahu jawabannya sebelum bertanya.
"Sudah kepotong buat cicilan, Pak. Yang datang lagi tadi pagi." Tuminah menarik napas, dan Surudi bisa mendengar kertas berdesik di seberang sana, seolah istrinya sedang memegangnya sambil bicara. "Ada surat lagi dari leasing. Bukan yang biasa. Yang ini pakai stempel merah. Katanya kalau sampai tunggakan kelima nggak dibayar bulan ini, mereka berhak—" ia berhenti sebentar, seperti mencari kata yang paling tidak menyakitkan, "—berhak menarik unit."
Kata menarik unit itu jatuh di kepala Surudi seperti batu ke sumur kering—tak ada percikan, hanya suara benturan yang dalam dan sunyi. Truk Hino itu bukan sekadar besi dan mesin baginya. Truk itu satu-satunya alat yang bisa mengubah keringatnya jadi uang, satu-satunya alasan kenapa ia masih dianggap sebagai kepala keluarga yang berguna. Kalau truk itu ditarik, ia bukan sopir lagi. Ia cuma lelaki lima puluh tahun dengan mata yang sudah mulai kabur dan lutut yang berbunyi tiap naik tangga.
"Berapa yang tinggal, Bu?"
"Lima kali angsuran, Pak. Kalau ditotal—" Tuminah menyebut angka itu, dan Surudi menutup matanya sebentar, menghitung dalam kepala berapa trip lagi yang harus ia tempuh, berapa kali lagi ia harus melewati pos Codet dan tanjakan Sitinjau dan kabut Tikungan Seribu untuk sampai ke angka itu.
"Saya usahakan," katanya akhirnya. Dua kata yang sudah ia ucapkan berkali-kali sepanjang perkawinan mereka, dan yang selalu—selalu—berhasil ia tepati, meski kadang dengan harga yang tak pernah ia ceritakan pada Tuminah.
"Bapak jangan mikirin ini di jalan. Nanti nggak konsen." Suara Tuminah melembut, seperti biasa ketika ia sudah menahan diri sendiri sekuat tenaga. "Saya bisa cari akal di sini. Bapak fokus aja pulang dengan selamat."
Surudi mengiyakan, meski ia tahu keduanya sama-sama berbohong soal apa yang akan mereka pikirkan malam ini.
Setelah menutup telepon, ia berdiri agak lama di bawah pohon kemiri itu, membiarkan angin sore membawa bau solar dan debu jalan bercampur dengan bau tanah basah dari parit di seberang. Ia menarik napas panjang, menata wajahnya seperti menata muatan di bak truk—rapi, terikat, tak ada yang menyembul dan kelihatan dari luar—sebelum berjalan kembali ke arah kabin.
Topan sedang mengencangkan tali terakhir ketika Surudi naik ke tempat duduknya. Anak muda itu melirik sekilas, menangkap sesuatu di wajah Surudi yang tak biasa, meski tak bisa menamainya.
"Dari rumah, Pak?"
"Anak bungsu diterima SMA," jawab Surudi, dan ia membiarkan senyum itu asli sepenuhnya, tak dibuat-buat, karena bagian itu memang layak disyukuri.
"Wah, selamat, Pak!" Topan tertawa, memukul pelan dashboard seperti merayakan kabar baiknya sendiri.
Surudi mengangguk, memutar kunci kontak, mendengar mesin Hino tua itu batuk sebelum akhirnya menyala penuh. Ia tidak menyebut soal delapan ratus lima puluh ribu, tidak menyebut soal surat berstempel merah, tidak menyebut soal lima angsuran yang tinggal menghitung hari. Ia menginjak kopling, memasukkan gigi satu, dan membawa truk itu keluar dari pelataran warung Bu Ratna menuju jalan yang sudah gelap oleh bayang-bayang pohon karet di kanan-kiri.
Di dalam dadanya, jam yang tak kelihatan itu—jam yang mengukur bukan waktu, tapi utang—baru saja diputar lebih kencang satu putaran penuh. Dan tak seorang pun di kabin itu yang mendengar detaknya, kecuali dirinya sendiri.