Sitinjau menyambut mereka dengan dinding aspal yang berdiri hampir tegak, basah oleh embun pagi yang belum sempat kering. Surudi menurunkan gigi jauh sebelum tanjakan itu terlihat, kebiasaan yang sudah menyatu ke tulangnya. Ia tak menunggu mesin merengek dulu baru bertindak; ia mendengarkan Hino tuanya seperti orang mendengarkan napas anak sendiri, tahu kapan sesak akan datang sebelum sesak itu tiba.
"Kenapa dipelanin, Pak?" Topan mencondongkan badan, matanya menyapu barisan lampu belakang yang menumpuk di kejauhan. "Yang lain malah pada ngebut."
"Yang ngebut itu yang bakal mogok." Surudi tak memalingkan wajah. Tangannya menekan kopling perlahan, kakinya seolah menimbang berat seluruh muatan lewat telapak. "Sitinjau bukan buat orang buru-buru. Dia makan solar, makan kampas, makan sopir yang sok jago. Perhatiin baik-baik."
Truk pertama sudah mulai payah di tikungan bawah. Sebuah Fuso bermuatan sawit mengaum-aum, asap hitam mengepul dari knalpotnya, rodanya berputar sedikit lalu tersendat. Surudi melihat sopirnya menggeber gas seperti orang panik, dan ia menggeleng pelan. Gas bukan jawaban di sini. Gas cuma bikin mesin menjerit sampai kehabisan tenaga di tengah tanjakan, dan di tengah tanjakan Sitinjau, berhenti berarti mundur, dan mundur berarti maut.
Hino Surudi merangkak naik, langkah demi langkah, seperti kerbau tua yang tahu betul di mana harus menapak. Jarum suhu mulai merayap ke kanan. Surudi membaca jarum itu, lalu membaca bunyi mesin, lalu membaca kemiringan jalan lewat pantatnya yang menempel di jok. Tiga hal itu ia jahit jadi satu keputusan yang tak bisa diajarkan lewat kata-kata.
"Buka jendela," katanya. Topan menurut. Angin gunung yang tajam menyerbu masuk bersama bau kopi dari warung di kelokan atas. "Dengerin. Kalau mesinnya batuk kayak orang keselek, kita udah telat. Sekarang belum. Sekarang dia cuma ngos-ngosan, masih bisa diajak."
Di depan, Fuso sawit tadi menyerah. Rodanya berhenti berputar, badannya menggantung di kemiringan seperti perahu karam. Sopirnya melompat turun, berteriak-teriak memanggil kenek untuk mengganjal ban dengan batu. Antrean di belakangnya langsung macet. Klakson bersahutan, marah dan tak berdaya sekaligus.
Surudi tak ikut mengklakson. Ia justru menahan lajunya lagi, memberi jarak, membiarkan kekacauan di depan terurai sedikit. Ia tahu tanjakan ini seperti tahu garis-garis di telapak tangannya sendiri. Ada satu tikungan sempit di sepertiga atas yang aspalnya cekung ke dalam, tempat orang biasa kehilangan momentum. Rahasianya bukan menambah gas di situ, melainkan sudah punya tenaga simpanan sebelum sampai ke sana.
"Sekarang," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Topan. Ia melepas satu gigi, membiarkan mesin menemukan putaran yang pas, lalu mengarahkan moncong Hino ke bibir luar tikungan, bukan ke dalam. Roda depan menggigit aspal yang lebih kering. Muatan di belakang bergeser sedikit, mengeluh, tapi tak menyeret. Truk itu melewati titik cekung tanpa kehilangan satu detak pun.
Topan menahan napas sepanjang tikungan itu. Baru setelah lewat, ia menghembuskannya keras-keras. "Gila," gumamnya. "Yang lain pada mati di situ, kita malah kayak jalan biasa."
"Bukan biasa." Untuk pertama kalinya Surudi tersenyum tipis, senyum yang lebih banyak lelahnya. "Cuma udah pernah gagal di situ. Dua puluh lima tahun lalu, muatan semen, hampir masuk jurang. Sejak itu aku ingat betul. Jalan ngajarin lewat rasa takut, Topan. Yang selamat itu yang mau belajar dari takutnya."
Mereka melewati Fuso yang mogok. Sopirnya berdiri di tepi jalan, mengelap keringat dan solar dari tangannya, menatap Hino tua Surudi lewat begitu saja dengan campuran kagum dan iri. Surudi mengangkat tangan sedikit, tanda hormat sesama orang jalanan. Yang mogok itu membalas lemah.
Di puncak, di pelataran warung tempat sopir-sopir biasa mengistirahatkan mesin yang mendidih, dua orang berdiri di bawah tenda seng. Surudi mengenali salah satunya dari cara ia berdiri—tegak tapi malas, tangan di saku, mata yang menghitung. Bukan sopir. Orang-orang begini tak pernah punya bau solar di bajunya. Yang mereka bawa cuma buku catatan kecil dan pena.
Surudi menepikan Hino, membuka kap agar mesin bernapas, pura-pura sibuk memeriksa air radiator. Ia melihat lewat ekor matanya. Orang berpena itu menatapnya lekat, lalu menunduk, menulis sesuatu. Kawannya menyebut sesuatu pelan, menunjuk pelat nomor Hino dengan dagu.
"Sopir baru itu," terdengar potongan kalimat, dibawa angin. "Hino tua yang lewat Sitinjau tadi. Belum setor."
Bulu tengkuk Surudi meremang, tapi wajahnya tetap datar. Ia menuang air ke radiator, tenang, seolah tak mendengar apa-apa. Topan membuka mulut hendak bertanya, tapi Surudi menekan pundaknya sekali, pelan. Diam. Anak itu langsung mengerti.
Sarki muncul dari dalam warung sambil membawa dua gelas kopi, tubuh tuanya sedikit membungkuk. Ia meletakkan satu gelas di kap Hino, lalu bicara nyaris tanpa menggerakkan bibir, gaya orang yang sudah lama hidup di jalan yang punya telinga di mana-mana.
"Kau kelewat pintar tadi, Rudi," katanya. "Orang mogok, kau lolos. Bagus buat kantong, jelek buat nyawa. Mereka nyatet yang menonjol. Yang gagal mereka lupain. Yang lolos mereka inget."
Surudi meniup kopinya. Uapnya naik, menghilang di udara dingin. "Aku cuma bawa muatan sampai tujuan, Sarki."
"Buat mereka, itu sama aja nantang." Sarki melirik ke tenda seng, lalu memutar badan membelakanginya. "Dua puluh lima tahun kau baca jalan. Sekarang jalannya yang mulai baca kau. Hati-hati, kawan. Codet nggak suka sopir yang bikin dia keliatan bodoh."
Surudi tak menjawab. Ia menatap tanjakan Sitinjau yang membentang turun di belakangnya, aspal yang tadi hampir menelan Hino-nya, jalan yang sudah ia taklukkan ribuan kali dan yang sekarang menandai wajahnya untuk seseorang yang belum pernah ia lihat. Kopi di tangannya terasa pahit lebih dari biasanya. Ia menghabiskannya sampai tetes terakhir, lalu menutup kap Hino dengan bunyi yang berat, dan naik kembali ke kabin tanpa sepatah kata pun.