Solar di SPBU Bukit Sangkar habis, kata petugas itu, sambil matanya tak berani menatap lurus ke arah Surudi.
Surudi menepikan Hino ke sisi selang yang paling ujung, tempat truk-truk yang tak dilayani biasa mengantre menunggu keajaiban. Mesin ia matikan. Getaran yang selama ini menopang tulang belakangnya lenyap seketika, dan yang tertinggal cuma dengung kuping serta bau solar yang menempel di kabin seperti keringat kering.
"Habis dari kapan, Bang?" Topan bersandar ke jendela, suaranya masih polos, belum tahu kalau pertanyaan semacam itu di rute ini bisa berbahaya untuk ditanyakan terlalu keras.
Petugas SPBU—anak muda berseragam kusam, nama di dadanya sudah luntur—menggeleng pelan. "Ya gitu, Pak. Kosong."
Tapi di seberang, dua pompa dari tempat mereka berhenti, sebuah tangki Fuso mengalir deras ke truk bertulisan PT MITRA CODET JAYA di pintunya, disemprot cat baru, hurufnya masih mengilap kena matahari sore. Sopirnya duduk santai di atas ban serep sambil merokok, tak repot turun mengawasi meteran. Solar itu jelas ada. Solar itu jelas mengalir. Hanya saja bukan untuk truk Surudi.
Surudi tidak bertanya lagi. Ia sudah 25 tahun di jalan, cukup lama untuk tahu kapan sebuah jawaban sebenarnya bukan jawaban, melainkan tembok yang disusun dari rasa takut orang lain.
Ia turun, memutari truk, membuka penutup tangki, menyorotkan senter kecil ke dalamnya seperti dokter memeriksa luka. Bukan kosong-kosong amat. Tapi jauh dari cukup untuk menembus Jambi, apalagi kalau harus memutar lewat jalur yang lebih panjang karena pos Codet di depan.
"Ini yang ketiga, Pak," kata Topan, kali ini pelan, seakan baru sadar sendiri. "SPBU tadi pagi juga bilang kosong. Terus yang di simpang Kayuagung—itu kemarin, kan?"
Surudi tidak menjawab langsung. Ia menutup tangki, berjalan ke bak solar cadangan di sisi kabin—dua jerigen plastik biru yang selalu ia isi diam-diam sebelum berangkat, hasil recehan yang diselipkan Tuminah waktu mengantarnya dulu. Uang receh itu sekarang berubah wujud jadi cairan yang menentukan hidup-matinya di jalan.
Ia mengangkat satu jerigen, menimbang beratnya dengan tangan, mengira-ira isinya lewat suara kocakan air di dalam. Tak sampai separuh. Yang satu lagi hampir kosong, sisa dari perjalanan kemarin.
"Kita hitung," katanya akhirnya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Topan.
Ia duduk di injakan kabin, menarik buku catatan lusuh dari balik jok, tempat ia biasa mencorat-coret ongkos dan jarak tempuh. Angka-angka itu bukan sekadar hitungan matematika—itu jarak antara truknya berjalan dan truknya berhenti di tengah entah berantah, jadi umpan empuk buat siapa saja yang ingin.
"Dari sini ke Jambi, seratus sekian kilo. Konsumsi Hino ini, muatan penuh begini, paling irit satu banding tiga," gumamnya. Jarinya menekan-nekan pena di kertas. "Kalau SPBU depan juga kosong buat kita, kita cuma sampai—" ia berhenti, menghitung ulang, berharap angka itu berubah kalau dihitung dua kali. Tidak berubah. "—sampai daerah rawan. Tempat yang enggak ada apa-apa selain pohon sawit."
Topan diam. Ia baru berapa hari di jalan ini, tapi cukup pintar menangkap nada suara Surudi yang berubah—bukan cemas biasa, melainkan cemas seorang yang sudah kenal medan dan tahu persis seberapa jauh kosong itu bisa membunuh.
"Enggak ada pengecer eceran, Pak? Yang jual literan di pinggir jalan?"
"Ada," jawab Surudi. "Tapi tanya dulu, siapa yang boleh beli."
Ia sudah melihatnya sejak dua hari lalu, tapi baru sekarang potongan-potongan itu tersusun jadi gambar utuh. Pengecer solar eceran di depan pos, yang biasa melayani siapa saja asal bawa jerigen dan uang pas, sekarang punya papan kecil baru tergantung di dahan pohon: "Solar Kosong — Stok Terbatas." Papan yang sama tergantung di tiga lokasi berbeda, ditulis tangan yang sama, kapur yang sama. Sementara truk-truk bertulisan Codet di badannya lewat begitu saja, disambut penjaga dengan anggukan kecil, tanpa perlu berhenti menunjukkan apa-apa.
Bukan solar yang kosong. Yang kosong cuma solar untuk orang yang belum bayar.
Ia teringat Sarki, waktu itu di warung, suaranya rendah dan hati-hati seperti orang membisikkan penyakit. "Rute ini sekarang punya Codet." Waktu itu Surudi mengangguk saja, mengira maksudnya cuma soal upeti di jalan, uang jalan yang harus disetor tiap lewat pos. Ia tidak menyangka penguasaan itu sampai ke selang pompa, ke jerigen eceran, ke setiap titik yang menentukan sebuah truk bisa bergerak atau berhenti selamanya di tengah jalan.
Kalau solar dikuasai, artinya napas truknya dikuasai. Artinya ia bisa menolak setor sekali, dua kali, tapi kalau tangkinya kering di tengah rute yang tak ada apa-apa, ia bukan cuma kalah—ia akan diam-diam dipaksa merangkak balik ke orang yang sama yang ingin ia hindari, memohon sebotol solar dengan harga yang mereka tentukan sendiri.
Surudi menutup buku catatan itu pelan-pelan, seperti menutup sesuatu yang lebih berat daripada sekadar kertas.
"Isi ulang jerigen yang masih ada ruang," katanya pada Topan. "Sisa yang di tangki, kita hemat. Jangan idle lama-lama, jangan mainan AC."
"Terus SPBU depan, Pak? Kalau kosong lagi?"
Surudi menatap jalan di depan, aspal yang menghilang ke tikungan jauh, pepohonan yang mulai menghitam kena senja. Ia tak punya jawaban yang bisa membuat Topan tenang, dan ia cukup tua untuk tahu bahwa berbohong pada kenek sendiri sama saja membahayakan keduanya.
"Kalau kosong," katanya akhirnya, "kita jalan pelan-pelan sambil berdoa jaraknya cukup."
Ia menyalakan mesin. Jarum solar bergerak pelan menuju posisi yang tak pernah ia sukai lihat: mendekati batas bawah, jauh dari cukup, jauh dari aman, dan entah berapa kilometer lagi sebelum ia tahu apakah keputusan untuk terus melaju ini benar atau justru jadi taruhan terakhir yang tak bisa ia menangkan sendirian.