Warung itu tidak punya nama. Papan kayu di depannya sudah luntur, tulisannya cuma bisa dibaca separuh, dan yang separuh lagi ditutup lumut hijau tebal bekas musim hujan kemarin. Tapi setiap sopir yang melintas rute ini tahu tempat itu — bukan karena kopinya enak, bukan karena nasi rendangnya murah, melainkan karena di situlah, tanpa dicantumkan di peta mana pun, ada pos yang menentukan siapa boleh lewat dan siapa harus membayar.
Surudi menurunkan gigi jauh sebelum sampai. Ia sudah menghafal titik ini sejak bertahun-tahun lalu, waktu tempat itu masih sekadar warung biasa milik seorang ibu tua yang menjual kopi tubruk dan gorengan. Sekarang di depan warung berdiri sebuah portal darurat dari drum bekas dicat merah-putih, dan tiga orang lelaki bertubuh kekar duduk di atas bangku panjang sambil merokok, mengawasi tiap kendaraan yang mendekat seperti pemburu menghitung buruan.
"Berhenti di sini dulu," kata Surudi pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Topan.
Topan menegakkan badan di kursi kenek, matanya menyipit ke arah orang-orang itu. "Itu razia, Pak?"
"Bukan razia." Surudi menurunkan kaca jendela sedikit, cukup untuk angin masuk membawa bau solar dan asap knalpot yang menggantung di udara. "Razia ada seragamnya."
Truk berhenti tepat di samping drum merah-putih. Salah satu lelaki bangkit, jalan dengan langkah malas-malasan yang justru terasa lebih mengancam daripada tergesa. Wajahnya datar, tidak ada niat menyembunyikan apa yang ia lakukan — seolah pekerjaan ini sudah jadi hal biasa, disetujui semua orang, tinggal Surudi saja yang belum mengerti aturannya.
"Dari mana, Bang?" Suaranya santai, tapi matanya mengukur nomor polisi, mengukur muatan di bak, mengukur wajah Surudi seperti membandingkan dengan daftar yang tersimpan di kepala.
"Padang," jawab Surudi. "Mau ke Jambi."
"Baru pertama lewat sini?"
"Sering," kata Surudi, meski ia tahu pertanyaan itu punya jawaban lain di baliknya — bukan menanyakan seberapa sering ia lewat, tapi seberapa sering ia setor.
Lelaki itu tersenyum tipis, menepuk-nepuk pintu kabin dengan telapak tangan, seperti mengetuk pintu rumah orang. "Ada uang jalan, Bang. Buat jaga-jaga rute. Biar aman sampai tujuan."
Surudi menatap lurus ke depan, ke jalan aspal yang retak dan berdebu, seolah tak sepenuhnya mendengar. Ia mengangguk-angguk kecil, ekspresi yang sengaja ia buat kosong. "Uang jalan apa, Dik? Saya bayar pajak di jembatan timbang, bayar STNK, bayar KIR. Ini jalan umum, kan?"
"Jalan umum," ulang lelaki itu, tersenyum lebih lebar, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Betul. Cuma di sini ada penjaganya. Biar nggak ada apa-apa di jalan."
"Penjaga dari mana?"
"Dari yang ngatur rute ini, Bang." Ia mencondongkan badan sedikit, suaranya turun setengah oktaf, seperti berbagi rahasia yang sebetulnya bukan rahasia sama sekali. "Semua juga bayar. Tanya aja sopir lain."
Surudi pura-pura menghitung-hitung recehan di laci dasbor, membuka dompetnya lambat-lambat, seolah bingung berapa yang pantas diberikan untuk sesuatu yang bahkan tidak ia mengerti namanya. Ia tahu persis siapa yang dimaksud. Ia hanya tidak mau memberi mereka kepuasan melihat ia mengerti terlalu cepat.
"Saya nggak bawa banyak uang tunai, Dik," katanya, nada suaranya dibuat memelas, jauh dari nada seorang sopir tronton dengan dua puluh lima tahun pengalaman di jalan. "Ongkos masih di tujuan."
Lelaki itu menatapnya lama, lalu menatap Topan yang duduk kaku di kursi kenek. Ada jeda yang terasa lebih panjang dari yang seharusnya, seperti timbangan yang sedang menakar apakah alasan itu layak diterima atau justru pantas dicatat.
"Ya sudah," katanya akhirnya, mundur setengah langkah. "Lain kali bawa cukup. Biar nggak susah-susah di jalan." Ia mengetuk sekali lagi ke kap mesin, isyarat untuk jalan, tapi matanya sempat melirik pelat nomor sekali lagi sebelum benar-benar melangkah pergi — seolah menyimpannya di suatu tempat yang tidak bisa dilihat Surudi.
Truk melaju lagi, meninggalkan portal drum merah-putih dan asap rokok yang menggantung. Topan menghela napas panjang, seperti baru sadar sejak tadi ia menahannya.
"Itu preman, Pak?"
"Itu yang jaga jalan," jawab Surudi datar. "Kalau kau sebut preman, kau anggap itu kejahatan biasa. Ini bukan kejahatan biasa. Ini aturan yang sudah dianggap normal."
Dua puluh menit kemudian mereka berhenti di warung sungguhan, jauh di depan pos itu, tempat truk-truk lain juga singgah untuk mengisi perut dan meregangkan punggung. Surudi baru duduk di bangku kayu ketika suara yang ia kenal memanggil dari arah dapur.
"Rudi! Masih hidup rupanya kau."
Sarki berjalan mendekat sambil membawa dua gelas kopi, tubuhnya lebih kurus dari terakhir kali Surudi melihatnya, tapi tawanya masih sama — parau, terlalu keras untuk warung sekecil itu. Ia menaruh gelas di meja, duduk berhadapan, matanya sempat melirik Topan sebelum kembali ke Surudi.
"Baru kena portal drum tadi?" tanyanya, seperti sudah tahu jawabannya sebelum Surudi menjawab.
"Sudah."
"Berapa kau kasih?"
"Nggak kukasih. Pura-pura bego."
Sarki tertawa, tapi tawa itu cepat surut, berubah jadi tatapan yang lebih serius daripada biasanya. Ia menunduk, menurunkan suara meski warung itu ramai. "Kau masih bisa main bego sekali dua kali, Rudi. Tapi jangan keseringan. Rute ini bukan rute bebas lagi."
"Maksudmu?"
"Maksudku," Sarki mengaduk kopinya lambat, matanya menerawang ke arah jalan di luar, "dari Sitinjau sampai Tikungan Seribu, semua sudah punya Codet. Bukan cuma portal tadi. SPBU, pengecer solar, bahkan timbangan — semua sudah setor, semua sudah kompak. Kau bisa pura-pura nggak paham di depan anak buahnya. Tapi cepat atau lambat, nama kau bakal sampai ke telinga Bang Codet sendiri. Dan kalau sudah sampai ke sana, pura-pura bego nggak akan cukup lagi."
Surudi menatap kopinya yang belum ia sentuh, uapnya masih naik tipis dalam udara siang yang panas dan berdebu. Ia tidak menjawab. Di seberang meja, Topan diam mendengarkan, wajahnya menegang seperti baru saja mengerti bahwa perjalanan ini punya musuh yang tidak tertulis di surat jalan mana pun.