Jalan mulai naik begitu kota Padang tinggal jadi kerlip lampu di kaca spion. Surudi memindah gigi dengan gerakan yang sudah jadi bagian dari tangannya sendiri, tanpa pikir, seperti orang mengunyah nasi. Di sampingnya, Topan duduk kaku, kedua tangan menjepit lutut, matanya awas ke segala arah seolah jalanan ini bisa menerkam kapan saja.
"Jangan tegang begitu," kata Surudi, tanpa menoleh. "Truk bisa baca siapa yang duduk di kabinnya. Kalau kau tegang, dia ikut tegang."
"Truk bisa baca orang, Pak Sur?"
"Bisa. Kau dengar suaranya, dia juga dengar napasmu."
Topan tertawa kecil, tapi tawanya berhenti cepat, seolah ia sadar ini bukan tempat untuk banyak tertawa. Surudi membiarkan hening menggantung sebentar, memberi jeda buat kenek barunya menyerap udara kabin—bau solar yang menempel di jok, bau keringat lama, bau karet AC yang sudah dua tahun tak diservis.
"Kau tahu bedanya jalan yang jujur sama jalan yang bohong?" Surudi bertanya, saat truk melewati tikungan landai pertama.
"Nggak, Pak."
"Jalan jujur, dia kasih tahu dulu sebelum nakal. Ada rambu, ada marka, ada bekas ban orang yang pernah celaka di situ—bekas rem mendadak, biasanya item panjang di aspal. Jalan bohong, dia diam saja sampai kau sudah di tengah-tengahnya, baru kelihatan belangnya."
"Terus gimana bedain?"
"Makanya kau harus hafal. Bukan hafal peta, hafal rasa. Tanjakan yang keras itu beda getarnya sama tanjakan yang lembut. Turunan yang aman itu beda baunya—ya, bau, aspal panas kena rem itu ada baunya sendiri kalau kau sudah lama di jalan."
Topan mengangguk-angguk, mencatat semua itu di kepalanya seperti anak sekolah menghafal rumus, padahal yang diajarkan Surudi bukan rumus. Lebih mirip mantra yang cuma bisa didapat dengan cara dijalani, bukan dihafal.
Menjelang siang, Surudi menepikan truk di bahu jalan yang agak lapang, mematikan mesin sebentar. "Turun. Aku mau tunjukkan sesuatu."
Mereka berjalan ke bawah kolong, Surudi berjongkok memeriksa selang-selang rem, tangannya menepuk tabung angin yang berdesis pelan.
"Dengar itu?" katanya. "Itu rem angin. Bukan kayak motor yang narik kabel. Ini pakai tekanan udara. Kau injak, udara dilepas, kampas ketemu tromol. Masalahnya, kalau tekanan turun—entah karena bocor, entah karena kau berhenti kelamaan tanpa isi ulang—rem bisa telat gigit. Di jalan datar, telat sepersekian detik nggak masalah. Di turunan..."
Ia tak menyelesaikan kalimat itu. Cukup diam, membiarkan Topan membayangkan sendiri apa yang terjadi kalau rem telat gigit di sebuah turunan panjang dengan tronton bermuatan penuh.
"Makanya tiap berhenti, kau dengar dulu. Tekanan penuh itu ada suaranya, kayak angin kena peluit kecil terus berhenti. Kalau kau dengar mendesis lama nggak habis-habis, jangan jalan dulu. Itu bocor."
"Kalau ketauan bocor di tengah jalan, gimana, Pak?"
"Kalau di tanjakan Sitinjau nanti, kau bakal lihat sendiri gimana rasanya kalau itu kejadian." Surudi berdiri, mengelap tangan ke celana. "Sekarang kau cuma perlu hafal bunyinya dulu."
Mereka naik lagi, melanjutkan perjalanan. Matahari makin tinggi, memantul di aspal sampai jalan kelihatan seperti berair dari kejauhan—fatamorgana yang sudah dua puluh lima tahun akrab buat Surudi, tapi bikin Topan mengucek mata berkali-kali.
"Itu bukan air, itu cuma panas," kata Surudi sebelum ditanya. "Kau bakal capek sendiri kalau tiap kelihatan genangan kau kaget."
"Pak Sur udah berapa lama jadi sopir?"
"Dua puluh lima tahun jalan ini. Dari kau belum lahir kayaknya."
"Nggak kepikiran berhenti?"
Pertanyaan itu menggantung sebentar di udara kabin yang panas. Surudi melirik spion, menyalip truk pasir yang mengeluarkan asap hitam pekat.
"Kepikiran terus. Tapi anakku mau masuk SMA tahun ini. Jadi belum bisa mikir berhenti." Ia diam sejenak. "Kau sendiri kenapa mau kerja di rute ini? Rute lain lebih aman, ongkosnya juga nggak beda jauh buat kenek baru."
Topan tak langsung menjawab. Tangannya mengetuk-ngetuk lutut, matanya mengarah keluar jendela, ke deretan pohon karet yang berbaris seperti pagar hidup di sisi jalan.
"Butuh kerja aja, Pak. Yang penting jalan."
"Kau tahu rute ini sekarang bukan rute biasa?"
"Tahu. Orang-orang bilang."
"Terus kau tetap mau?"
"Iya, Pak."
Jawaban itu terlalu cepat, terlalu pendek buat pertanyaan sebesar itu. Surudi sudah dua puluh lima tahun di jalan, cukup lama buat tahu kapan seseorang menjawab dengan jujur dan kapan seseorang menjawab supaya pertanyaan berhenti. Ia tak mengejar lebih jauh. Ada aturan tak tertulis di kabin truk: kau boleh diam soal masa lalumu, asal kau kerja becus di depan.
"Ya sudah," katanya, memindah gigi lagi karena jalan mulai menanjak pelan-pelan. "Yang penting kau dengar apa yang aku bilang. Rem angin, bau aspal, bekas ban celaka—semua itu bahasa jalan. Kau belum ngerti bahasanya, kau bisa mati di sini tanpa tahu kenapa."
Topan mengangguk, kali ini lebih tenang dari sebelumnya, meski Surudi menangkap dari sudut matanya bahwa kenek barunya ini menyimpan sesuatu di balik diamnya—sesuatu yang lebih berat dari sekadar cari kerja. Ia tak bertanya lagi. Jalan di depan masih panjang, dan perbatasan provinsi baru akan kelihatan menjelang senja. Ada waktu nanti buat menakar orang yang duduk di sampingnya ini, pelan-pelan, kilometer demi kilometer, seperti caranya menakar tiap tikungan yang belum ia hafal betul.
Radio CB di dasbor berderak, suara sopir lain menyebut nama sebuah pos di depan, disusul tawa yang terdengar dipaksakan. Surudi mengecilkan volumenya tanpa mematikan, membiarkan gemerisik itu jadi latar, sementara truk terus merayap naik, membawa dua orang yang sama-sama punya alasan untuk tak banyak bicara tentang diri mereka sendiri.