Kantor PO Bahari berbau kertas lembab dan asap rokok yang mengendap bertahun-tahun di langit-langit. Surudi duduk di kursi plastik yang goyah, memandangi selembar surat jalan yang disodorkan padanya. Tintanya biru pudar, tanda tangan di atasnya sudah tercetak lebih dulu—punya orang yang tak pernah turun ke jalan, pikirnya, tapi berani menaksir harga nyawa orang lain di atas kertas.
"Ongkos dobel, Pak Surudi. Sekali jalan, langsung dua kali lipat dari tarif biasa." Petugas di balik meja tak menoleh dari layar komputernya, seolah kalimat itu sudah ribuan kali ia ucapkan pada sopir-sopir lain yang datang dan pergi. "Rutenya emang berat. Bapak sendiri yang minta rute itu, kan? Bukan kami yang maksa."
Surudi tidak menjawab. Ia menimbang pena di tangannya, seberat mempertimbangkan sebuah pintu yang, begitu dibuka, tak bisa ditutup lagi. Lima bulan menunggak angsuran leasing. Surat peringatan terakhir sudah datang, dilipat rapi di laci meja rumah, seperti bom waktu yang sengaja ia jauhkan dari pandangan Tuminah. Anak bungsunya baru saja diterima SMA, dan uang pendaftaran itu punya tenggat sendiri, tak peduli berapa lama solar bertahan di tangki truk siapa pun.
Ia menandatangani surat itu dengan garis yang agak gemetar di ujung, lalu buru-buru menekannya seolah ingin menahan getar itu supaya tak terlihat.
"Selamat jalan, Pak. Hati-hati di Sitinjau." Petugas itu akhirnya mendongak, dan untuk sesaat matanya menyorot sesuatu yang mirip iba, sebelum kembali ke layarnya.
Di halaman kontrakan, Hino tua itu sudah menyala, mesinnya berdeham-deham seperti orang tua yang baru bangun tidur. Tuminah berdiri di sebelah pintu kabin, memegang rantang yang dibungkus kain, tangannya tak mau lepas dari pegangan itu meski sudah waktunya diserahkan.
"Nasi sudah kubungkus rapat, jangan sampai tumpah di jalan yang goyang-goyang itu," katanya, suaranya dibuat seringan mungkin, tapi Surudi mengenal getar di baliknya seperti ia mengenal suara mesinnya sendiri—getar yang muncul ketika sesuatu ditahan, bukan ketika sesuatu baik-baik saja.
"Aku sudah bawa yang biasa. Nggak usah macam-macam."
"Ini rute dobel, Kang. Bukan yang biasa." Tuminah menyerahkan rantang itu, lalu, seolah teringat sesuatu, ia meraih tangan Surudi dan menyelipkan segenggam uang receh yang dibungkus plastik kecil, diikat karet gelang dua kali. "Buat jaga-jaga. Kalau solar habis di tengah jalan, kau bisa beli sedikit-sedikit dulu daripada nunggu dapat yang banyak."
Surudi menatap bungkusan kecil itu di telapak tangannya—recehan lima ratusan, seribuan lecek, hasil kembalian belanja yang dikumpulkan diam-diam entah sejak kapan. Ia tahu Tuminah tak pernah bilang soal firasat, perempuan itu tak pernah suka kata-kata berat. Tapi cara ia mengumpulkan receh seperti itu, cara ia menyelipkannya dengan kedua tangan bukan satu, seperti sedang menitipkan sesuatu yang lebih dari sekadar uang kembalian.
"Solar nggak akan habis," kata Surudi, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri daripada Tuminah.
"Ya sudah kalau nggak habis. Simpan aja buat jajan anak nanti." Tuminah tersenyum, tapi matanya menatap tangki truk di lambung Hino itu lebih lama dari biasanya, seakan mencoba menghafal berapa banyak yang tersisa di dalamnya sebelum truk itu pergi menjauh dari jangkauannya.
Seorang pemuda muncul dari ujung gang sambil menyeret tas ransel lusuh, kaos oblongnya kebesaran, sendal jepitnya menghentak-hentak tanah becek sisa hujan semalam. Ia berhenti beberapa langkah dari truk, ragu, seperti tak yakin ini kendaraan yang benar.
"Pak Surudi?" suaranya agak parau, mungkin karena gugup, mungkin karena bangun terlalu pagi. "Saya Topan. Dari kantor PO Bahari, katanya saya kenek Bapak mulai hari ini."
Surudi mengamatinya sebentar—tubuh kurus yang belum terbiasa angkat jerigen, tangan yang masih halus, belum berkulit tebal karena tali tambang dan terpal. Anak muda macam ini, pikirnya, biasanya bertahan seminggu lalu kabur begitu tahu rasanya jalan Sitinjau di tengah malam.
"Naik," katanya pendek, sambil membuka pintu kabin sebelah.
Topan naik dengan canggung, kepalanya nyaris terantuk atap kabin, ranselnya ia peluk di pangkuan seolah takut kehilangan. Ia melirik ke dashboard yang penuh tempelan stiker doa dan foto keluarga kecil yang mengelupas di sudutnya, lalu ke spion yang diikat kawat, lalu ke Surudi sendiri, seperti sedang menghafal semuanya sekaligus.
"Bapak sudah lama bawa truk ini?"
"Dua puluh lima tahun di jalan. Truk ini sepuluh."
"Rutenya... jauh, Pak? Sampai Padang?"
"Sampai kau capek nanya," jawab Surudi, tapi tak ada nada marah di situ, hanya lelah yang sudah jadi kebiasaan.
Topan diam sesaat, lalu tetap bertanya lagi, tentang rem angin, tentang berapa jam biasanya tak tidur, tentang apa yang terjadi kalau ban pecah di tanjakan. Surudi menjawab seadanya, sebagian jawaban sungguh-sungguh, sebagian hanya gumaman supaya anak itu berhenti bicara sebentar.
Dari kaca spion, Surudi melihat Tuminah masih berdiri di depan pagar, tak beranjak meski truk sudah mulai bergerak menjauh, tangannya melambai pelan, matanya mengikuti bak truk sampai tikungan gang menelannya dari pandangan. Bungkusan receh itu sudah pindah ke saku kemeja Surudi, dekat dadanya, terasa ganjil beratnya untuk sekadar uang recehan.
Ia menginjak gas lebih dalam, membiarkan Hino tua itu menggeram menuju jalan besar, menuju rute yang baru saja ia kunci dengan tanda tangannya sendiri. Di sampingnya, Topan masih menoleh ke belakang, ke arah kota yang mulai mengecil, seperti sedang meninggalkan sesuatu yang tak ingin ia bicarakan.