Malam pertemuan kedua, hujan kembali turun, lebih deras kali ini. Reksa tiba lebih dulu di warung kopi tua, basah kuyup, jantungnya berdebar oleh harapan dan kecemasan yang bercampur. Sari belum datang. Dimas juga belum.
Pukul sembilan lewat sepuluh. Tidak ada Dimas. Pukul sembilan lewat dua puluh. Reksa menelepon Sari. Tidak diangkat. Perutnya mengerut. Sesuatu salah.
Lalu ponselnya berbunyi. Bukan Sari. Nomor tak dikenal. Reksa mengangkat dengan tangan dingin.
"Dimas tidak akan datang." Suara di seberang itu tenang, dingin, dan akrab. Suara Komisaris Bhakim. "Anak itu sudah kami temukan sore tadi. Sayang sekali. Dia tahu terlalu banyak, dan dia bicara pada orang yang salah. Sama seperti kamu, Reksa."
Reksa berdiri kaku, kakinya seperti tertanam ke lantai. "Bagaimana kamu—"
"Bagaimana saya tahu kalian akan bertemu Dimas? Di warung tuli tanpa CCTV ini?" Bhakim terkekeh, suara yang membuat bulu kuduk Reksa berdiri. "Karena ada yang memberitahu saya, nak. Seseorang yang sangat dekat denganmu. Seseorang yang kamu percaya."
Lantai serasa lenyap di bawah kaki Reksa. "Tidak. Kamu bohong."
"Aku tahu rasanya sulit. Tapi pikirkan baik-baik. Siapa yang tahu setiap langkahmu? Siapa yang mengusulkan menitipkan salinan di loker stasiun? Siapa yang tahu jadwal pertemuan dengan Dimas, lokasinya, jamnya? Bripka Sari, Reksa. Dia milik kami sejak lama. Sejak sahabatnya, Lendra, mati. Tahukah kamu kenapa Lendra mati? Karena Sari yang memberitahu kami apa yang Lendra gali. Dan dia melakukannya lagi, denganmu. Dia hanya umpan yang sangat baik. Dia membuatmu merasa punya kawan, supaya kamu terus menggali ke tempat yang bisa kami awasi."
Reksa menjatuhkan dirinya ke kursi, telepon menempel di telinga, dunia berputar. Tidak. Tidak mungkin. Sari yang menangis di mobil bicara soal Lendra. Sari yang berjanji tidak mau diam dua kali. Sari yang—
"Kamu menabur keraguan," kata Reksa, suaranya bergetar tapi keras. "Itu yang kalian lakukan. Memecah belah. Aku tidak percaya kamu."
"Tidak perlu percaya saya," kata Bhakim ringan. "Percaya pada fakta. Datang ke loker stasiun nomor 114 besok pagi. Lihat apakah salinan buktimu masih ada di sana. Saya jamin sudah kosong, sudah kami ambil. Hanya satu orang selain kamu yang tahu lokasi loker itu. Kalau isinya lenyap, kamu tahu siapa yang memberitahu kami. Selamat malam, Reksa. Dan satu nasihat terakhir, yang ini gratis: pulanglah. Lupakan semua ini. Kamu masih bisa hidup. Hanya kamu sekarang yang tersisa. Dan orang yang sendirian, tidak bisa apa-apa."
Sambungan terputus.
Reksa duduk diam dalam suara hujan yang menderu di atap seng warung. Pikirannya berkecamuk. Mungkin Bhakim berbohong. Itu taktik klasik: hancurkan kepercayaan, dan musuhmu hancur sendiri. Tapi keraguan, sekali ditanam, tumbuh seperti racun. Siapa yang mengusulkan loker stasiun? Sari. Siapa yang tahu semua jadwal? Sari. Siapa yang tahu detail Lendra lebih dari siapa pun?
Lalu, di tengah kepanikan itu, sebuah pikiran dingin menyelinap dan justru membuatnya sedikit lebih tenang. Loker stasiun nomor 114. Bhakim berkata isinya pasti sudah kosong, sudah mereka ambil. Tapi Bhakim tidak tahu satu hal: loker itu tidak pernah berisi bukti asli. Reksa telah diam-diam mengganti isinya dengan dokumen samaran, dan menyimpan salinan asli yang sebenarnya di tempat yang bahkan Sari tidak tahu. Kalau mereka sudah membongkar loker 114 dan mengira mereka memegang bukti utuh, mereka justru sedang memegang umpan. Itu berarti dua hal sekaligus: kebocoran soal loker itu memang nyata, ada yang memberi tahu mereka, dan kartu sesungguhnya masih di tangan Reksa. Ia menyimpan kesadaran itu rapat-rapat, tidak menunjukkannya, bahkan lewat telepon yang sudah mati.
Reksa berlari keluar ke hujan, melompat ke motornya, dan memacu menuju kamar kos yang menjadi markas mereka. Tangannya gemetar saat membuka pintu. Tempat itu kosong. Laptop hilang. Map salinan yang biasanya disimpan Sari di laci, lenyap. Hanya ada secarik kertas di atas meja, tulisan tangan Sari yang ia kenal:
"Maafkan aku. Kamu tidak akan mengerti sampai kamu ada di posisiku. Larilah, Reksa. Selagi bisa. Jangan ke stasiun. Jangan ke kantor. Mereka menunggu di kedua tempat. Aku tidak bisa menyelamatkanmu, tapi setidaknya aku bisa memperingatkanmu. Itu satu-satunya hal yang masih bisa kulakukan."
Reksa meremas kertas itu, air dari rambutnya menetes membasahi tinta, membuat huruf-hurufnya luntur. Maaf. Pengkhianatan dan peringatan dalam napas yang sama. Ia tidak tahu lagi apa yang nyata. Apakah Sari benar-benar berkhianat, atau ia korban yang lain, terjebak sepertinya, dipaksa memilih? Peringatan ini, apakah jebakan, atau penebusan terakhir?
Yang Reksa tahu pasti hanya dua hal. Pertama, ia sekarang benar-benar sendirian. Kedua, mereka mengira sudah memegang semua kartu di tangannya, padahal ada satu yang sejak awal tidak pernah mereka lihat, bahkan tidak Sari.