Dimas adalah lelaki kurus berusia awal dua puluhan dengan mata cekung orang yang sudah lama tidak tidur nyenyak. Ia gemetar saat masuk ke warung kopi tua di pinggiran kota, tempat yang Sari pilih karena pemiliknya tuli dan tidak ada CCTV. Reksa dan Sari menunggu di meja paling pojok, berpakaian preman.
"Aku nggak punya banyak waktu," kata Dimas, duduk dengan gelisah, terus melirik ke pintu. "Kalau mereka tahu aku di sini, aku mati. Sumpah, aku mati."
"Tenang," kata Sari, suaranya menenangkan tapi tegas. "Kami bisa lindungi kamu. Tapi kamu harus jujur. Ceritakan semuanya. Toni. Dan siapa yang melindunginya."
Dimas meneguk air, tangannya bergetar. Lalu, kata-kata itu mengalir, seperti bendungan yang jebol setelah bertahun-tahun ditahan.
"Toni itu bandar. Yang paling besar di kota ini. Tapi dia nggak akan sebesar itu tanpa pelindung. Aku pernah lihat sendiri. Setiap akhir bulan, ada serah terima. Bukan barang. Uang. Tas penuh uang. Toni nggak pernah serahkan sendiri, dia kirim orang. Tapi yang terima, aku lihat sekali, waktu aku disuruh nyetir. Orang berseragam. Pangkat tinggi."
Reksa mencondongkan badan. "Kamu lihat wajahnya?"
Dimas mengangguk pelan, ketakutan. "Komisaris itu. Yang sering masuk koran. Yang bagi-bagi sembako." Ia menyebut nama itu, nama Bhakim, dengan suara nyaris tak terdengar, seolah menyebutnya saja sudah bisa membunuhnya. "Mereka sudah kerja sama lama. Toni jualan, Komisaris melindungi. Kalau ada operasi mau nyasar Toni, Komisaris yang kasih tahu duluan, jadi tempatnya dikosongin. Pengedar yang ketangkep, dilepas. Yang nolak ikut aturan, atau yang tahu terlalu banyak..." Dimas menelan ludah. "Hilang. Kayak Hendarta. Hendarta itu mau keluar, mau ngomong ke orang luar. Makanya dia dihabisi."
Dimas berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah lagi. "Cara mereka licik. Mereka nggak mau tangan sendiri yang kotor. Hendarta itu paranoid, selalu bawa pistol ke mana-mana, semua orang di lingkaran Toni tahu itu, dan dia lagi panik karena merasa diburu. Mereka tinggal pancing dia. Hari itu Toni sengaja bocorin ke Hendarta kalau dia mau dibereskan malam itu, biar Hendarta lari ke gang yang sudah ditentukan, panik, pistol di tangan. Lalu mereka kirim patroli ke situ tepat waktu. Orang panik plus pistol di gang gelap, sama polisi yang nyenter dia, ujungnya cuma satu. Pasti baku tembak. Mereka tinggal nunggu Hendarta narik pelatuk duluan, dan dia pasti narik, karena dia kira itu orang suruhan Toni yang mau menghabisinya. Sisanya tinggal laporan rapi."
Reksa merasakan dadanya sesak. Penembakan di hari pertamanya. Bukan kebetulan. Ia adalah bagian dari rencana mereka, alat untuk menyingkirkan Hendarta tanpa kotor tangan sendiri. Goldra yang membawanya ke gang itu. Goldra yang memilih tinggal di mobil, membiarkan anak baru maju sendiri ke depan moncong orang yang sudah dipastikan akan menembak. Goldra yang menyuruhnya diam setelahnya. Semuanya tiba-tiba masuk akal dengan cara yang mengerikan.
"Tunggu," kata Reksa pelan. "Maksud kamu, aku... aku dipakai untuk membunuh Hendarta?"
Dimas menatapnya, dan dalam tatapan itu ada semacam belas kasihan. "Kamu polisi baru, kan? Yang nembak di Pasar Lama? Iya. Mereka butuh orang bersih buat narik pelatuk. Yang nggak tahu apa-apa. Biar laporannya rapi: pembelaan diri sama polisi baru yang lugu. Mereka cuma perlu menaruh kamu di sana dan memastikan Hendarta yang nembak duluan. Dan mereka tahu Hendarta pasti nembak. Sempurna."
Hening menyelimuti meja itu. Sari meletakkan tangannya di lengan Reksa, sebuah jangkar di tengah badai. Reksa merasa seolah lantai di bawahnya runtuh. Tangannya, tangan yang ia kira menarik pelatuk untuk membela diri, ternyata sudah dirancang oleh orang lain jauh sebelum ia menyadarinya. Bahkan ketakutan Hendarta, bahkan tembakan pertama yang ia kira menyelamatkan nyawanya, semuanya sudah diperhitungkan.
"Aku punya bukti," kata Dimas tiba-tiba, menurunkan suaranya lagi. "Aku nggak bego. Aku tahu suatu hari aku butuh tameng. Aku simpan rekaman. Suara. Waktu serah terima uang itu. Dan ada nomor rekening, ada catatan. Aku kasih kalian semua, asal kalian janji lindungi aku. Bawa aku keluar dari kota ini. Beri aku kesempatan hidup."
Reksa dan Sari bertukar pandang. Ini dia. Mata rantai terakhir. Kesaksian dan rekaman yang menyambungkan seragam dengan bandar, dalam satu garis yang tidak bisa dibantah pengacara mana pun.
"Kapan kamu bisa serahkan rekaman itu?" tanya Sari.
"Besok malam. Aku simpan di tempat aman. Aku nggak berani bawa sekarang." Dimas berdiri, kembali gelisah. "Tempat yang sama. Jam sembilan. Datang berdua aja. Jangan bawa siapa pun. Jangan percaya siapa pun di kantor kalian. Siapa pun."
Setelah Dimas pergi, menyelinap keluar lewat pintu belakang, Reksa dan Sari duduk diam beberapa saat.
"Kita hampir sampai," kata Sari pelan. "Setelah rekaman itu di tangan, kita bawa semuanya ke luar kota. Ke Mabes. Ke pers. Ke siapa pun yang tidak bisa dijangkau Bhakim."
Reksa mengangguk, tapi perasaan tidak enak menggelayut di dadanya. "Jangan bawa siapa pun. Jangan percaya siapa pun." Kata-kata Dimas terngiang. Ia memandang Sari, satu-satunya orang yang ia percaya, dan untuk sepersekian detik yang ia benci, sebuah pertanyaan terlintas yang langsung ia tepis dengan rasa bersalah.