Fajar belum datang ketika Reksa berdiri di tepi jembatan tua di pinggir Kota Garumi, menatap sungai hitam yang mengalir di bawahnya, sungai yang sama tempat mobil Bripka Lendra dulu ditemukan. Hujan sudah reda menjadi gerimis. Di saku jaketnya, ada satu salinan terakhir bukti, satu-satunya yang asli, yang ia simpan terpisah dari semua yang lain, di tempat yang bahkan Sari tidak tahu, sementara yang di loker stasiun hanyalah umpan yang sengaja ia tanam. Insting yang ia syukuri sekarang.
Ponselnya, yang ia kira sudah ia matikan, bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal, disertai sebuah video. Reksa membukanya dengan tangan dingin. Di layar, Sari, duduk di sebuah ruangan kosong, wajahnya lebam, tangannya terikat. Di belakangnya, bayangan dua lelaki. Suara Bhakim terdengar dari luar bingkai:
"Rupanya kawanmu ini tidak sepenuhnya milik kami, Reksa. Dia memperingatkanmu. Itu kesalahan terakhirnya. Jadi begini tawarannya. Kami sudah bongkar loker 114. Isinya sampah. Kamu pintar, mengganti isinya, mengakali kami. Saya menghargai itu. Berarti bukti yang asli masih hidup, di tanganmu. Tukar. Bukti itu, untuk nyawanya. Datang ke gudang pelabuhan, sendiri, jam enam pagi. Bawa bukti aslinya. Atau Bripka Sari menyusul Lendra ke dasar sungai yang kamu tatap sekarang itu. Ya, kami melihatmu."
Reksa menoleh cepat ke sekeliling. Gelap. Sepi. Tapi mereka mengawasi. Mereka selalu mengawasi.
Video berakhir. Reksa berdiri membeku, dua kebenaran bertabrakan di kepalanya. Sari mengkhianatinya, atau Sari menyelamatkannya, atau keduanya. Tapi sekarang Sari, perempuan yang janji tidak mau diam dua kali, perempuan yang akhirnya memilih memperingatkannya meski itu membahayakan nyawanya sendiri, ada di tangan Bhakim karena Reksa.
Di tangan kanannya, bukti. Bukti yang bisa meruntuhkan Bhakim, Toni, seluruh jaring busuk itu. Bukti yang menjadi keadilan untuk Hendarta, untuk Lendra, untuk ayahnya, untuk setiap orang kecil yang ditelan kota ini. Aturan, hati nuraninya sebagai polisi, mengatakan: jangan pernah bernegosiasi. Bawa bukti ini ke luar kota, ke Mabes, ke pers, hancurkan mereka secara hukum. Itu cara yang benar. Itu yang seharusnya dilakukan polisi.
Tapi itu berarti membiarkan Sari mati.
Di tangan kirinya, nyawa Sari. Menyerahkan bukti berarti menyerahkan satu-satunya senjata yang ia punya, mempercayai janji penjahat yang sudah membunuh banyak orang. Mungkin Sari sudah mati. Mungkin ini jebakan untuk membereskan mereka berdua sekaligus. Tapi jika ada satu persen kemungkinan ia bisa menyelamatkannya, bisakah ia menukar nyawa manusia dengan secarik kertas?
Aturan atau keadilan. Hukum atau nurani. Kepala atau hati.
Reksa menatap arloji. Pukul lima lewat dua puluh. Empat puluh menit menuju pelabuhan. Empat puluh menit untuk memutuskan jenis polisi apa, jenis manusia apa, yang akan ia jadikan dirinya.
Ia memikirkan ayahnya, yang selalu bilang bahwa keadilan tanpa belas kasih hanyalah kekejaman yang dirapikan. Ia memikirkan wajah Hendarta yang sekarat. Ia memikirkan Sari, lebam, terikat, satu-satunya orang yang pernah berdiri di sisinya.
Lalu Reksa melakukan sesuatu. Ia mengeluarkan ponselnya, dan mulai mengetik, cepat, satu pesan ke satu nomor yang sejak awal tidak pernah ia sebut kepada siapa pun, bahkan kepada Sari. Pram. Kakak tingkatnya di akademi yang keluar jadi wartawan investigasi, satu orang di luar yang tidak bisa dijangkau Bhakim, persis seperti yang dijanjikan kepadanya di hari kelulusan dulu. Nomor yang ia simpan bertahun-tahun tanpa pernah ia pakai, menunggu malam seperti ini. Sebuah kartu terakhir yang bahkan Bhakim tidak tahu ia pegang.
Ia menyimpan salinan bukti itu kembali ke saku, menarik napas dalam-dalam, dan menyalakan mesin motornya. Lampu sirene kota yang jauh berkedip merah dan biru di cakrawala, memantul di genangan air, seperti detak jantung kota yang busuk ini.
Pukul enam pagi, Reksa akan tiba di gudang pelabuhan. Sendirian, seperti yang mereka minta. Tapi tidak benar-benar sendirian.
Apakah ia datang untuk menukar bukti dan menyerahkan keadilan demi nyawa Sari? Atau ia datang dengan rencana lain, dengan kartu yang belum ia mainkan, mempertaruhkan nyawa Sari demi keruntuhan mereka semua? Bahkan Reksa sendiri belum sepenuhnya tahu, sampai jarinya menyentuh pelatuk pilihan itu.
Yang pasti, fajar ini, salah satu dari mereka tidak akan menyaksikan matahari terbenam.