Vonis itu akhirnya jatuh menjelang akhir tahun.
Komisaris Bhakim dinyatakan bersalah atas korupsi, pencucian uang melalui yayasan amal, perlindungan terhadap jaringan narkoba, dan keterlibatan dalam serangkaian kematian yang selama bertahun-tahun disamarkan sebagai kecelakaan dan baku tembak. Hukumannya berat, sepadan dengan tahun-tahun yang ia rampas dari orang lain. Sang perwira tinggi di atasnya, nama yang dulu tak boleh disebut, divonis dalam sidang terpisah, jatuh dari puncak yang ia kira tak tergoyahkan. Toni mendapat keringanan dibanding seharusnya, karena pada akhirnya ia memilih menjadi saksi mahkota, membuka seluruh pembukuan jaringannya untuk meruntuhkan para pelindung berseragam, sebuah tawar-menawar dengan iblis yang Reksa tahu akan terus ia pertanyakan secara moral seumur hidupnya, tapi tanpa itu, banyak benang tidak akan pernah tersambung.
Goldra divonis sesuai perannya, kaki tangan, pembocor, tukang antar amplop, bukan otak, tapi juga bukan orang tak bersalah. Hukumannya pun diringankan, sebab dialah yang lebih dulu membelot, membuka prosedur dalam dan memberi kesaksian resmi yang menyalakan jalan menuju Bhakim, jauh sebelum gudang pelabuhan. Di hari vonisnya, ia menatap Reksa dari kejauhan, dan kali ini ia tidak menundukkan kepala. Ia hanya mengangguk pelan, sekali, sebuah pengakuan tanpa kata atas siapa yang benar dan siapa yang keliru di gang sempit malam itu, tiga tahun perjalanan yang lalu.
Dan Sari.
Statusnya adalah yang paling rumit dari semua. Ia pernah menjadi mata Bhakim, ia pernah membocorkan langkah Reksa, dan secara hukum itu bukan hal yang bisa diabaikan. Tapi ia juga yang menyimpan bukti Lendra selama tiga tahun, yang memperingatkan Reksa di malam terakhir dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri, yang kembali masuk ke sarang untuk menanam alat sadap saat semua orang tahu satu kesalahan berarti mati, yang bersaksi dengan jujur tentang dosanya sendiri di depan pengadilan. Majelis hakim dan penyidik mempertimbangkan semuanya. Pada akhirnya, peran penebusannya yang menentukan diakui sebagai meringankan secara signifikan; ia menjalani konsekuensi atas keterlibatan masa lalunya, tidak lolos begitu saja, tapi jauh dari nasib yang dulu menanti orang-orang yang menyeberang dari sisi Bhakim. Ia membayar, tapi ia tidak hancur.
Reksa menemuinya di sebuah warung kopi pinggir kota, beberapa minggu setelah vonis, jenis tempat yang dulu mereka pilih untuk berbisik tentang konspirasi, kini mereka datangi hanya untuk minum kopi seperti dua manusia biasa. Hujan gerimis turun di luar, motif lama yang tidak pernah benar-benar pergi dari kota ini.
"Kamu tahu," kata Sari, mengaduk kopinya pelan, "aku menyesali banyak hal. Lendra. Tahun-tahun aku diam. Hari-hari aku jadi mata mereka. Tapi malam aku menulis surat peringatan itu untukmu, dan tahu kamu mungkin akan mati kalau aku tidak, itu satu-satunya malam dalam tiga tahun aku merasa seperti diriku sendiri lagi."
"Kamu menyelamatkan banyak orang," kata Reksa. "Termasuk aku. Beberapa kali."
"Dan aku mengkhianatimu. Itu juga benar." Ia menatap Reksa, jujur seperti biasa. "Jangan rapikan itu. Aku tidak butuh dirapikan. Kebenarannya berantakan, dan tidak apa-apa."
Reksa tersenyum tipis. Ia teringat ayahnya, keadilan tanpa belas kasih hanyalah kekejaman yang dirapikan, dan ia mengerti, untuk Sari, kebalikannya juga benar; belas kasih tanpa kejujuran hanyalah kebohongan yang dimanis-maniskan. Sari tidak menawarkan keduanya. Hanya kebenaran yang berantakan. Dan justru itu yang membuat Reksa, akhirnya, bisa benar-benar mempercayainya.
Di seberang meja, ponsel Reksa menyala. Sebuah pesan dari Pram, dari ibu kota, disertai tautan. Liputan penutup, seri investigasi yang sudah berbulan-bulan ditulis Pram dan jaringannya, kini diterbitkan utuh, dengan nama-nama, angka-angka, dan wajah-wajah yang dulu bersembunyi di balik kata 'pelindung berseragam'. Di bagian akhir tulisan itu, Pram menutup dengan satu kalimat yang membuat tenggorokan Reksa tercekat: untuk Lendra, Hendarta, Dimas, dan setiap nama yang sungai ini telan tanpa pernah dikembalikan; kalian tidak terlupakan.
Reksa menutup ponselnya, menatap gerimis di luar jendela. Sungai itu masih mengalir di pinggir kota, hitam dan tua, menyimpan rahasia yang kini sebagian besar sudah ia kembalikan ke permukaan. Tidak semuanya. Tidak akan pernah semuanya. Tapi cukup.
"Sekarang apa rencanamu?" tanya Sari.
Reksa diam sejenak. "Aku belum tahu," katanya jujur. "Tapi pertama, aku harus pulang. Aku belum bicara dengan ayahku sejak semua ini dimulai."