Ruang sidang pengadilan negeri itu tidak besar dan tidak megah. Tidak ada beludru, tidak ada kemewahan, hanya bangku-bangku kayu yang sudah aus, pendingin udara yang berderik, dan langit-langit dengan bercak air yang mengingatkan Reksa pada kontrakan lamanya. Tapi di ruangan sederhana itulah, bulan demi bulan, jaring yang dulu tampak tak tersentuh diurai benang demi benang, di bawah cahaya hukum yang lambat tapi tidak bisa disuap.
Reksa duduk di kursi saksi pada hari kesekian persidangan, mengenakan kemeja rapi, bukan seragam, dan menatap deretan terdakwa di balik kaca. Bhakim ada di sana, kurus dalam rompi tahanan, jauh berbeda dari komisaris yang dulu menabur senyum di koran. Toni di sampingnya, lalu Goldra, lalu sang perwira tinggi yang sidangnya dipisah karena pangkat dan jangkauannya, tapi namanya sudah menjadi milik publik.
"Saudara saksi," kata jaksa, seorang perempuan muda bersuara tenang dan tajam, "tolong ceritakan kepada majelis hakim apa yang terjadi pada malam pertama Anda bertugas."
Reksa menarik napas. Lalu ia bercerita. Tentang gang sempit yang bau. Tentang dua bayangan. Tentang kilatan logam dan satu tembakan. Tentang lelaki muda bernama Hendarta yang sekarat di pelukannya, dan kata-kata terakhirnya: mereka ada di dalam, di kantor kalian sendiri. Ia bercerita tanpa membela diri, termasuk bagian tergelap, bahwa tangannya yang menarik pelatuk hari itu, bahwa ia, tanpa tahu, telah menjadi alat. Ia tidak menyembunyikannya. Justru karena itulah, kesaksiannya menjadi tak terbantahkan.
Satu per satu, bukti dihadirkan. Rekaman suara Dimas diputar di ruang sidang, dan ketika suara serah-terima uang itu terdengar, dengan suara Bhakim di dalamnya menyebut angka dan rekening, ruangan itu hening sempurna. Pembukuan ganda CV Bahari Jaya dibentangkan oleh akuntan yang dulu ketakutan dan kini, di bawah perlindungan, bersaksi dengan suara bergetar tapi jelas. Aliran uang dari yayasan amal ke rekening yang bermuara pada keluarga Bhakim dipaparkan angka demi angka oleh ahli keuangan. Amplop bernomor seri yang dulu diberikan Goldra dicocokkan dengan catatan tanggal Reksa, sempurna, satu per satu.
Dan Sari bersaksi.
Reksa menyaksikan dari bangku pengunjung saat perempuan itu naik ke kursi saksi, punggung tegak, suara mantap. Ia menceritakan dua belas tahunnya dalam sistem yang membusuk, ketakutannya saat Lendra mati, diamnya yang ia sesali setiap hari. Ia tidak menyembunyikan bahwa ia pernah ditekan, pernah dipaksa menjadi mata Bhakim, pernah berada di titik di mana ia hampir kehilangan dirinya sendiri. Tapi ia juga menceritakan bagaimana ia memilih, di malam terakhir itu, untuk menulis sebuah peringatan alih-alih membiarkan Reksa berjalan ke perangkap. Bagaimana ia menyimpan, selama tiga tahun, sepotong bukti peninggalan Lendra yang akhirnya menjadi mata rantai yang hilang. Penebusan, ia tidak menyebutnya begitu. Tapi seisi ruangan memahaminya begitu.
Hakim mendengarkan semuanya dengan wajah yang tidak terbaca, mencatat, sesekali bertanya. Tidak ada keputusan yang datang cepat. Tidak ada palu yang jatuh dalam sehari. Reksa belajar, di bulan-bulan itu, bahwa keadilan lewat aturan adalah hal yang lambat, melelahkan, penuh prosedur dan tunda dan keberatan pengacara. Tapi ia juga belajar bahwa justru kelambatan itulah yang membuatnya kokoh. Keadilan yang datang lewat peluru bisa dipertanyakan selamanya. Keadilan yang datang lewat berkas, kesaksian, dan palu hakim, sekali jatuh, tidak bisa lagi dikubur diam-diam di dasar sungai.
Saat ia turun dari kursi saksi hari itu, Reksa melewati kaca tempat para terdakwa duduk. Bhakim menatapnya. Tidak ada lagi ancaman di mata itu, tidak ada lagi tawaran beludru. Hanya seorang lelaki yang, untuk pertama kali, harus duduk di sisi meja yang selama ini ia kira hanya untuk orang lain.
Reksa tidak berhenti. Ia berjalan terus, keluar dari ruang sidang, ke koridor tempat Pram menunggunya dengan secangkir kopi dan secarik pertanyaan di wajahnya. Ada banyak yang masih harus diselesaikan. Tapi untuk hari ini, ia sudah bersaksi, untuk Hendarta, untuk Lendra, untuk Dimas, dengan kata-kata, bukan dengan peluru. Dan itu, ia rasa, adalah jenis polisi yang dulu ia harapkan ada.