Kampung tempat Reksa lahir tidak banyak berubah. Jalanan tanah yang sama, deretan toko kelontong yang sama, bau gorengan dan tanah basah sehabis hujan. Toko kecil ayahnya masih berdiri di sudut yang sama, catnya makin pudar, tapi pintunya masih terbuka, dan di balik etalase kaca yang berdebu, ayahnya masih duduk di kursi rotan tua, menimbang gula dengan tangan yang lebih lambat dari yang Reksa ingat.
Lelaki tua itu mengangkat wajah saat bayangan Reksa jatuh di ambang pintu. Untuk sesaat ia menyipit, lalu matanya melebar, lalu sesuatu di wajah tuanya melembut dengan cara yang membuat dada Reksa terasa penuh.
"Kamu kurus," kata ayahnya, suara pertama setelah berbulan-bulan. Bukan pelukan, bukan air mata. Hanya itu. Khas mereka.
"Banyak kerjaan, Pak," kata Reksa, dan ia masuk, duduk di bangku kayu di samping ayahnya, di tempat ia dulu duduk sebagai anak kecil sambil menonton ayahnya berdagang, sebelum perampokan itu, sebelum keadilan yang tak pernah datang, sebelum semuanya.
Mereka tidak banyak bicara tentang apa yang terjadi. Ayahnya sudah membacanya di koran, sudah melihatnya di televisi kecil di sudut toko, sudah mendengar tetangga membicarakan polisi muda dari kampung mereka yang namanya disebut-sebut. Tapi lelaki tua itu tidak bertanya banyak. Ia hanya, pada satu titik, di antara keheningan dan suara hujan yang kembali turun di luar, berkata pelan, "Waktu toko ini dirampok dulu, dan tidak ada yang datang menolong, kamu masih kecil. Kamu bilang ke Bapak, suatu hari kamu mau jadi polisi yang datang. Bapak kira itu cuma omongan anak kecil yang marah." Ia menimbang gula, tidak menatap Reksa. "Ternyata tidak."
Reksa menelan ludah. Ia tidak menjawab. Tidak perlu.
Beberapa hari kemudian, ia kembali ke Garumi. Kota itu juga tidak banyak berubah, dan ia tahu, dengan jujur yang sudah ia pelajari mahal-mahal, bahwa ia tidak akan pernah berubah sepenuhnya. Satu jaring telah putus, satu tangan telah dipotong, tapi Bhakim benar tentang satu hal: selalu ada gang berikutnya, selalu ada bandar berikutnya, selalu ada amplop yang menunggu tangan yang lelah. Garumi tidak menjadi bersih dalam semalam. Tidak ada kota yang begitu. Yang berubah hanyalah ini: sekarang ada satu jaring yang lebih sedikit, dan ada orang-orang yang tahu bahwa jaring seperti itu bisa diputus, bahwa ia tidak abadi, bahwa bahkan nama yang tak boleh disebut pun bisa digiring keluar dari gudang itu dengan tangan terangkat di depan kamera.
Polsek Garumi Timur menawarkan Reksa kembali bertugas, kini dengan catatan bersih, bahkan dengan semacam penghormatan canggung dari rekan-rekan yang dulu memandangnya curiga. Pram menawarinya jalan lain, di ibu kota, menjadi narasumber dan mitra dalam kerja-kerja investigasi, jalur di mana pena bisa menjangkau apa yang seragam kadang tidak bisa. Sari, yang menjalani masa konsekuensinya dengan tenang, berkata kepadanya bahwa pilihan apa pun yang ia ambil, ia tidak akan menyalahkannya.
Reksa berdiri di depan kaca lobi Polsek Garumi Timur, di tempat yang sama persis ia berdiri di hari pertamanya, menatap pantulan dirinya. Seragam yang sama, tapi tubuh yang berbeda di dalamnya. Bukan lagi anak baru yang berbau toko, yang seragamnya masih kaku. Seseorang yang sudah menembak dan ditembak, dikhianati dan menyelamatkan, kehilangan dan menemukan, dan yang akhirnya tahu, dengan kepastian yang dibayar mahal, perbedaan antara aturan dan keadilan, dan kapan keduanya bisa berjalan bersama.
Ia belum sepenuhnya tahu jalan mana yang akan ia ambil. Mungkin ia akan tetap di seragam ini, mencoba menjadi batu kecil yang mengganjal mesin dari dalam. Mungkin ia akan keluar, seperti Pram, dan melawan dari luar. Mungkin keduanya, bergantian, sepanjang hidup yang masih panjang. Tapi satu hal sudah ia putuskan, dan keputusan itu terasa seringan dan sejelas fajar yang akhirnya datang ke gudang pelabuhan pagi itu.
Apa pun jalannya, ia akan tetap menjadi orang yang dulu ia janjikan kepada ayahnya, kepada Pram, kepada anak kecil di toko yang dirampok dan tak ada yang datang. Ia akan tetap menjadi polisi yang dulu ia harapkan datang menolong.
Di luar, hujan tipis turun di Kota Garumi, jenis hujan yang sama seperti malam pertamanya, lembap dan tak pernah benar-benar membersihkan apa pun. Tapi di kejauhan, sebuah sirene melintas, merah dan biru memantul di genangan air, dan untuk pertama kali sejak ia mengenakan seragam ini, suara itu tidak terdengar seperti ancaman.
Ia terdengar seperti seseorang, di suatu tempat, akhirnya datang menolong.