Pagi itu berubah menjadi siang sementara gudang pelabuhan lama dipenuhi garis polisi kuning, petugas forensik, dan deru kendaraan yang datang silih berganti. Reksa duduk di tepi sebuah peti kayu, sebuah selimut darurat tersampir di pundaknya, menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari penyidik Mabes dengan suara yang semakin lama semakin lelah, tapi juga semakin lega.
Mereka membawa Bhakim keluar lebih dulu, tangannya yang terluka sudah dibebat sementara, diborgol di belakang punggung, dikawal ketat. Komisaris itu berjalan tertunduk melewati Reksa, dan untuk sesaat ia mengangkat wajah. Tidak ada lagi senyum lebar. Tidak ada lagi jam tangan mahal, lukisan kapal layar, atau aura kebapakan yang dulu membuat seluruh kota mempercayainya. Yang tersisa hanya seorang lelaki tua yang ketahuan, kecil, biasa, dan untuk pertama kali, takut.
Ia berhenti sejenak di depan Reksa. "Kamu pikir ini berakhir di sini," katanya, suaranya parau. "Selalu ada yang menggantikan. Selalu ada kota berikutnya, gang berikutnya. Kamu cuma memotong satu tangan."
Reksa menatapnya, dan untuk pertama kali ia tidak merasakan gentar, tidak juga benci. Hanya sebuah kepastian yang dingin dan tenang. "Mungkin," katanya. "Tapi ini tanganmu. Dan hari ini, ia putus."
Bhakim digiring pergi. Reksa tidak menoleh untuk melihatnya naik ke mobil tahanan.
Toni dibawa berikutnya, lalu para anak buah Bhakim, satu per satu, diborgol dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap siapa pun. Saat Toni melewati Reksa, ia bergumam sesuatu yang nyaris tidak terdengar, mungkin sebuah permintaan maaf, mungkin sebuah pembelaan, dan Reksa membiarkannya lewat tanpa kata. Ada hal-hal yang bukan tugasnya untuk memaafkan. Itu urusan pengadilan, dan urusan hati nurani mereka sendiri, jika masih tersisa.
Renjana mendekat sebentar, menunjukkan layar ponselnya kepada Reksa. "Si perantara, yang inisialnya AP itu," katanya pelan. "Tim kedua menahannya satu jam lalu, di apartemennya, bersama rekening dan pembukuan penyaringan uang. Lelaki yang tidak pernah mau wajahnya terlihat. Sekarang wajahnya ada di berkas kami." Reksa hanya mengangguk. Pintu di antara Toni dan sang Kombes, sosok pendek beramping yang dulu membelakangi cahaya di pelabuhan, akhirnya ikut tertutup. Jaring itu tidak menyisakan simpul yang menggantung.
Sang perwira tinggi, nama yang tak boleh disebut, dibawa pergi paling akhir, dengan pengawalan paling ketat, dikelilingi kamera yang tidak berhenti menyala. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak perlu. Wajahnya, terekam digiring keluar dengan tangan terangkat dari dalam gudang penyelundupan, tempat ia datang dengan kaki sendiri dan seharusnya tidak pernah ada, sudah mengatakan lebih dari cukup kepada seluruh negeri.
Pram mendekat, menjatuhkan diri ke peti kayu di samping Reksa, mengembuskan napas panjang. "Sudah tayang," katanya, menunjukkan layar ponselnya. Tiga portal berita besar, satu stasiun televisi nasional, semua memuat berita yang sama, dengan foto yang sama. Jaring yang selama bertahun-tahun bersembunyi di balik kata 'keseimbangan kota' kini terhampar telanjang di depan publik. "Mereka tidak bisa menariknya kembali. Terlalu banyak mata yang sudah melihat. Kamu berhasil, Reksa."
"Kita," kata Reksa pelan. Ia menoleh ke Sari, yang sedang diperiksa seorang petugas medis di kejauhan, lalu kembali ke Pram. "Dan harganya mahal."
Ia memikirkan Dimas, lelaki kurus yang gemetar di warung kopi, yang ingin keluar dan hidup, yang dibunuh sebelum sempat menyerahkan tamengnya sendiri. Ia memikirkan Hendarta, sekarat di selokan dengan kata-kata yang akhirnya terbukti benar. Ia memikirkan Bripka Lendra, di dasar sungai selama tiga tahun, namanya nyaris terhapus. Ia memikirkan Pak Wira yang kiosnya ditutup paksa, dan satu sumber kecil yang hilang di tengah jalan, yang nyawanya menjadi harga dari satu nama dalam berkas ini. Kemenangan pagi ini berdiri di atas terlalu banyak kuburan.
"Mahal," Pram mengakui. Ia menepuk lutut Reksa. "Tapi tidak sia-sia. Untuk pertama kalinya, harganya dibayar oleh yang seharusnya membayar. Bukan oleh orang kecil."
Reksa mengangguk, menatap pelabuhan tua di luar, air yang berkilau di bawah matahari yang akhirnya naik penuh, kontainer-kontainer karatan yang berdiri seperti makam besi. Tempat ini, tempat semuanya bermula di malam pertama ia mengintai, dan tempat semuanya berakhir di pagi ini. Satu lingkaran tertutup.
Tapi ia tahu, ini belum benar-benar selesai. Penangkapan hanyalah awal. Yang sesungguhnya menentukan apakah semua ini berarti, apakah Hendarta dan Lendra dan Dimas mendapat keadilan mereka, akan terjadi bukan di gudang ini, bukan dengan peluru, melainkan di sebuah ruangan yang jauh lebih sunyi, di hadapan palu hakim, dalam berhari-hari sidang yang melelahkan. Dan ke sanalah, ia tahu, ia harus pergi berikutnya. Bukan sebagai buron. Bukan sebagai anak baru. Tapi sebagai saksi.