Dalam beberapa menit, gudang yang tadi gelap dan tertutup itu berubah menjadi terang dan penuh suara. Personel berompi bertuliskan tim gabungan menyebar ke setiap sudut, melumpuhkan anak buah Toni satu per satu, menendang menjauh senjata yang berserakan di semen. Toni sendiri ditangkap di dekat pintu samping, dijatuhkan ke lantai oleh dua petugas, rambutnya yang rapi kini acak-acakan, kemeja mahalnya kotor oleh debu. Ia tidak melawan. Ia hanya tertawa pendek, getir, tawa orang yang sudah lama tahu hari ini akan datang dan diam-diam lega bahwa beban menunggunya akhirnya selesai.
Reksa diangkat berdiri perlahan oleh seorang petugas yang memeriksa identitasnya, lalu seseorang dari kejauhan berteriak, "Dia bersih. Itu orangnya. Lepaskan." Reksa menoleh ke sumber suara, dan di antara cahaya pagi yang menyembur dari pintu, berdiri seorang lelaki dengan rompi pers, kamera kecil di tangan, dan wajah yang sudah bertahun-tahun tidak ia lihat secara langsung tapi tidak pernah ia lupakan.
Pram.
Lebih tua, lebih kurus, dengan garis-garis di wajah yang dulu tidak ada. Tapi sorot matanya sama. Di belakang Pram, dua jurnalis lain dan AKBP Renjana, penyidik antikorupsi dari Mabes itu, berkacamata dan berwajah dingin, yang sejak tadi memberi komando.
"Kamu hidup," kata Pram, mendekat, suaranya serak. "Astaga. Pesanmu itu, tiga bulan lalu. Aku kira aku terlambat membacanya."
"Kamu tepat waktu," kata Reksa. Tenggorokannya tercekat. "Kamu semua tepat waktu."
Sari berdiri di sampingnya, memijit pergelangan tangannya yang merah bekas tali, dan untuk sesaat ia dan Reksa bertukar pandang, pandangan dua orang yang sudah menghitung pagi ini ratusan kali dan masih hampir tidak percaya mereka berdua masih bernapas untuk menyaksikannya.
Penyidik Mabes itu mendekat, memegang sebuah berkas tebal, salinan dari semua yang telah Reksa dan Pram kirim ke saluran aman selama berbulan-bulan. "Komisaris Bhakim. Toni Wirahadi alias Toni. Anak buah mereka. Dan," ia menatap Reksa, "ada satu lagi yang harus kami pastikan. Nama yang ada di puncak rantai, tempat semua setoran akhirnya bermuara. Kamu yakin dia ada di sini?"
Reksa menoleh ke arah lelaki beruban yang berdiri terpisah di antara peti kemas, di mulut gudang tempat ia tadi turun dari mobil ketiga dengan kaki sendiri, kini dikepung tiga petugas berompi. Sudibyo. Tangan di atas semua tangan. Sang Kombes yang namanya selama tiga tahun tak boleh disebut keras-keras, yang seharusnya tidak pernah bisa dikaitkan dengan lubang busuk seperti ini, tapi malam ini berdiri di tengahnya, terekam, terdengar, tertangkap di tempat di mana ia tak pernah seharusnya ada.
"Dia di sini," kata Reksa. "Dia datang sendiri untuk memastikan transaksi 'besar' yang kami biarkan bocor. Seharusnya dia tidak pernah menyentuh gudang ini, tidak pernah meninggalkan kursinya yang bersih. Tapi dia tidak tahan untuk tidak datang melihat. Itu kelemahannya. Sama seperti Bhakim."
Tim mengepung sang Kombes. Dengan tangan terangkat dan wajah pucat seorang pejabat yang seumur hidupnya yakin tidak akan pernah disentuh, lelaki tua beruban itu menyerah, seorang perwira tinggi dari tingkat yang jauh di atas Polsek Garumi Timur, jauh di atas Bhakim, nama yang selama ini berdiri di balik tirai. Kamera Pram dan rekan-rekannya menyala, merekam tanpa henti, dan Reksa tahu, dengan kepastian yang membuat dadanya terasa ringan untuk pertama kali sejak bertahun-tahun, bahwa gambar ini sudah mengalir keluar, ke server di tiga kota, ke ruang redaksi yang tidak bisa lagi ditekan satu telepon, ke layar-layar yang akan menyala di seluruh negeri sebelum matahari naik penuh.
Tidak ada lobi yang bisa menghapus ini. Tidak ada amplop yang cukup tebal. Tidak ada operasi yang bisa "menguap" diam-diam. Jaring itu dirajut dalam gelap, dalam diam, di balik senyum dan sembako dan yayasan amal. Dan sekarang ia runtuh di bawah cahaya, di depan kamera, di tempat ia bermula, ditenggelamkan oleh suara yang dulu hanya berarti bahaya bagi Reksa, tapi pagi ini berarti sesuatu yang lain.
Sirene. Dari segala arah. Tengah kota maupun pelabuhan. Untuk sekali ini, datang ke pihak yang benar.