Semuanya pecah sekaligus.
Toni berlari ke arah pintu samping, kakinya berderap di semen. Salah satu pengawal Bhakim berteriak sesuatu yang tenggelam dalam gema. Bhakim menarik pistol dari balik jaketnya, tapi bukan ke arah pintu, bukan ke arah sirene yang mendekat. Ke arah Sari. Ke arah satu-satunya saksi hidup yang berdiri terikat di bawah lampu, yang tahu terlalu banyak, yang sudah dua kali ia kira ia kuasai dan dua kali keliru.
Reksa bergerak sebelum ia sempat berpikir. Bukan ke arah perlindungan. Ke arah Sari. Ia menubruk perempuan itu, menjatuhkan mereka berdua ke balik tumpukan peti kayu, persis ketika letusan pertama memekakkan ruangan dan serpihan kayu beterbangan di atas kepala mereka.
"Tetap di bawah!" teriak Reksa, menarik pisau lipat dari sakunya, memotong tali di pergelangan tangan Sari dengan dua sentakan cepat.
Sari menggosok pergelangannya, lalu langsung merunduk ke samping, gerakan dua belas tahun naluri. "Senjatamu?"
"Di sini." Reksa menarik pistol dinasnya, yang seharusnya sudah ia kembalikan saat statusnya dinyatakan buron, yang ia simpan justru karena malam-malam seperti ini. Tangannya dingin tapi mantap.
Di luar, sirene tidak lagi samar. Lampu merah dan biru menyapu jendela pecah, memantul di dinding gudang seperti darah dan memar bergantian. Suara megafon menggelegar: "Ini Tim Khusus. Gudang dikepung. Letakkan senjata. Keluar dengan tangan di atas kepala."
Bukan suara dari Polsek Garumi Timur. Reksa mengenali itu seketika. Suara dari luar. Penyidik Mabes yang dibawa Pram, tim yang sudah disaring berbulan-bulan, satu per satu, sampai tersisa hanya yang tidak makan dari tangan Bhakim.
Tembakan menyalak dari sisi Toni dan anak buahnya, balasan dari arah pintu. Salah satu pengawal Bhakim meringkuk di balik sebuah drum besi, pistol di tangan, tapi ia tidak lagi menembak ke arah pintu. Ia menatap Bhakim, lalu menatap cahaya merah-biru yang membanjir di luar, dan untuk sesaat wajahnya memantulkan sesuatu yang nyaris seperti perhitungan terakhir seorang lelaki yang sadar perahu sudah karam.
Di mulut gudang, Sudibyo mundur dua langkah, sepatu mahalnya terseret di semen, wajahnya yang tadi penuh kuasa kini pucat oleh kesadaran terlambat bahwa ia telah berjalan dengan kaki sendiri ke dalam jaring. Ia berbalik ke arah mobilnya, tapi cahaya lampu merah-biru sudah membanjir di luar, dan bayangan-bayangan berseragam sudah menutup jalan keluar itu. Tak ada lagi tepi untuk tempatnya menonton. Untuk pertama kali, tangan di atas semua tangan itu terjebak di dalam ruangan yang sama dengan kotoran yang selama ini ia perintahkan dari kejauhan.
Bhakim bergerak menyamping, mencari sudut, mencari Sari lagi. Otaknya, bahkan di tengah kekacauan, tetap bekerja pada satu hal: menghapus saksi. Ia melangkah keluar dari balik kontainer, mengangkat pistol ke arah peti kayu tempat Reksa dan Sari berlindung.
Reksa berdiri dari balik peti.
Mereka saling berhadapan, sepuluh langkah, masing-masing dengan pistol terangkat. Persis seperti di gang sempit malam pertama itu, hanya saja kali ini Reksa tahu siapa yang berdiri di depannya, tahu apa yang sudah dilakukan tangan itu, tahu nama-nama yang ditelannya, Hendarta, Lendra, Dimas, dan entah berapa lagi yang tidak pernah punya berkas.
"Tarik pelatuknya," kata Bhakim, napasnya memburu, senyumnya kembali, senyum orang yang tidak punya apa-apa lagi untuk hilang. "Ayo. Kamu sudah pernah, kan? Hari pertamamu. Kami yang menaruh jarimu di sana waktu itu. Sekarang lakukan dengan tanganmu sendiri. Jadilah seperti kami. Itu jauh lebih mudah daripada yang kamu kira."
Jari Reksa menegang di pelatuk. Untuk satu detik yang panjang dan hitam, ia merasakan tarikan itu, beban tiga tahun, beban setiap orang yang mati, beban wajah Sari yang lebam, semua menumpuk pada satu lengkungan logam kecil di bawah jari telunjuknya. Membunuh Bhakim sekarang, di sini, akan terasa seperti keadilan.
Tapi keadilan dari sebuah peluru, ia tahu, hanyalah dendam yang dirapikan. Ayahnya yang mengajarkan itu. Dan ia bukan tangan yang mereka tuntun. Tidak lagi. Tidak pernah lagi.
"Tidak," kata Reksa.
Ia tidak menembak ke dada Bhakim. Ia menembak ke tangan yang memegang pistol.
Letusan tunggal. Bhakim memekik, pistolnya berdentang jatuh ke semen dan tergelincir jauh ke dalam bayang. Komisaris itu jatuh berlutut, mencengkeram pergelangan tangannya yang berdarah, dan untuk pertama kali sejak Reksa mengenalnya, wajah itu tidak menyimpan senyum, tidak menyimpan perhitungan, hanya rasa sakit telanjang seorang manusia biasa.
Di belakang, suara pintu besar gudang jebol. Cahaya pagi menyembur masuk bersama bayangan-bayangan berseragam dan rompi gelap, bergerak cepat, terlatih, menyebar. Suara teriakan, "Polri! Tiarap! Tiarap!" memenuhi ruangan.
Reksa berlutut di samping Sari, pistolnya ia letakkan perlahan ke lantai, kedua tangannya ia angkat agar terlihat jelas oleh siapa pun yang masuk. Ia menatap Bhakim yang meringkuk, lalu menatap pintu yang kini banjir cahaya.
Fajar akhirnya datang ke gudang pelabuhan lama. Dan kali ini, ia datang bersama sirene.