Gudang pelabuhan lama itu dingin dan lembap seperti perut kapal karam. Reksa berdiri di tengah lantai semen yang retak, di bawah satu lampu sorot tunggal yang menggantung dari rangka atap, dan untuk pertama kali sejak hari pertamanya mengenakan seragam, ia tidak merasa kecil. Di tangannya, sebuah map cokelat. Map yang asli. Bukan umpan.
Komisaris Bhakim berdiri sepuluh langkah di depannya, di antara dua tumpukan kontainer karatan, mengenakan jaket gelap, bukan seragam. Senyum lebarnya masih di sana, tapi pagi ini senyum itu seperti retakan di porselen yang menahan air. Di sisinya, Toni bersandar pada sebuah peti kayu, lengan terlipat, rambut tetap rapi disisir ke belakang meski jam baru lewat lima subuh. Di belakang mereka, samar dalam bayang, dua pengawal Bhakim berdiri dengan tangan dekat pinggang. Dan paling jauh, di mulut gudang, lelaki tua beruban itu, Sudibyo, berdiri terpisah dari semuanya dengan sepatu mahalnya, tangan terlipat di belakang, raut tak sabar, sosok yang memilih menonton dari tepi alih-alih melangkah ke pusat cahaya.
"Kamu datang," kata Bhakim. "Saya hampir kecewa kalau kamu tidak datang. Mana buktinya?"
Reksa mengangkat map itu sedikit. "Mana Sari?"
Bhakim menjentikkan jari. Dari balik kontainer, seorang lelaki menyeret Sari ke dalam lingkaran cahaya. Tangannya masih terikat ke depan, wajahnya masih menyimpan lebam lama yang sudah menguning di pinggir, tapi matanya tajam dan sadar. Ia menatap Reksa, dan dalam tatapan itu Reksa membaca sesuatu yang tidak ia duga dari seseorang yang baru saja diseret keluar dari titik aman: bukan ketakutan. Ketenangan. Naluri dua belas tahun yang menolak panik bahkan ketika rencana berantakan, yang memilih membaca ruangan alih-alih gemetar.
"Letakkan map di lantai," kata Bhakim. "Dorong ke sini. Lalu kawanmu boleh berjalan ke arahmu. Sederhana. Saya orang yang menepati janji."
"Tidak," kata Reksa. Suaranya tidak gemetar. Ia sendiri sedikit terkejut betapa tidak gemetarnya. "Bukti ini tidak akan saya serahkan. Bukan karena saya tidak peduli pada Sari. Tapi karena map ini cuma satu lembar dari semua yang sudah saya kirim ke tempat yang tidak bisa kamu jangkau."
Senyum Bhakim tidak bergerak, tapi sesuatu di balik matanya bergerak. "Gertakan."
"Bukan gertakan." Reksa menurunkan map, menyimpannya kembali ke dalam jaket. "Rekaman Dimas, suara serah-terima uang dengan suaramu di dalamnya, sudah ada salinannya di tiga kota. Pembukuan ganda CV Bahari Jaya, daftar penerima setoran, sudah disalin dari brankas kalian sendiri. Aliran uang dari Bahari Jaya ke yayasan istrimu, lalu keluar lagi ke rekening pribadi, sudah ada di tangan penyidik yang tidak makan dari meja kamu. Kesaksian akuntan kalian sudah direkam dan ditandatangani. Dan amplop yang Goldra serahkan ke saya untuk membeli diam saya, nomor serinya sudah saya catat sejak hari pertama. Setiap rupiah. Goldra sendiri sudah bersaksi soal itu, di tempat yang tidak bisa kamu sentuh lagi."
Nama itu menggantung di udara gudang, dan untuk sesaat Bhakim diam, menyadari bahwa salah satu batu penyusun bentengnya sudah lama berpindah sisi. Itu yang membuat udara di gudang berubah.
Bhakim tertawa, tawa yang berusaha terdengar ringan. "Anak pintar. Tapi kamu lupa satu hal. Kamu di sini. Sendirian. Di tempat yang kami pilih. Apa pun yang sudah kamu kirim ke mana pun, tidak ada artinya kalau orang yang menyimpannya tidak hidup untuk bicara di pengadilan."
"Justru itu," kata Reksa pelan. "Kamu masih berpikir ini soal siapa yang hidup dan siapa yang mati di gudang ini. Padahal ini sudah lewat dari itu sejak kemarin malam." Ia membiarkan kalimatnya menggantung, seperti yang dulu Bhakim sering lakukan padanya. "Kamu tidak menggiring saya ke sini, Pak. Saya yang menggiring kamu. Kalian semua. Ke satu tempat, satu waktu, dengan satu transaksi yang sengaja saya biarkan bocor."
Untuk pertama kali sejak Reksa mengenalnya, senyum Bhakim hilang sepenuhnya.
Toni menegakkan badan dari peti kayu. "Apa maksudnya bocor?" Ia menoleh ke Bhakim, suaranya tajam. "Kamu bilang ini bersih. Kamu bilang kita ambil buktinya, beresin dua orang ini, selesai. Sekarang dia bilang sengaja bocor?"
"Diam, Toni," desis Bhakim.
"Jangan suruh saya diam." Bandar itu melangkah ke samping, matanya menyapu langit-langit gudang, jendela-jendela kaca yang pecah, pintu besar di ujung. Insting orang yang sudah lama bertahan hidup di pinggir. "Kita harus pergi. Sekarang."
"Tidak ada yang pergi," kata Bhakim, dan kali ini suaranya yang retak. Tangannya bergerak ke balik jaket.
Reksa melihat gerakan itu. Ia juga melihat sesuatu yang lain: di luar, di balik jendela pecah di sisi timur gudang, cahaya pertama fajar mulai menyusup, abu-abu, dan di dalam cahaya itu, bayangan-bayangan bergerak. Banyak. Diam. Menunggu satu sinyal.
Sari, di tengah lingkaran cahaya, menundukkan kepala sedikit. Bersiap. Tertangkap memang tidak pernah masuk hitungan mereka, tapi ia membaca bayangan-bayangan yang sama di balik jendela pecah, dan ia tahu apa yang akan datang. Apa yang mereka rancang berbulan-bulan di kamar kos pinjaman dengan suara berbisik sudah meleset di satu titik, tapi sisanya, tim, sirene, kepungan, masih berdiri. Sekarang lembar-lembar rencana yang nyaris robek itu harus menjadi semen dan besi dan napas yang menahan diri.
"Kamu tahu kenapa saya datang sendiri?" kata Reksa, tangannya tetap terlihat, tetap kosong. "Bukan karena saya bodoh. Tapi karena saya butuh kalian semua berkumpul di satu ruangan. Bhakim. Toni. Dan orang yang setiap akhir bulan menerima tas itu dari kamu, Toni, di atas Bhakim. Nama yang selama tiga tahun tidak ada yang berani sebut. Saya butuh kalian di sini, hari ini, supaya saat jaring ini runtuh, ia runtuh sekaligus, di tempat ia dulu dirajut."
Hening yang menyusul terasa seperti tarikan napas sebelum tenggelam.
Lalu, dari kejauhan, samar tapi pasti, menembus dinding seng dan suara ombak, terdengar bunyi yang sudah menjadi nadi kota ini sejak hari pertama Reksa.
Sirene.