Mereka mengubah cara kerja. Tidak ada lagi pengamatan langsung yang berisiko di pelabuhan. Sebagai gantinya, mereka menggali dari arah yang tak terduga: dokumen, uang, dan orang-orang kecil yang dilupakan.
Sari, dengan dua belas tahun pengalaman dan jaringan diam-diam, mengakses arsip keuangan satuan lewat seorang teman lama di bagian administrasi yang berutang budi padanya. Reksa, di sisi lain, fokus pada jejak digital: nomor-nomor telepon yang muncul berulang dalam laporan, plat mobil yang ia foto di pelabuhan, nama-nama perusahaan cangkang.
Pelan-pelan, gambar besar itu mulai terbentuk.
Plat mobil mewah yang dikendarai Toni terdaftar atas nama sebuah perusahaan ekspor-impor bernama CV Bahari Jaya. Perusahaan itu, di atas kertas, mengurus pengiriman hasil laut. Tapi Sari menemukan sesuatu yang menarik: CV Bahari Jaya secara rutin "menyumbang" ke sebuah yayasan amal yang dikelola, di balik beberapa lapis nama, oleh keluarga Komisaris Bhakim. Yayasan yang sama yang fotonya menghiasi koran setiap kali Bhakim membagikan sembako.
"Lihat ini," kata Sari, menunjuk angka-angka di layar laptop, di sebuah kamar kos kosong milik temannya yang mereka pinjam sebagai markas. "Uang masuk dari Bahari Jaya ke yayasan. Lalu dari yayasan, mengalir keluar lagi sebagai 'biaya operasional' ke beberapa rekening pribadi. Salah satunya, kalau kita telusuri, ujungnya istri Bhakim. Ini namanya pencucian. Mereka mencuci uang narkoba lewat yayasan amal."
Reksa menatap layar dengan campuran muak dan kagum atas kelicikan itu. "Jadi setiap kali Bhakim difoto membagikan sembako, sebenarnya dia sedang mencuci uang darah."
"Tepat. Dan itu jenius, dengan cara yang busuk. Siapa yang akan curiga pada dermawan?"
Tapi aliran uang saja, kata Sari, masih bisa dibantah. Mereka butuh penghubung manusia. Saksi. Seseorang yang bisa bersaksi bahwa Bhakim dan Toni bekerja sama, bukan sekadar dokumen yang bisa dipelintir pengacara.
Reksa teringat sesuatu. "Pengedar-pengedar kecil yang ditangkap lalu dilepas. Mereka pasti tahu sesuatu. Mereka kaki tangan Toni. Salah satu dari mereka pasti bisa bicara, kalau kita beri alasan yang cukup kuat. Atau perlindungan yang cukup meyakinkan."
Sari mengangguk perlahan. "Berbahaya. Tapi masuk akal. Ada satu nama. Dimas. Dia pengedar tingkat menengah, ditangkap dua kali, dilepas dua kali. Aku dengar belakangan dia ketakutan, mau keluar dari lingkaran Toni. Orang yang ketakutan dan mau keluar, itu pintu kita."
Selama sepuluh hari berikutnya, mereka bekerja seperti dua bayangan. Reksa menjalani tugas hariannya di kantor seolah-olah patah semangat, sengaja terlihat datar, tidak lagi bertanya-tanya, tidak lagi meminjam arsip. Ia ingin Bhakim dan Goldra percaya bahwa ancaman itu berhasil, bahwa anak muda itu sudah jinak. Ia bahkan, suatu hari, dengan berat hati menerima sebuah amplop kecil dari Goldra, "uang kerja sama", dan menyimpannya. Bukan untuk dipakai, tapi sebagai bukti. Setiap rupiah di amplop itu ia catat nomor serinya, ia foto, ia simpan tanggalnya. Mereka memberinya rantai; ia mengubahnya jadi tali jerat.
Di malam hari, ia dan Sari menyusun berkas. Satu map tebal yang terus tumbuh: aliran uang, dokumen perusahaan, foto pelabuhan, catatan operasi yang bocor, nomor seri uang suap. Mereka membuat tiga salinan. Satu disimpan Sari, satu disimpan Reksa, dan satu lagi, atas usul Sari, dititipkan di sebuah loker stasiun, kuncinya disembunyikan di tempat yang hanya mereka berdua tahu. "Asuransi," kata Sari. "Kalau sesuatu terjadi pada kita berdua, bukti ini harus tetap bisa ditemukan."
Reksa menyetujui ide loker itu di depan Sari. Tapi malam itu, sendirian, sebuah pikiran kecil yang ia benci terus menggerogotinya: bagaimana kalau, suatu hari, ia harus mempercayai seseorang lebih sedikit dari yang ia kira? Maka diam-diam, tanpa memberi tahu siapa pun, bahkan Sari, ia menyimpan satu salinan keempat di tempat yang sama sekali terpisah, dan ke dalam loker stasiun ia titipkan map yang isinya sengaja ia ganti dengan dokumen setengah jadi, samaran yang tampak meyakinkan dari kejauhan. Bukan karena ia mencurigai Sari. Hanya kebiasaan lama, naluri seorang anak pedagang yang pernah melihat ayahnya kehilangan segalanya karena terlalu percaya. Ia menepis rasa bersalah itu dan tidak pernah menyebutnya.
Reksa menatap map itu di bawah cahaya lampu kamar kos yang temaram. Ini sudah cukup untuk meruntuhkan banyak hal. Tapi belum cukup untuk Bhakim sendiri. Mereka butuh satu hal terakhir: kesaksian Dimas, yang akan menyambungkan semua titik menjadi satu garis lurus yang tak terbantahkan.
Mereka menjadwalkan pertemuan dengan Dimas. Tiga hari lagi. Di sebuah tempat yang netral dan sepi.
Reksa tidak tahu bahwa hitungan mundur menuju pengkhianatan sudah dimulai.