Pukul empat pagi, langit di atas pelabuhan lama masih hitam, dan udara berbau garam, karat, dan solar, bau yang sama yang Reksa hirup di malam pertama ia mengintai tempat ini, bertahun-tahun rasanya, padahal belum genap setahun. Gerimis turun tipis, jenis hujan yang tidak cukup deras untuk membasahi aspal sampai mengilap, tapi cukup untuk membuat segalanya terasa lembap dan kotor. Lingkaran yang menutup. Tempat semuanya bermula, tempat semuanya akan berakhir.
Reksa berdiri di balik tumpukan peti kemas karatan, jantungnya berdetak teratur, lebih teratur dari yang ia harapkan. Di sakunya, salinan bukti yang asli. Di telinganya, sebuah alat komunikasi kecil, terhubung ke Renjana yang berjaga bersama timnya di titik aman seratus meter jauhnya, di balik gardu listrik tua, dengan radio yang akan menggerakkan tim penyidik dan rombongan pers Pram begitu sinyal diberikan.
Jebakan sudah ditebar. Lewat asisten Pram yang berkhianat, mereka telah membocorkan, dengan hati-hati, sebuah cerita: bahwa malam ini, di gudang pelabuhan lama, akan ada serah terima besar, kiriman terbesar dalam setahun, terlalu berharga untuk dipercayakan ke bawahan, dan bahwa Toni, yang mereka kira masih bandar setia, akan hadir untuk menyaksikan langsung. Umpan yang dirancang untuk menarik bukan hanya Bhakim, tapi tangan yang di atasnya. Karena kiriman sebesar itu, uang sebanyak itu, adalah hal yang membuat seorang Kombes turun dari kursinya yang bersih untuk memastikan dengan matanya sendiri.
Lampu sebuah mobil membelah kegelapan di mulut jalan menuju gudang. Lalu mobil kedua. Lalu ketiga. Reksa menahan napas.
Pintu mobil pertama terbuka, dan Komisaris Bhakim turun, mengenakan jaket gelap alih-alih seragam, tapi langkahnya yang tenang dan penuh kuasa tak salah lagi. Di belakangnya, dua pengawal. Bhakim berjalan ke tengah gudang yang remang oleh satu lampu gantung, melihat ke sekeliling, dan untuk sesaat senyum lebar yang biasa menghiasi koran itu tersungging di wajahnya, senyum lelaki yang yakin ia sedang menjelang kemenangan, bukan kekalahan.
Lalu mobil ketiga, yang paling gelap, paling mahal, berhenti. Dan ketika pintunya terbuka, seorang lelaki turun, lebih tua dari Bhakim, dengan rambut beruban rapi dan postur orang yang terbiasa diberi hormat di setiap ruangan yang ia masuki. Reksa belum pernah melihatnya langsung, tapi ia tahu, dengan kepastian yang dingin di tulang punggungnya, siapa itu.
Sudibyo.
Nama yang tak boleh disebut. Tangan di atas semua tangan. Dan ia ada di sini, di gudang pelabuhan lama yang kotor ini, di tempat di mana ia seharusnya tidak pernah bisa dikaitkan, berdiri di antara peti kemas berkarat dengan sepatu mahalnya, datang dengan kaki sendiri ke dalam jaring yang sudah dirajut untuknya.
Reksa menempelkan jarinya ke alat komunikasi, tapi belum menekan. Belum. Renjana sudah memperingatkannya: mereka butuh bukti tertangkap basah, pengakuan, sesuatu yang tidak bisa dibantah, malam itu juga. Kehadiran saja tidak cukup. Bhakim bisa mengarang seribu alasan kenapa ia ada di pelabuhan. Sudibyo bisa berkata ia kebetulan lewat, sedang inspeksi, apa saja. Reksa harus menunggu mereka mengatakannya. Mengaku. Menyentuh barang. Menyebut angka.
"Mana barangnya?" suara Sudibyo terdengar, tajam dan dingin, memecah keheningan gudang. "Aku tidak datang ke lubang busuk ini untuk berdiri menunggu."
"Sebentar lagi, Pak," kata Bhakim, dan untuk pertama kali Reksa mendengar nada itu dalam suara sang komisaris, nada seorang bawahan, nada takut yang sopan. "Toni yang mengatur. Dia bilang barangnya datang lewat laut, langsung dari kapal, jam empat lewat."
Reksa, di balik peti kemas, merasakan jantungnya berdebar. Mereka percaya. Mereka menunggu kiriman yang tidak akan pernah datang. Setiap detik mereka menunggu adalah satu detik lebih banyak bagi tim Renjana untuk mendekat, mengepung, menutup setiap jalan keluar dari labirin kontainer ini.
Lalu, di kegelapan di belakangnya, sebuah suara berbisik di telinganya lewat alat komunikasi, suara Renjana dari titik aman, tegang.
"Reksa. Ada masalah. Ada satu mobil lagi, datang dari arah lain, tidak lewat jalan utama. Mereka membawa seseorang. Terikat." Renjana menelan ludah, dan suara berikutnya membuat darah Reksa membeku. "Mereka tahu kita di sini. Mereka tidak datang hanya untuk barang. Mereka datang membawa umpan. Mereka menjangkau titik aman lebih cepat dari kita, dan mereka menangkap Sari. Mereka membawanya masuk ke dalam."
Reksa menutup matanya sesaat. Pengkhianatan terakhir punya kedalaman yang belum ia ukur. Mereka tidak sekadar mendengar lewat asisten Pram; mereka telah bergerak lebih jauh, lebih cepat, menjangkau bahkan ke titik yang Reksa kira paling aman, dan menyeret keluar satu-satunya orang yang berjaga di sana. Bhakim berkata, bertahun-tahun lalu, kita lihat seberapa lama itu bertahan. Dan kini, di fajar yang sama tempat ia dulu menarik pelatuk untuk pertama kalinya, Reksa berdiri di tepi keputusan terbesar dalam hidupnya, dengan bukti di satu tangan, nyawa orang yang ia percaya di tangan lain, dan jaring yang ia rajut sendiri kini terbentang antara dirinya dan setiap musuh yang pernah ia kenal, semua berkumpul di satu tempat, di satu waktu, untuk satu fajar terakhir.
Ia membuka matanya. Di kejauhan, sirene kota yang jauh berkedip merah dan biru di cakrawala, memantul di genangan air. Tapi belum waktunya. Belum.
Reksa menarik napas dalam-dalam, dan mulai bergerak, rendah, di antara bayangan peti kemas, menuju jantung gudang tempat para musuhnya berkumpul, dan tempat segalanya, akhirnya, akan diputuskan.