Sore itu, sehari menjelang operasi, semuanya hampir runtuh.
Reksa sedang memeriksa daftar logistik bersama Renjana ketika ponsel Pram menyala di layar laptop, panggilan masuk mendadak, di luar jadwal yang sudah mereka sepakati. Wajah Pram muncul, dan begitu Reksa melihatnya, perutnya mengerut. Wajah itu pucat.
"Ada kebocoran," kata Pram tanpa basa-basi. "Salah satu kontak redaksiku menerima telepon. Bukan dari Garumi. Dari orang dalam, di Polda. Dia tahu ada sesuatu yang akan terjadi. Dia belum tahu di mana, belum tahu kapan persisnya. Tapi dia tahu ada operasi, dia tahu ada saksi mahkota, dan dia menyebut satu detail yang seharusnya tidak diketahui siapa pun di luar lingkaran kita."
Reksa berdiri kaku. "Detail apa?"
"Dia menyebut gudang pelabuhan."
Ruangan itu membeku. Sari, yang sedang melipat dokumen, berhenti dengan tangan menggantung di udara. Renjana melepas kacamatanya perlahan, wajahnya mengeras.
"Tidak mungkin," kata Sari pelan. "Hanya lima orang yang tahu soal gudang. Aku, Reksa, Renjana, Pram, dan Toni. Toni di bawah perlindungan, diawasi dua puluh empat jam, tidak punya akses ke siapa pun."
"Maka ada mata-mata," kata Renjana, suaranya datar dan dingin, suara seorang penyidik yang sudah terlalu sering melihat hal seperti ini. "Di antara kita. Seseorang di lingkaran ini memberitahu mereka."
Hening yang menyusul terasa seperti racun. Reksa menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Sari, yang sudah membayar penebusannya dengan darah dan rahasia. Renjana, yang dibawa Pram dari Mabes, yang ia kenal hanya beberapa minggu. Dan Pram di layar, kakak tingkat yang ia percaya sejak hari kelulusan, satu orang di luar yang katanya tidak bisa dijangkau Bhakim. Goldra tahu nama Sudibyo, ya, tapi Goldra ada di tempat perlindungan, diawasi, tak pernah diberi tahu satu detail pun soal gudang. Bukan dia. Tak mungkin dia.
Keraguan, sekali ditanam, tumbuh seperti racun. Reksa mengenal perasaan ini. Bhakim pernah menanamnya di dadanya soal Sari, dulu, dan ia nyaris kehilangan segalanya karena ragu pada orang yang salah. Ia tidak akan mengulanginya. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan kebenaran dingin: seseorang telah bicara.
"Lima orang," kata Reksa pelan, dan semua mata berpaling padanya. "Cuma lima orang yang tahu soal gudang. Goldra tidak termasuk; dia tidak pernah kita beri tahu detail operasi, dan dia di perlindungan. Jadi dari lima ini, ada satu yang membocorkannya."
"Hati-hati menuduh," potong Renjana, suaranya tetap datar. "Kalau salah, kamu meretakkan satu-satunya lingkaran yang masih kamu punya, persis seperti yang mereka mau. Pikirkan dulu siapa yang benar-benar bisa menyentuh Polda."
Itu benar. Reksa berusaha berpikir jernih melawan denyut panik di pelipisnya. Siapa yang tahu detail spesifik tentang gudang pelabuhan, tentang saksi mahkota, tentang waktu? Lima orang. Dan dari lima itu, satu telah, sengaja atau tidak, membiarkan informasinya bocor ke Polda.
Ia menatap layar. "Pram. Kontak redaksimu yang menerima telepon itu. Bagaimana orang di Polda tahu menghubungi redaksi itu? Itu salah satu dari tiga media yang kamu pilih sendiri. Daftar itu hanya ada padamu."
Pram terdiam. Di layar, wajahnya berubah, dan untuk sesaat Reksa merasakan jantungnya jatuh ke perut, karena ia mengira, ia takut, bahwa kartu terakhirnya, satu orang di luar yang ia percaya bertahun-tahun, akan runtuh di hadapannya.
Lalu Pram berkata, pelan, "Bukan aku, Reksa. Tapi kamu benar soal daftarnya. Hanya aku yang punya. Dan aku menyimpannya di satu tempat. Asistenku tahu, satu orang, yang membantuku mengatur kontak redaksi." Wajahnya memucat lebih jauh. "Astaga. Dia baru bergabung tiga bulan lalu. Dari sebuah yayasan pers yang, sekarang aku ingat, didanai oleh sebuah perusahaan ekspor-impor."
CV Bahari Jaya. Reksa menutup matanya. Mereka tidak menyusupkan mata-mata ke lingkaran Reksa. Mereka menyusupkannya ke lingkaran Pram, jauh sebelum semua ini dimulai, ke satu tempat yang dianggap paling aman, paling di luar jangkauan, justru karena di situlah Reksa menaruh seluruh kepercayaannya.
"Mereka selalu mengawasi," kata Reksa pelan, hampir kepada dirinya sendiri. Selama ini ia mengira musuhnya mengawasi dari dalam kantor, lewat CCTV dan sadapan dan pelapor berseragam. Ia tidak pernah membayangkan mereka menanam mata di tempat yang ia kira paling bersih.
"Aku akan memutus aksesnya sekarang," kata Pram, suaranya gemetar oleh marah dan rasa bersalah. "Aku akan beri dia daftar palsu. Lokasi palsu. Waktu palsu."
"Jangan," kata Reksa cepat. Pikirannya berputar, dan di tengah kepanikan, sebuah kedinginan yang sudah ia kenal menyelinap masuk, kedinginan yang sama yang menyelamatkannya di malam loker stasiun. "Jangan putus aksesnya. Beri dia informasi. Tapi informasi yang kita pilih. Kalau mereka punya telinga di lingkaran kita, maka untuk sekali ini, kita yang memutuskan apa yang mereka dengar."
Ruangan itu hening. Renjana memandang Reksa dengan sesuatu yang mirip kekaguman gelap. Sari, perlahan, mulai mengerti, dan sudut bibirnya terangkat tipis.
"Kamu mau memberi mereka jebakan," kata Sari, "lewat pengkhianat mereka sendiri."
Reksa mengangguk. Pengkhianat terakhir telah terungkap, di ambang eksekusi, di saat yang paling buruk. Tapi seperti loker 114 dulu, seperti map umpan yang ia tanam ketika ia bahkan tidak tahu mengapa, kebocoran ini bisa diubah menjadi tali jerat. Mereka mengira mereka memegang mata di dalam rencananya. Mereka tidak tahu bahwa, mulai detik ini, mata itu hanya akan melihat apa yang Reksa ingin mereka lihat.
"Besok subuh," kata Reksa pelan, menatap fajar palsu di luar jendela yang sudah berubah menjadi senja. "Mari kita beri mereka pertunjukan."