Reksa terbangun sebelum subuh di hari sebelum operasi, dan menyadari ia tidak akan bisa tidur lagi. Ia bangkit dari tikar tipis di lantai kontrakan, melangkah ke dapur kecil, dan menjerang air. Di luar jendela, langit masih hitam, baru ada garis tipis kelabu di ufuk timur, di atas sawah yang berkabut.
Ia menyeduh kopi, hitam, pahit, seperti yang biasa diminum ayahnya dulu di pagi-pagi sebelum membuka toko. Ia membawa cangkirnya ke ruang tengah, duduk di lantai dekat meja lipat tempat seluruh kasus mereka tersusun, dan untuk waktu yang lama ia hanya duduk, menatap fajar yang perlahan datang.
Hari ini, atau besok subuh, semuanya akan berakhir. Dengan satu atau lain cara.
Reksa mengeluarkan secarik kertas dan sebatang pulpen. Tangannya, yang biasanya tenang, sedikit bergetar, dan ia membiarkannya. Ia mulai menulis. Bukan surat wasiat, bukan, ia menolak menyebutnya begitu. Sebuah peta. Lokasi salinan asli yang ia simpan sendiri, instruksi cara membukanya, kepada siapa harus diserahkan jika ia tidak kembali. Ia menulisnya dengan jelas, sederhana, sehingga seorang anak pun bisa mengikutinya. Lalu ia melipatnya, dan menyimpannya untuk diberikan nanti pada satu orang yang tidak akan ikut ke pelabuhan.
Ketika itu selesai, ia mengizinkan dirinya, untuk pertama kali sejak berbulan-bulan, untuk mengingat.
Ia mengingat ayahnya. Lelaki kecil dengan punggung bungkuk dan tangan kasar, yang pernah dirampok di tokonya sendiri, yang melapor ke kantor polisi dan disuruh pulang, yang menunggu keadilan yang tidak pernah datang. Ayah yang, alih-alih membuat anaknya benci pada seragam, justru berkata: maka jadilah polisi yang dulu kita harapkan datang menolong. Reksa menutup matanya. Aku berusaha, Pak, ucapnya dalam hati. Aku masih berusaha.
Ia mengingat Hendarta. Wajah lelaki muda itu di selokan, darah bercampur hujan, bibir yang bergerak mengucapkan peringatan terakhir. Mereka ada di dalam. Di kantor kalian sendiri. Reksa pernah membenci dirinya karena tangan itu, tangan yang menarik pelatuk. Sekarang ia tahu kebenarannya, bahwa ia dipakai, bahwa tembakan itu bukan benar-benar miliknya. Tapi itu tidak mengembalikan Hendarta. Tidak ada yang bisa. Yang bisa ia lakukan hanyalah memastikan Hendarta bukan sekadar statistik di laporan tahunan yang tak pernah dibaca siapa pun.
Ia mengingat Lendra, yang tak pernah ia temui, yang mobilnya tidur di dasar sungai selama tiga tahun, yang menggali persis seperti yang Reksa gali, dan dibungkam sebelum sempat bersuara. Ia mengingat Dimas, lelaki kurus bermata cekung yang hanya ingin keluar, yang menyimpan rekaman karena ia tahu suatu hari ia butuh tameng, dan yang mati sebelum tameng itu sempat melindunginya.
Begitu banyak orang. Begitu banyak nama yang ditelan kota ini, ditelan sungai, ditelan diam. Reksa membuka matanya, dan fajar sudah lebih terang sekarang, menyentuh atap-atap seng di kejauhan dengan warna tembaga.
"Kamu tidak tidur," kata sebuah suara.
Reksa menoleh. Sari berdiri di ambang pintu kamar, rambutnya tergerai, wajahnya masih dipenuhi sisa kantuk dan kekhawatiran yang sama yang ada di wajah Reksa.
"Tidak bisa," kata Reksa. Ia menggeser, membuat ruang di lantai di sampingnya. Sari duduk, menyandar ke dinding, menatap fajar yang sama.
"Aku terus berpikir," kata Sari pelan, setelah hening sejenak, "kalau saja aku berani melangkah waktu Lendra masih hidup. Tiga tahun yang lalu. Mungkin semua ini tidak perlu terjadi. Mungkin Dimas masih hidup. Mungkin Hendarta tidak pernah di gang itu."
"Kamu tidak bisa membawa beban itu," kata Reksa. "Kalau kamu tarik benang ke belakang, semua orang punya momen di mana mereka bisa berbuat berbeda. Yang penting bukan momen yang lewat. Yang penting momen ini. Kamu di sini sekarang. Itu yang dihitung."
Sari menoleh padanya, dan untuk sesaat matanya basah, lalu ia mengangguk, dan mengusapnya dengan punggung tangan. "Sejak kapan anak baru jadi sebijak ini," katanya, mencoba tertawa.
"Sejak kota ini berhenti membiarkanku jadi muda," kata Reksa.
Mereka duduk diam, dua orang yang lelah, menatap matahari yang akhirnya naik penuh di atas Garumi, kota yang lembap dan kotor dan abu-abu, kota yang telah merenggut begitu banyak, dan yang besok subuh, untuk pertama kalinya, mungkin akan dipaksa mengembalikan sebagian. Reksa menghabiskan kopinya yang sudah dingin. Pahit, seperti milik ayahnya. Ia merasa siap. Bukan tidak takut. Hanya siap.